Kadang aku tergelitik untuk bertanya, pernahkah pohon rindang itu merasa lelah?

Lelah karena selalu menjadi tempat bersandar dan tempat berteduh bagi banyak pihak lain.

Jika jawabannya iya, pernah, atau bahkan sering lalu kemanakah pohon harus berlindung dan berteduh?

Teman baruku tiba2 tersenyum simpul mendengar kicauanku barusan.

Aku menoleh dan menatapnya tak kalah tajam dari tatapan elang untuk pelikan, yang adalah mangsa favoritnya.

“Aku tak tahu”, jawabnya datar. “Mungkin bisa hujan, mungkin bisa matahari, mungkin juga bisa angin atau mungkin juga bisa tanah.” Ujarnya tenang.

“Tempat berlindung itu tak melulu harus berada diatas. Ia bisa saja ada di sekeliling, ada dibawah dan juga ada di dalam.”

“Di dalam?” Tanyaku keheranan. “Apa yang sedang kau bicarakan?”

“Apa kau lupa bahwa setiap pohon memiliki sistem dapur hebatnya sendiri-sendiri yang dinamakan oleh peneliti sebagai fotosintesis. Ia begitu hebat karena menyerap racun (karbon dioksida) menjadi sebuah zat yang begitu dibutuhkan makhluk hidup selain dirinya. Jika untuk itu saja ia mau berbagi apalagi hanya sekedar tempat berteduh.” Ujarnya sambil menyeruput teh hangatnya.

“Setiap pohon memiliki kemampuan yang bertahap untuk menyusun kemampuan sistemik dalam dirinya. Tidak tiba2 langsung hebat. Dan yang perlu kau catat ia tidak pernah sendirian. Meski teman-temannya tak pernah selalu bersamanya, namun Tuhan sudah mengatur batas kebutuhannya. Kapan hujan turun, kapan matahari menyapanya, kapan angin membelainya dan kapan bintang menemaninua dari kejauhan. Yang selalu bersamanya kemungkinan hanya tanah. Tanah, yang meski ia diam namun kasih sayangnya luar biasa. Jika pohon saja kau resahi tentang pernah atau tidaknya ia lelah lalu bagaimana dengan tanah? Yang selalu dan selalu menjadi wadah injakan bagi setiap makhluk hidup yang ada di bumi.

Aku terdiam.

Temukan dan fokuslah pada tujuan penciptaanmu di dunia. Tak usah kau risaukan yang bukan menjadi bagianmu. Bertanya silahkan, hanya jika selalu mempertanyakan aku rasa tak perlu dilakukan.

Kau tidak pernah tahu apa rencana Tuhan dibalik penciptaanmu di dunia.

(2) Comments

  • Lolyta July 26, 2017 @ 9:45 am

    Dyana R..
    Wanita cerdik nan memukau..
    Tp tk semua insan mampu tk mengelupas ke elokannya…

    • Dyana Razaly July 26, 2017 @ 4:56 pm

      Aduuuhh maakkk.. Alhamdulillah.. hahahahaha jadi malu aku bacanya. Terima kasih *muka pink*

Leave a Reply to Lolyta Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#DialektikaRasa : Tanya.
%d bloggers like this: