Terhitung sejak mama saya meninggal (April 2014) lalu menyusul papa saya (Desember 2016) saya adalah seorang melankolis akut.

Menghabiskan waktu hanya dengan mendayu dan mendramatisir perasaan yang kian hari kian tak jelas dan semakin limbung.

Entah kebodohan permanen atau masih dalam proses pembelajaran, memang cukup tipis perbedaannya.

Sehingga dengan hal ini saya ucapkan suksma (terima kasih) atas kehadiran jatidiri asli saya saat kecil.

Tapi kamu mau bagaimana pun adalah masa lalu saya. Yang meski kelam, tapi (dengan izin Tuhan) tetap saya kasihi.

Menerimamu dalam singgah cukup lama  (5 tahun) menyadarkan saya, bahwa, persepsimu mengenai saya yang tak akan pernah berhasil, mungkin terjadi, hanya jika saya mempertahakan diri untuk tetap bersamamu. Karena banyak belenggu ketakutan dan kekhawatiran (tak terbukti) yang justeru menjadikan semua menjauh dari diri saya. Contoh sederhana saja, keceriaan dan semangat kerja keras saya yang semakin hari semakin surut dan perlahan menghilang dari diri saya, sejak saya menerima ‘kamu’ kembali di hidup saya.

Kini, saya merasa punya otoritas untuk meminta kamu kembali. Masa kabut dan limbung ini harus segera diusaikan, karena sejatinya sayalah yang  punya kontrol diri penuh atas diri saya sendiri, bukan kamu, yang hanyalah tamu.

Matur Suksma untuk kehadirannya. Saya tak akan pernah lagi membencimu, karena kini saya sudah lebih baik dalam menerima apa yang sudah sepatutnya terjadi.

(1) Comment

  • Lolyta August 1, 2019 @ 11:35 pm

    Saya sangat suka di episode ini….
    Terima kasih sudah menginspirasi..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Suksma atas kehadirannya
%d bloggers like this: