tadi pagi aku bangun agak lebih pagi dari biasanya. entah karena apa. lalu setelah ikon airplane aku matikan, aku pun menerima beberapa pesan. satu diantaranya dari suami dan satu lagi dari kakak kedua.

usai membalas chat suami yang tidak boleh dinomor sekiankan (sesuai kesepakatan kami), aku pun membuka chat dari kakak kedua. isinya “bla bla bla.. makasih banyak ya Dyana..”

sederhana sekali, tapi bukan itu poinnya. poinnya adalah seusai aku membaca kalimat tersebut, tiba-tiba saja di telingaku seperti ada yang berkata

“tuh, kan, kebukti. papa gak salah udah pilih percaya sama Dyana.”

sontak air mataku mengalir. tiba-tiba seperti ada hantaran energi entah darimana yang menghapus kantuk dimataku. menyegarkan badanku. dan menyingkirkan pikiran destruktifku beberapa hari belakangan ini. padahal hanya ada aku sendiri dikamar.

pa, andaikan itu tadi beneran jiwa papa yang bicara..

terimakasih banyak juga ya pa.. sudah percaya.

aku masih berusaha terus menerus mengusap tangisku. tangis lelah karena terlalu sering difitnah, tangis lelah karena seringkali mencoba memahami pada hati yang juga merasa tersakiti. dan kini tangisanku pecah hingga sulit berhenti ketika aku seperti merasa papaku yang mengatakannya sendiri.

kejadian “seperti ada yang berbicara di telinga” ini terjadi tak hanya sekali. beberapa kali di kejadian penting dalam hidupku, hal ini aku alami

yang pertama saat aku 17 tahun, saat tengah menandatangi berkas pendaftaran haji. seolah ada yang berkata

“nanti lo bakal pergi haji sendiri”

kemudiannya hal itu terbukti. karena saat haji, aku memang pergi sendiri. rencana untuk pergi bersama orang tua hanya tinggal rencana karena mereka meninggal dunia.

yang kedua, saat tanteku meninggal. tepat disaat jenazah tante tengah ingin dibaringkan di ruang tamu utama untuk dibacakan ayat-ayat suci, disaat itu juga aku mendengar

“taun depan, giliran emak lo yang begini”

dan benar saja. tahun depan mama ku meninggal.

yang ketiga saat di hutan belantara Argopuro. saat hati masih amat sangat sulit menerima laki2 yang dengan tulus membantuku berjalan dan terus menerus membujukku untuk kuat melangkah. seolah di telinga ada yang berkata

“orang ini yang selama ini lo cari”

tiga tahun berselang laki-laki tersebut benar menjadi suami dan teman hidupku.

.

aku tak tahu yang tadi itu suara apa. suara intuisikah, batinkah, khodamkah, aku tak tahu. bahkan tak ingin tahu.

yang menjadi fokusku hanyalah semoga aku berjalan di tempat benar dan terbaik hingga bisa meringankan hidupku.

itu saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: