Episode 1 : Perkenalan Kelas (Etika Bisnis)

Hari ini adalah hari senin, hari awal ajaran semester genap di sebuah perguruan tinggi swasta yang berlokasi di jantung Ibukota. Jam menunjukkan pukul 07.49 pagi. Di beberapa bagian wilayah kampus, sudah cukup ramai oleh kelompok-kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang tengah asik berbincang sambil seringkali terdengar gelak tawa dan caci maki bercandaan khas mahasiswa.

Salah satu tempat di area kampus yang menjadi spot paling favorit bagi seantero mahasiswa komunikasi dan karyawan kantor swasta sekitar  adalah sebuah taman kota yang dipenuhi pepohonan rindang dan rerumputan. Apalagi disekitarnya banyak diisi oleh pedagang aneka ragam makanan dan minuman yang terlihat begitu menggiurkan selera.

Beberapa sebaran mahasiswa terlihat tengah asik berbincang dengan kelompoknya masing-masing, ada yang bercengkrama santai sambil ditemani rokok dan kopi, ada yang sedang sarapan sambil berbincang seru seputar pertandingan sepak bola semalam dan bahkan tak sedikit yang pula yang sibuk menyendiri dengan segelas es teh sambil menonton video-video lucu dari laman media sosialnya.

Sementara itu, di dalam pelataran kampus, suasana pun tak jauh berbeda. Semua asik dengan perbincangan dan ponselnya yang tentunya amat sangat beragam menyediakan informasi dan hiburan bagi generasi jaman sekarang. Namun beberapa saat kemudian dari sudut yang berlawanan dengan kelompok-kelompok mahasiswa yang tengah sibuk bergumul, terlihat seorang wanita berperawakan langsing dengan tinggi badan khas wanita Asia yang sekitar 160 cm tengah berjalan dengan pijakan yakin. Ia berjalan sambil menggendong tas ransel berwarna coklat di punggungnya dan  tumbler kopi hitam di tangan kanannya. Ia berjalan sambil beberapa kali menyapa sambil merunduk ke arah bapak satpam dan petugas kebersihan yang dilewatinya dengan nada suara dan air wajah yang ramah.

Untuk beberapa saat ia seolah menyita perhatian banyak mahasiswa dan mahasiswi yang tengah menyadari kehadirannya. Dengan pemilihan gaya pakaian yang seolah tak biasa dilihat oleh mereka. Wanita tersebut mengenakan atasan baju kebaya encim berbahan satin sutra berwarna maroon, celana kulot hitam legam agak longgar, dan ia pun menambahkan selendang kerudung hitam berbahan maxmara untuk menutupi rambut yang bersanggul dikepalanya. Ia seolah layak mendapat perhatian karena telah dengan elegan memadukan pakaian tradisional khas Jakarta dengan gaya modern yang santun namun tetap terlihat santai dan edgy.

Usai melirik jam digital berwarna hitam di pergelangan tangan kirinya dan memastikan nomor ruangan yang tertera jelas di kepala pintu adalah bukan yang ia hendak tuju, ia pun melewati kerumunan mahasiswa yang sedang duduk berbincang di tengah tangga. Dengan tanpa berpegangan pada besi yang tersedia ia pun telah melewati tiga lantai dengan sepatu sneakers putih-nya yang cukup bersih.

Nama wanita tersebut adalah Carina. Seorang praktisi wirausaha muda sekaligus dosen tamu (dosen tidak tetap) untuk mata kuliah Etika Bisnis di kampus yang dulunya adalah tempat ia berkuliah hingga lulus sarjana strata satu.

Usai menemukan ruangan yang ia tuju, ruang 426, Carina lalu mengetuk daun pintu hingga mendapat jawaban suara “masuk” dari pihak dalam ruangan. Kemudian ia memasukinya dengan senyuman ramah.

Di Ruang 426

“Halo, selamat pagi” Sapa Carina dengan senyuman khasnya sambil berjalan memasuki ruangan kelas menuju meja dosen yang telah menantinya..

“Pagi…” Jawab hadirin mahasiswa dengan serentak dengan berbagai ekspresi wajah.

Carina meletakkan tasnya di kursi dan tumbler hitamnya di meja. Ia lalu menatap satu persatu mahasiswa yang ada di dalam ruangan tersebut.

“Perkenalkan. Nama saya Carina. Saya disini diminta Pak Subidagdono, Ketua Fakultas Komunikasi, untuk berbagi pemahaman saya seputar dunia komunikasi dan bisnis, di kampus ini.” Terang Carina sambil berdiri di hadapan mahasiswa-mahasiswinya.

“Halo Bu Carina..” Sapa mahasiswa & mahasiswi yang tak kalah ramah.

“Kirain mahasiswa juga bu..” Ujar salah satu mahasiswa yang duduk persis di samping yang sedang sibuk bermain game online.

“Terima kasih. Tapi nampaknya saya tidak semuda itu. He he he. ” Sahut Carina dengan iringan senyum tipis.

“Ah ibu, bisa aja..” Sahutnya lagi, seolah sedang mengusahakan proses SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) pada dosennya.

Carina pun mengambil lembar absen yang telah tersedia di meja dosen. “Kelas ini harusnya rame ya, ada sekitar dua puluh nama disini. Tapi kenapa yang dateng cuma… sebelas orang?” Tanya Carina heran.

“Paling pada telat bu.” jawab seorang mahasiswi berkerudung coklat yang duduk tak jauh di posisi tempat Carina berdiri.

“Oh gitu. Oke.. berapa banyak biasanya yang suka telat-telat itu?”

“Wah, gak tau juga bu..”

Carina pun mengangguk pelan.

“Oke.. sambil menunggu teman kalian yang mungkin masih di perjalanan. Saya boleh minta kalian memperkenalkan diri dulu ya?”

“Iya bu..”

“Di selembar kertas..” lanjut Carina

“Yaah.. gak bawa kertas lagi..”

“Yah, bawanya laptop bu..”

“Oke.. saya bawa kok. Berapa orang gak bawa kertas?”

Semua mahasiswa dan mahasiswi mengacungkan tangan.

“Pulpen gak bawa juga?”

“Enggak bu..”

“Bawa sih bu kalo pulpen..”

“Spidol gak apa-apa bu?”

“Apa-apa dong. Soalnya saya perlunya kalian nulis pakai pulpen di atas selembar kertas. Oke, sebentar. Saya ambilkan dulu kertas dan pulpennya.” Ujar Carina sambil membalik posisi tas lalu mulai membongkar isi ranselnya.

“Wih ibu anak Fjallraven banget nih. Kelaass…” Goda salah seorang mahasiswa dengan nada suara bariton.

Carina hanya merespon dengan senyum kecil sambil memberikan satu bundle kertas dan satu box pulpen kepada salah seorang mahasiswi di dekat mejanya.

Sejenak Carina memperhatikan seseorang. Seseorang yang sejak awal kehadirannya di kelas tak pernah sedikit pun mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Carina kembali duduk di kursi dosen sambil memerhatikan mahasiswa ‘sibuk’ tersebut. Setelah meneguk kopi hangat dari tumbler hitamnya, Carina tengah mengatur alur masuk dan keluar nafasnya dengan perlahan.

“Sebelum kita mulai, mari kita saling meminta bantuan Tuhan supaya kelas kita hari ini diberikan rahmat pemahaman oleh Tuhan dan semoga pertemuan kita hari ini punya manfaat untuk masing-masing dari kita. Berdoa, dimulai.” Pimpin Carina sambil menunduk.

Selang dua menit berselang. “Berdoa, selesai.” Pimpin Carina lagi sambil kembali menatap satu per satu mata dan wajah mahasiswanya. Hanya saja mata Carina terhenti pada mahasiswa ‘sibuk’ tadi. Ia masih terlihat begitu ‘sibuk dengan urusannya sendiri, tanpa peduli dengan kegiatan apa yang berlangsung di ruangan ini.

“Sepertinya ada yang sedang sibuk sekali pagi ini..” Ucap Carina tenang sambil menatap lurus ke arah mahasiswa ‘sibuk’ tersebut.

Sepuluh pasang mata mahasiswa di ruangan tersebut pun langsung saling pandang hingga menoleh dengan kompak ke salah seorang mahasiswa yang sedang dimaksud Carina.

Ketika menyadari dirinya tengah menjadi pusat perhatian di kelas, termasuk dosennya, mahasiswa itu pun langsung membalikkan ponselnya dan bertingkah seolah ia tidak melakukan kesalahan apapun.

Carina tersenyum sambil menatap dengan dalam. “Siapa namamu?”

“Saya bu? Danial, bu.” Jawab mahasiswa sibuk itu dengan wajah agak tegang karena tatapan mata Carina yang lurus terhadapnya.

Carina pun langsung mengecek pada lembar absen yang ada di hadapannya. “Danial Hendrick Saputra??”

“Iya bu..”

“Danial.. Sejak datang, saya perhatikan, kamu nampaknya sibuk sekali. Sedang apa?”

“Enggak ada bu..” Kilah Danial.

“Oh gitu,, Gak ada ya..”

Danial pun menyentuh hidung dan membasahi bibirnya dengan cepat.

“Danial.. Saya gak mau lho, kamu kalah dari pertandingan online seru-mu itu. Jadi saya persilahkan kamu memenangkannya.. di luar.” Ujar Carina dengan senyuman tipis sambil menatap Danial semakin dalam.

Hampir semua mahasiswa dan mahasiswi di ruangan itu langsung dibuat kaget oleh permintaan dosen yang baru saja mereka kenal ini. Dosen yang nampak ramah dari tampilan luar namun pelan-pelan memancarkan aura mistis yang semakin jelas terasa.

“Jangan bu..”

“Jangan apa?”

“Jangan usir saya keluar, bu”

“Siapa yang ngusir? Saya mempersilahkan kamu menang kok..”

“Saya mau kuliah bu?”

“Kuliah apa?”

Danial pun melirik teman di sampingnya.

“Kuliah apa memang kita hari ini?” Tanya Carina.

Wajah Danial pun mulai nampak pucat pasi.

“Komunikasi Bisnis, bu..”

“Itukah mata kuliah kita hari ini?”

Dani menelan ludahnya sambil mengangguk. “Iya bu.”

“Oh gitu…” Sahut Carina. “Nama saya siapa?” Tanya Carina lagi.

Danial pun menggigit bibir bawahnya sambil melirik ke temannya yang lain.

“Danial.. “ Panggil Carina lembut.

“Ya bu..”

“Saya minta maaf ya, kalau kuliah saya mengambil waktu mainmu. Tapi ucapan saya tadi itu serius. Saya mau kamu menang. Makanya saya persilahkan kamu memenangkannya. Kuliah saya masih ada senin depan kok. Itu pun kalau kamu berminat.” Ujar Carina masih dengan tatanan suara yang sangat tenang.

Danial kembali menelan ludahnya sambil menatap takut wajah Carina yang sedang tersenyum tipis padanya.

“Maaf bu..” Ujar Danial.

“Saya maafkan Danial..” Sahut Carina dengan nada menggantung.. “.. tapi silahkan..” Ujarnya lagi menyelesaikan kalimatnya sambil tangan kanannya menghadap ke pintu.

Danial kembali mendelikkan matanya dengan cepat ke arah temannya yang lain. Ia nampak kaget atas sikap dosen barunya ini.

“Perlukah saya antar sampai depan pintu?” Ujar Carina sambil berdiri.

Wajah Dani makin pucat. “Gak usah bu.” Ujarnya sambil menyeret tasnya dari meja dan berjalan menuju pintu.

“Terima kasih kerjasamanya Danial. Saya doakan DanimalDaze88 menang pertempuran melawan Frostivus.” Ujar Carina pada Dani sebelum ia menutup rapat daun pintu.

Seketika mata Danial pun langsung dibuat terbelalak tak percaya ketika ia berjalan ke arah kantin dalam kampus.

Sementara di dalam ruangan, Carina dengan tenang kembali membagikan senyuman tipisnya pada mahasiswa lainnya. “Mari kita lanjutkan..” Ujar Carina dengan nada sangat tenag.

Hanya jeda beberapa detik saja, seorang mahasiswi yang terlambat pun datang.

“Selamat pagi.. Silahkan..” Ujar Carina menyapa mahasiswi yang baru saja datang tersebut.

“Makasih bu..” Ujar mahasiswi tersebut.

Samar-samar terdengar suara helaan nafas berat dari salah seorang mahasiswa. Kemudian kelas pun seolah menjadi sangat sunyi dan dingin.

.

Carina berjalan mendekati meja mahasiswa yang tengah diisi oleh kumpulan lima orang mahasiswa laki-laki dan satu perempuan berambut coklat bergelombang.

“Prinsip saya itu, sederhana kok. Saya memperlakukan orang lain sebagaimana saya ingin diperlakukan aja. Dan saya pun masih terus belajar untuk menghargai kepentingan orang lain. Daripada kalian membuang waktu untuk hal yang sebenarnya kalian tidak suka, atau bukan prioritas tujuan kalian, lebih baik saya persilahkan mengejar apa yang kalian inginkan. Supaya kita tidak saling merugikan apalagi menyakiti.” Terang Carina.

Seisi kelas pun mengikuti kemana arah Carina berjalan sambil berbicara.

“Kasihan orang tua kalian, susah-susah cari uang buat bayar kuliah dan gaji saya kalau kaliannya sendiri tidak mau menghargai itu.” Ujar Carina lagi yang kini kembali berjalan ke arah mejanya.

“Kalau tujuan kalian ikut kelas saya hanya untuk formalitas prasyarat kelulusan, bilang ya. Supaya bisa saya tandai dan langsung saya kasih nilai standar kelulusan kampus ini. Jadi gak perlu capek-capek ikut kelas saya. Selesai perkara.” Ujar Carina tegas.

“Ada yang punya tujuan seperti itu disini??”

Tak ada jawaban.

”Pasti ada. Cuma takut atau malu aja palingan.” Ucap Carina sambil membuka tutup spidol lalu menuliskan alamat emailnya di papan tulis.

“Ini alamat email saya. Silahkan tulis nama absen kalian dengan keterangan mata kuliah kita hari ini. Dan saya pastikan kalian lulus mata kuliah saya dengan nilai minimal standar kelulusan saat itu juga. Gak perlu malu kalau memang itu tujuan utama kalian.” Jelas Carina sambil merogoh tasnya lalu mengeluarkan kotak pensil, tripod dan kamera.

Kelas pun menjadi jauh lebih sunyi dari sebelumnya.

Carina pun kini berjalan ke pojok ruangan. Ia tengah merangkai sesuatu. “Kamera ini fungsinya untuk dokumentasi saya selama berbagi pemahaman dengan kalian. Sekaligus bahan saya evaluasi diri. Kadang kalau ada bahasan menarik suka saya upload di kanal youtube pribadi. Supaya bisa buat orang yang mau ikutan diskusi tapi raganya gak bisa barengan ada disini.” Ucap Carina sambil menekan tombol record pada kameranya.

“Nama youtube channel-nya apaan bu?” Tanya seorang mahasiswa berkaos hijau tua.

Dengan sigap Carina mengambil spidol dan menuliskan, The Ganyana Creative Partners di papan tulis yang berada persis di balik punggungnya.

Anyway.. Di kelas saya, ada aturannya. Kalian boleh belajar sambil nyemil, boleh sambil ngopi, boleh sambil ngeteh. Yang gak boleh hanya tiga. Gak jujur, gak nyimak dan gak bertanggung jawab sama sisa dan bekas makanan. Sesederhana itu.” Ujar Carina dengan tegas sambil menatap satu per satu wajah mahasiswanya. Ada yang manggut-manggut, ada yang menunduk dan ada juga yang saling menatap teman mahasiswa lainnya.

“Sambil ngerokok boleh, bu?” Celetuk salah seorang mahasiswa yang duduk seorang diri di pojokan sambil cengengesan.

“Boleh kalau belajarnya di ruangan terbuka atau alam bebas.” Sahut Carina

“Jiyaaahh.. Kirain boleh di kelas juga..”

“Kamu mau biayain semua orang disini termasuk saya kalo kena sakit paru-paru karena asap rokokmu??”

“Ya enggaklah bu..”

Carina pun melanjutkan. “Jadi, bisa dipahami??”

“Bisa bu..” Jawab masing-masing dari mereka dengan ekspresi hati-hati yang begitu tersurat dari wajah mereka..

“Pulpen dan kertasnya kurang gak ya??” Tanya Carina memastikan.

“Cukup bu.. Ini lebih malah..”

“Oke. Titip di kamu dulu ya. Nanti bisa tolong di kasih ke yang terlambat.”

“Iya bu..”

“Sudah kebagian kertas dan pulpennya semua berarti ya?”

“Sudah bu..”

“Oke, kita kembali ke perkenalan tadi. Kalian bebas mau memperkenalkan diri dengan gaya apa aja. Yang penting isinya ada nama lengkap, nama panggilan, dan tempat tanggal lahir kalian. Mau ada tambahan hobi boleh atau pengalaman kerja boleh. Ada waktu lima menit untuk dituliskan di kertas, dan setelahnya diberikan ke saya.“ Ujar Carina sambil berdiri dari tempat duduknya.

“Saya permisi keluar sebentar ya.” Ujar Carina sambil membuka daun pintu dengan tangan kanannya.

“Iya bu..” sahut seperempat dari mahasiswa.

“Asli, horor banget nih dosen. Dia sampe tau ID game-nya si Dani coba. Gila!” Ujar seorang mahasiswa yang berwajah timur tengah.

“Emang iya yang tadi itu ID gamenya si Dani?? Yang Danimal Danimal itu..” Tanya mahasiswi berkerudung biru.

“Iya anjir. Gue ‘kan sering mabar (main bareng) sama Dani kalo di kantin. Wah parah!” Jawab mahasiswa yang berwajah timur tengah tadi.

Tujuh menit berlalu.

Carina kembali ke ruangan kelas dengan membawa lima tingkat box pizza di tangan kirinya dan botol air minum ukuran satu liter di pangkuan lengan kanannya..

“Sudah?” Tanya Carina saat memasuki ruangan lalu meletakkan pizza dan botol minum air beningnya.

Semua mata mahasiswa tertuju pada bawaan tangan Carina.

“Wahh.. ini beneran boleh ngemil di kelas bu??”

“Menurutmu saya becanda kalo udah bawa beginian??”

“He he he.. Ibu tau aja bu, saya belom sarapan..”

“Waahh ibu baik bangeettt..”

“Kayaknya enak nih.. Makasih ya bu..”

Carina pun tersenyum mendengar reaksi senang mereka. Usai membuka tali rafia yang membungkus box tersebut, Carina pun memisahkan 2 box pizza yang kemudian ia letakkan di mejanya.

“Yang boleh ambil hanya yang kertasnya sudah ada di atas meja saya.”Ujar Carina sambil ikut mencomot satu potong pizza.

“Sudaaahh buu..”

“Oke.. Silahkan di nikmati. Kalau haus, beli minum sendiri ya. Kalau masih kurang, ini masih ada.” Ujar Carina sambil menunjuk dua box pizza yang bertengger di atas mejanya.

“Ganyana Hungry.. Comfort Food with slices of story..” Baca salah seorang mahasiswa.

“Ini kayaknya brand makanan baru ya bu?” Lanjut mahasiswa itu lagi sambil mengunyah pizzanya.

“Iya.. itu line makanan cepat saji di kedai taman saya. Yang buat delivery.”

“Waahh.. Ibu bisnis makanan juga??”

“Baru coba-coba aja, belum expert. Lagian itu (Ganyana Hungry) sekarang yang pegang anak saya. Saya mah beli dari dia.”

“Kok sama ibunya beli, bu??”

“Kalo gratisan terus nanti gimana itungan upah harian buat karyawannya mbak?”

“He he he.. Iya juga ya bu.”

“Anaknya umur berapa tahun bu, kayaknya ibu masih muda deh.. Kok anaknya udah pegang bisnis aja.”

“Taun ini dia usia tujuh.”

“Hah?? Seriusan bu.. baru tujuh taun?? Udah bisa ngejalanin bisnis sendiri?”

“Yaa gak sendirilah. Dibantuin bapake doong. Cuma memang saya dan suami memang sudah berniat untuk hanya sebatas mengarahkan dan membantu yang sekiranya dia gak tau aja. Sisanya kita kasih dia kesempatan buat membawa usaha ini ke arah mana pemahamannya.” Jawab Carina sambil tersenyum.

“Seriusan bu?? Waahh.. keren banget dong bu..”

“Yaa gak tau juga sih perkara keren atau enggak nya. Cuma menurut kami, ya anak itu memang layak di didik untuk hal kayak gini selagi dia memang sudah mau mengambil tanggung jawabnya sendiri. Lagian  dia ‘kan gak sekolah formal juga. Jadi emang semaunya dia aja dia belajar apa dan dari mana.”

“Kok gak sekolah formal bu?”

“Anaknya gak suka. Sebelumnya pernah gabung sekolah alam, tapi belakangan semenjak keseringan dimintain bantuan sama emak bapaknya, akhirnya dia bilang mau ikutan gabung tanggung jawab di makanan ini juga. Makanya saya kasih, lagian dia under langsung dibawah bapake, jadi yaa aman juga saya nya.”

“Serius bu??”

“Serius udah bubar..”

“Jiyaaahh ibuuu… garing bettt!!” Celetuk salah seorang mahasiswa.

Carina pun tertawa kecil. “Terus saya harus respon apa wong kamu aja responnya gak kreatif, serius-serius mulu nanya nya ha ha ha..”

“Soalnya amaze aja bu..” Sahut seorang mahasiswi berkawat gigi.

“Antara amaze dan aneh itu beda tipis ya” Goda Carina sambil tersenyum.

“Bukan saya yang ngomong ya, bu.. He he he.“

Carina tersenyum “Makanya brand-nya saya kasih nama Ganyana.”

“Kenapa emang bu?”

“Ganyana itu saya ambil dari kata Gak Di Nyana. Makanya gak dinyana ‘kan kalo bos-nya masih bocah. Mimpi basah aja belom. Udah dikasih PR usaha makanan sama emak & bapaknya.” Ujar Carina cengengesan.

“Kayaknya sih yang lebih aneh itu yang ngasih ke dia deh bu.. Ha ha ha..”

“Nah itu, tepat!.” Ujar Carina sambil tertawa renyah. Diikuti oleh gelak tawa dari para mahasiswa dan mahasiswi juga.

Kini suasana kelas  pun menjadi jauh lebih cair dari sebelumnya.

Carina nampak melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30 wib.

“Mari, kita mulai perkenalan kita hari ini. Saya awali dengan saya dulu ya.. Nanti kalian bisa modifikasi sendiri gaya perkenalan kalian masing-masing..”

“Siap bu..”

“Nama lengkap saya Carina Nebula Faroditta. Atau Carina Purnomo. Nama akhiran suami saya Purnomo soalnya. Saya lahir 35 tahun yang lalu di bulan Juli. Saya seorang egalitarian yang suka sastra dan filosofi klasik. Bisnis saya dan suami ada di ranah sandang, pangan, dan papan juga jurnalisme independensi. Terima kasih.” Ujar Carina sambil sedikit menunduk.

“Egalitarian apaan bu?”

“Kalian gak tau egalitarian? Egaliter? Gak tau??”

“Enggak bu..”

“Kalian gak punya henpon untuk cari tau?”

“Punya bu..”

Find it.. I’ll be waiting.” Ujar Carina sambil meneguk kopi di tumblernya.

“Kecenderungan berpikir bahwa seseorang harus diperlakukan sama pada dimensi seperti agama, politik, ekonomi, sosial, atau budaya.. Bu” Jawab salah seorang mahasiswa dengan nada suara jelas seperti membaca teks.

“Kata siapa itu??”

“Wikipedia bu..”

Carina tersenyum menahan tawa.

“Terus kalo kata kamu apa?”

Kelas pun terdiam.

“Lho? Kenapa diam?? Itu kan yang tadi kamu baca itu menurut bahasanya wikipedia. Menurut bahasa dan pemahamanmu sendiri itu apa??”

Kembali kelas pun terdiam.

“Kenapa jadi diam??”

Tak ada jawaban berarti selain senyuman simpul dari masing-masing mereka.

“Oke.. kita sambung nanti ya. Masih saya tunggu lho jawabannya. Sekarang kita ke perkenalan masing-masing dari kalian dulu.” Ujar Carina sambil meraih tumpukan kertas di mejanya.

“Siapa disini yang mau mulai duluan??”

Lagi-lagi tak ada jawaban yang berarti.

“Oke, kalo gitu, Indah Prameswari..”

Semua mata mahasiswa pun tertuju pada seorang gadis berkerudung coklat yang duduk di barisan depan, dekat meja Carina.

Time is yours, Indah.. Monggo..” Ujar Carina mempersilahkan dengan ramah.

“Wooeee, dugoongg.. Maju goongg.. Dugong.. Dugong.. Dugong!” Teriak salah seorang mahasiswa dengan jenis suara yang seperti orang sedang menahan BAB.

Carina pun menoleh. Dan ia segera terdiam.

“Selamat pagi Bu Carina, selamat pagi semua. Nama saya Indah Prameswari. Biasa dipanggil Indah. Saya lahir di Jambi 13 Oktober 2000. Hobi saya nonton musik dan drama korea. Dan Idola saya adalah Kim Tae-hyung BTS, terima kasih.”

Carina tersenyum.

“Terima kasih juga, Indah. I really appreciate your improvisation  to introduce-self. Saranghaeyo.” Ujar Carina sambil tersenyum dan memberikan simbol hati dengan jarinya ala orang korea kepada Indah.

Indah pun membalas memberikan simbol hati tersebut kepada Carina. “Makasih bu.. Saranghaeyo juga bu..” Balas indah sambil kembali duduk di kursinya.

Next, Haidar Salman.”

“Hai Guys..”

“Haaii..”

“Yang belum kenal, kenalin nama saya Salman. Nama lengkapnya kayak di absen. Saya lahir di Jakarta, 9 Juni 1999. Hobi saya futsal dan kerjaan sampingan saya adalah jockey gamers.”

Thanks Salman. Saya kirain hobi kamu main gambus, bukan ya?”

“Bisa bu, dikit doang tapi.. He he he.”

“Oh ya?? By the way, playlist lagu di ipod saya isinya lagu arab semua lho, hahaha.”

“Emang iya bu??”

“Saya tumbuh kembang bareng lagu-lagunya Amr Diab sama Nawal Al Zoughby soalnya. Hahaha. Nantilah kita berbincang-bincang tentang musik arab di luar kelas.”

“Mantaap. Siaap bu..”

“Selanjutnya.. Waah ini tulisannya rapih sekali. Gloria Neftali..”

“Selamat pagi teman-teman.. Selamat pagi Bu. Perkenalkan, nama lengkap saya Gloria Neftali Robertinus. Saya lahir di Tomohon, 2 Desember 2000. Saya seorang penganut Kristen Advent seperti kedua orang tua saya. Hobi saya memasak. Dan makanan favorit saya adalah gado-gado. Terima kasih.”

Nice, Gloria. Thanks for the information.”

After you is… Muhammad Ikram Ramadhan.”

“Halo, kawan-kawan. Seperti yang kalian sudah kenal. Nama saya Ikram Ramadhan, biasa dipanggil Ikoy. Lahir di Bukit Tinggi, 7 Januari 1998. Hobi saya naik gunung dan sekarang saya lagi punya bisnis sampingan sewa alat-alat outdoor di rumah dan toko online. Terima kasih.”

“Oke.. terima kasih juga Ikoy. Boleh tau apa nama bisnis online sewa outdoornya?”

“Indahdimato, bu.. namanya.”

“Ohh.. bagimu Indah itu ada di mata ya.. Saya kira ada di hati..” Celetuk Carina meriuhkan suasana kelas.

“Ciyeeeeee…” Begitu ujaran selanjutnya diiringi gelak tawa.

“Ha ha ha.. Becanda ya Ikoy.. kalau benar pun kayaknya gak apa ya.. Kamu baru putus juga ‘kan? Ha ha ha” Ujar Carina sambil menahan tawa.

“Ibu apaan sih bu… hahahahaha” Jawabnya sambil tertawa geli dan membalas rusuh ke teman-teman yang lain. “Kacau nih ibu nih.. Paraahh..” Ujar Ikoy lagi sambil wajahnya memerah.

Lalu Carina pun memanggil nama-nama lainnya hingga selesai.

Tiga puluh menit kemudian.

Anyway.. Masih ada sisa waktu sedikit, saya mau selesaikan pembicaraan terputus kita tadi tentang egaliter. Jadi, apa itu egaliter menurut kalian??”

Mahasiswa dan mahasiswi pun menggeleng. “Enggak tau, bu?”

“Hah? Kenapa bisa gak tau??” Tanya Carina sambil menggaruk kepalanya. “Berarti tadi kalian gak nyimak ya, saya bilang apa??”

“Nyimaak buu..”

“Bilang apa saya??”

“Di lanjut nanti pembahasannya..” Sahut seorang mahasiswi berambut merah.

“Di tunggu jawabannya nanti..” Sahut mahasiswa bersweater hitam.

“Nah, itu inget. Terus apa jawabannya??”

Kelas pun kembali hening.

“Kenapa jadi diam? Jawaban macam apa ini??” Tanya Carina yang mulai kesal.

“Sudah paham aturan di kelas saya?”

“Sudah bu..”

“Lalu kenapa saya masih dengar jawaban ‘enggak tau’ ketika sudah saya kasih waktu dan kesempatan untuk mencari tau?? Henpon ada. Internet ada. Mata ada, otak ada, kewarasan ada. Cuma kemauan aja yang saya gak tau ada apa enggak.” Ujar Carina dengan nada jengkel.

“Di perkenalan saya lupa bilang, kalau hobi saya adalah bertanya. Bertanya apapun yang menurut saya patut ditanya bahkan dipertanyakan. Karena saya merasa saya perlu dan berhak mendapat jawaban itu. Sederhana aja alasannya, biar hobi lama saya gak kumat, hobi protes.” Lanjut Carina.

“Kalian ini nampaknya cuma salah orang dan salah strategi deh.” Ujar Carina sambil tersenyum. “Jelas sekali kalian nampak ‘terbiasa’ diselamatkan dengan model jawaban kayak tadi sama pengajar kalian sebelumnya.”

“Tapi sialnya sekarang, kalian ketemunya sama saya. Yang kerjaannya bukan pengajar, bukan guru, bukan dosen, saya cuma praktisi wirausaha yang senang diskusi. Ketika kalian jawab pertanyaan saya dengan jawaban ‘gak tau’ padahal sudah dikasih waktu dan kesempatan untuk mencari tau, justeru itu makin mentriger saya buat nanya yang lain lagi. Kenapa bisa masih ada jawaban gak tau??”

“Saya menerima permintaan Pak Dono untuk ada disini bukan sebagai dosen, tapi sebagai partner belajar kalian. Catat itu. Itulah kenapa tadi di awal saya bilang saya seorang egalitarian. Karena memang saya tidak sepaham dengan orang-orang yang menganut per-kasta-an dalam kehidupan. Bagi saya pribadi, tidak semua guru lebih pintar dari murid, karena ada juga murid yang lebih berwawasan luas daripada gurunya, orang tua bisa juga salah terhadap anaknya, sama seperti anak ke orang tuanya. Karena orang tua, dulunya adalah seorang anak juga tho?”

“Begitu juga di kelas ini. Saya belum tentu lebih banyak tahu dari kalian, karena saya juga manusia, yang pemahamannya terbatas. Makanya kita disini sama-sama belajar memahami satu sama lain. Saya belajar dari kalian, kalian juga bisa belajar dari pengalaman dan pengetahuan saya. Yang kebetulannya lahir lebih duluan dari kalian. Tapi itu tidak berarti saya lebih pintar atau lebih tinggi dari kalian. Big No!”

Mahasiswa di kelas seolah sedang tersihir oleh retorika dosen ‘aneh’nya kini. Mereka terdiam sambil wajahnya menyiratkan bahwa mereka sedang mencerna kalimat Carina .

“Intinya bagi saya, semua manusia punya hak dan kewajibannya sama. Karena itu tadi, sama-sama manusia. Yang beda hanya kualitas dirinya aja. Dan itu gak perlu diperdebatkan atau diperlombakan. Yang perlu cuma dibuktikan. Ke mana? Ke sesama manusia dan alam semesta.

“Kenapa alam semesta juga ikut perlu dijaga hak dan kewajibannya? Ya karena mereka ciptaan Tuhan yang sama juga dengan Tuhan manusia. Sederhana ‘kan?? Sesederhana itulah saripati sikap egaliter terhadap makna etika versi kacamata saya.”

“Kalo kalian merasa perlu buat tau apa definisi etika bisnis secara etimologis, teoritis, dan lainnya kalian bisa cari di perpustakaan atau ebook yang menyediakan perihal terkait. Baca, pahami dengan kacamata sendiri, atau kalau bingung bawa ke kelas ini, kita diskusiin bareng-bareng. Belajar bareng, paham bareng. Tapi sebelum bareng-bareng, ya paling enggak ‘galon otaknya’ diisi dulu seperempat, biar gak kosong-kosong amat.”

“Karena tugas utama praktisi adalah memberikan contoh nyata dengan perbuatan dan perubahan, bukan cuma fokus berkutat di tulisan.”

“Di kelas ini tidak akan ada tugas.”

“Wiisss..” lalu Mantaaapp..” dan “Aseekk..” respon mahasiswa & mahasiswi dengan wajah sumringah.

“Yang ada hanya refleksi pemahaman kalian masing-masing dari pembahasan yang saya sampaikan per sesi. Gampang ‘kan?”

“Yaaaahh.. Lebih susah deh bu.. Kayaknya..”

“Betul.. buat yang tidak menyimak. Makanya diawal tadi saya tawarkan siapa dari kalian yang tujuan masuk kelas ini hanya demi prasyarat kelulusan, bisa langsung email saya.”

“Kelas saya hanya berlaku untuk yang mau, bahkan boleh kalau yang mau itu asalnya dari jurusan lain atau angkatan lain. Syaratnya cuma satu, mau. Yang tidak mau ‘kan sudah aman tadi… Tinggal email saya, sudah dijamin lulus. Tidak perlu repot-repot ikut kelas saya. Enak ‘kan??”

Kelas kembali hening..

Well, nampaknya ini cara perkenalan yang menarik. Kalian mulai tau bagaimana cara saya memperlakukan kalian, dan saya pun jadi tau bagaimana harus memperlakukan kalian.” Ucap Carina dengan tenang namun dengan tatapan dalam.

“Saya cukupkan kelas kita hari ini. Terima kasih banyak untuk kehadirannya. Mari kita kembali berdoa untuk berterima kasih pada Tuhan. Berdoa dimulai.”

“…”

“Doa selesai.” Ujar Carina sambil menekan tombol off pada kameranya lalu membuka daun pintu yang berada dekat dengan tripod kameranya.. “Silahkan…” Ujar Carina lagi ketika pintu telah ia buka dengan lebar.

“Makasiih bu..” Ujar beberapa mahasiswa sambil keluar ruangan.

“Sama-sama..” Jawab Carina sambil merapihkan barang bawaan ke dalam tas.

“Bu..” Panggil seorang mahasiswi.

“Ya?” Carina menoleh. “Ada apa Indah??”

“Saya boleh minta nomer ponsel ibu??”

“Buat apa?”

“Buat saya save, bu.. Gak boleh ya bu?”

“Maksudnya untuk urusan apa?”

“Hmm.. gak ada sih bu. Buat di save aja.”

“Tentukan dulu untuk apa tujuannya. Supaya jelas. Lagipula ‘kan bisa lewat email. Sama aja ‘kan??”

“Iya sih bu.. Oke deh bu, makasih ya bu.” Ujar Indah lagi sambil salim pada Carina.

“Oke, hati-hati..”

“Iya bu..” Jawab Indah lagi sambil keluar ruangan.

Tak ada jawaban lagi dari Carina. Ia pun ikut bergegas keluar kelas yang masih di isi oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang juga masih ingin berbincang. “Saya duluan ya..” Ujar Carina.

“Iya bu.. Makasih bu..” Jawab mahasiswa dan mahasiswi yang masih betah di dalam kelas.

.

Keluar dari ruangan Carina pun melewati ruang pantri di ujung lantai empat. Carina pun meletakkan satu box pizza di meja pantri. Kebetulan di ruangan itu ada dua orang petugas kebersihan yang sedang mencuci piring dan satunya lagi sedang membuatkan kopi hitam.

“Misi.. ini buat iseng-iseng cemil disini ya..” Ujar Carina ramah.

“Wah bu.. beneran bu?? Makasih banyak ya bu..”

“Sama-sama pak. Jangan lupa cuci tangan dulu ya..” Ujar Carina usai melirik jemari salah satu dari petugas kebersihan yang tengah mengaduk kopi.”

“Iya bu..” Jawabnya lekas. Carina pun kembali berjalan menuju ruangan lain yang hendak ia tuju.

Ketika Carina tengah hendak menuju anak tangga ia pun seolah dikagetkan oleh sekelompok mahasiswi yang semuanya mengenakan cadar. Mereka sedang asik berkumpul dan berbincang tentang sesuatu dengan begitu seru. Carina pun merasa perli untuk berpamit saat melewati mereka, karena keseruan mereka bercengkrama harus terhenti demi Carina yang ingin menuju tangga.

Selama menuruni anak tangga, wajah Carina seolah sedang amat serius memikirkan sesuatu.

Kemudian langkah kaki Carina berhenti di depan ruang Ketua Fakultas Komunikasi. Dengan tanpa berpamit atau mengetuk terlebih dahulu, Carina pun langsung membuka pintu ruangan tersebut. Tujuannya memang sengaja untuk mengagetkan dosen favoritnya dulu, Pak Subidagdono (Pak Dono).

“Hai Paaapp..” Sapa Carina dengan nada hampir mirip seperti teriak sambil membuka pintu ruangan.

Sesuai dengan dugaan Carina, Pak Dono yang tengah sibuk dengan pekerjaannya pun langsung kaget dengan kedatangan Carina yang sangat tiba-tiba.

“Asuu tenan! Kaget aku.” Kesal Pak Dono.

Carina tertawa jahil sambil memasuki ruangan. “Ha ha ha Maap.. maap, paap.. kaget ya.. hahaha.” Ujar Carina ketika melewati meja Mbak Yuni, asisten Pak Dono. “Misi ya Mbak..” Ujar Carina pada Mbak Yuni yang dibalas senyum dan anggukan pelan darinya.

“Wooohh, Cicak tho… rene rene. He yo’opo kabare, cuk?” Sambut Pak Dono usai menyadari bahwa Carina yang mendatanginya.

“Ah apap kebiasaan deh. Aku ga ngerti ngomong apaan, pake bahasa Indonesia aja sih. Udah ada bahasa kesatuan juga. Di hargai doonkk..” Protes Carina sambil meletakkan box pizza di meja Pak Dono yang tengah dipenuhi oleh arsip-arsip mahasiswa.

Pak Dono pun tersenyum sambil membuka kedua belah tangannya seraya ingin memeluk anak didiknya yang sudah lama ia tunggu ini. “Duuhh, gemblung.. gemblungg. Gimana kabarmu??” Ujar Pak Dono sambil memeluk Carina.

“Alhamdulillah aku baik pap.. Apap piye??” Goda Carina.

“Nah, gemblung ee blas tho iki. Tadi kowe protes aku nanya pake bahasa jawa, sekarang malah kowe yang nanya pake bahasa jawa. Ra jelas !” Jawab Pak Dono sambil melepas pelukannya.

Carina tertawa.. “Sengaja pap, ‘kan aku kangen liat apap marah.. ha ha ha.. Oke.. oke pake bahasa Indonesia aja. Nanti percuma kalo apap bales aku lagi pake bahasa Suroboyoan akunya gak ngerti. Hahaha,”

Pak Dono pun menoyor kepala Carina dengan lembut. “Gembluuung..” Ujarnya lagi.

“Ha ha ha..” Tawa Carina begitu bahagia.

“Bawa apaan sih? Pizza ya?? Beli dimana?” Tanya Pak Dono penasaran.

“Beli lagi.. Bikin kaliii paaap.”

“Masa iya kamu bisa bikin beginian. Ra yakin aku..”

“Ha ha ha.. emang bukan aku yang bikin sih. Tapi anak sama suamiku yang bikin.. akunya mah mesen doang. Ha ha ha.”

“Yaa itu sama aja beli, gemblung!” Sahut Pak Dono sambil menepuk lengan Carina.

“Oh iya ya hahahaha…”

“Wah, gawat nih Yun. Darah tinggiku bakalan sering-sering kumat nih kalo bocah ini sering-sering kesini..” Canda Pak Dono ke arah Mbak Yuni.

Mbak Yuni pun ikut tertawa kecil sambil terus menyelesaikan pekerjaan surat menyuratnya di dalam leptop.

“Ish apap ish, cangkemnya.. kebiasaan.”

“Kok dadi aku.. CANGKEMMU, Cuk!” Kesal Pak Dono sambil bercanda.

“HA HA HA HA” Carina pun tertawa puas.

“Ta’ cobain yoo..”

“Semoga gak keracunan ya, pap.. ha ha ha..”

“Asuu ee..” Sahut Pak Dono. Usai mencicipi Pak Dono pun nampak berpikir keras. Mencari padanan kata yang pas untuk mengomentari makanan Carina.

“Uuenak yoo iki, Cak.. Bener anakmu yang bikin??” Ucap Pak Dono dengan aksen Surabaya yang kental.

“Yoi pap.. dibantuin bapaknya sih. Lagi seneng bikin-bikin makanan dia pap..”

“Uuih.. mantep..”

“Apap ish!! Aku nanya gak dijawab. Eh, waktu itu udah jadi pasang ring belum sih, pap?”

“Wooh, iyo. Lali ee.. Jadi.. Udah lama itu. Awakku wes uenak’en akhir-akhir ini.. Puji Tuhan..” Jawab Pak Dono.

“Puji Tuhan.. Alhamdulillaahh..” Sambung Carina.

“Bojomu ndi, Cak?”

“Ya kerjalah pap..”

“Maksutee ndi kerja ee, gemblung..”

“Oohh, ha ha ha.. Bilang dongg..” Goda Carina lagi. “Di Kedai Teras, pap. Usaha barengan aku sama dia. Di rooftop apartment.”

“Wihh muanteepp ee poll.. Ra sia sia tho, sering ta’ tempelengi?”

Carina tertawa. “Kayaknya sih gitu pap, ha ha ha..” Balas Carina.

Pak Dono pun kembali duduk ke kursinya. Bersandar santai sambil menyalakan cerutu kesayangan dengan korek api yang tersedia di kantong celananya.

“Cak.. Awakmu ra sibuk tho??”

“Ya tergantung bayaran aja sih, pap.” Canda Carina.

“Uaseemm ee..”

Carina tertawa kecil sambil sesaat kemudian ia teringat sesuatu..

“Pap..” Panggil Carina..

“Poo..” Sahut Pak Dono sekena nya.

“Disini kenapa jadi banyak yang mahasiswi yang bercadar, Pap??” Tanya Carina membuka pembicaraan yang sejak tadi mengganjal di pemikirannya.

Pak Dono pun menghembuskan asap cerutunya dengan perlahan.

“Yun, tolong tukui aku sama rek gemblung iki tempe mendoan di bawah, Yun..”

“Boleh Pak.. Seberapa banyak Pak?”

“Sa’ cukupe ae..”

“Baik pak. Sebentar, saya pesankan..”

“Suwun, Yun..”

“Sama-sama Pak..”

Mbak Yuni pun keluar dan menutup rapat pintu ruangan.

Sementara Pak Dono menghisap dan menghembuskan cerutunya dengan penuh penghayatan, Carina justru tengah sibuk membalas pesan singkat dari suaminya sambil menanti penjelasan Pak Dono kemudian.

“Kayak e salahku, Cak..” Ujar Pak Dono mengawali cerita. “Aku salah minta tolong orang. Jebule ambyar..”

“Hah? Jebule apaan, pap?” Tanya Carina sambil kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.

“Maksutee.. Jadinya berantakan.”

“Kenapa emang pap??” Tanya Carina penasaran.

“Assalamualaikoomm…” Ujar seseorang dari arah luar sambil mengetuk pintu.

Carina dan Pak Dono pun seraya langsung kompak menoleh ke arah pintu.

Ketika pintu terbuka, yang berada dibalik pintu adalah seorang laki-laki berperawakan gemuk yang cukup tinggi. Ia mengenakan baju putih khas laki-laki timur tengah, berpeci putih sekaligus berjenggot cukup panjang nan lebat.

“Woeh, Mif. Masuk.. masuk..” Ujar Pak Dono.

Carina merasakan perubahan wajah Pak Dono yang begitu ia lihat dengan jelas.

“Eh ada cicak cicak di hati.. Pa kabar Ci??” Sapa Miftah sambil berjalan ke arah Carina dan mengajak salaman.

“Masih aja lo, ca – ci ca- ci bae.. Hamdallah.. Lo gimana?? Kayaknya makin hari makin bahagia ya??” Sahut Carina sambil memerhatikan Miftah dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Gak bahagia gimana. Wong istrine ae loro..” Celetuk Pak Dono sambil meneguk kopi dari cangkir putih yang ada di hadapannya.

“Hah?? Iya apa?”

Miftah tersipu. “Bapak dah ah. Lemes amat.. Jangan langsung kesitu ngapah..”

“Nopo emange??”

Carina pun melirik ke arah Miftah. “Dih, kenapa lo mesam mesem gitu? Cacingan ngana??”

“Seett dah, Ci.. masih judes ajah.. Kagak.. Emang ngapa sih lagian, orang gua juga cuman mesem doangan.”

“Yaa mesem lo aneh sih. Jadi geleh ‘kan gue. Lo ngapain sih kesini??”

“Lah, gua mah saban siang emang kesini kali Ci… Ngobrolin urusan kampus ama Pak Dono. Elu kalih yang ngapain di marih??”

“Cicak sekarang yang pegang Kombis, Mif..” Ujar Pak Dono tanpa permisi.

Carina melirik Pak Dono.

“Waah, bagus dong. Semua kepala HIMA pada dijadiin Ketua Jurusan. Mantep pak.. Tapi kok bapak gak bilang-bilang sayah??” Tanya Miftah.

“Kowe sopo emange??”

“Sa ae, ampas kopi..” Ujar Miftah Pelan. “Yaa bukan Pak.. Kan bapak biasanya apa-apaan ngajak obrol sayah dulu.”

“Lhoo.. ya makanya tadi saya nanya. Kowe sopo?”

“Udah.. udah.. Pap, kita jadi keluar ‘kan?”

“Lah, gua baru juga sampe. Pada mao kemane dah??”

“KEPO lu, celengan semar. Yok, pap..” Ajak Carina sambil berdiri.

“Sett dah Ci.. Masih ajah itu panggilan dari jaman jebot.”

“Ha ha ha ha.. Lah, lo aja masih ca ci ca ci sama gue.”

“Lah, ‘kan emang kenyataannya elu cina.”

“Yaa sama juga berarti. ‘Kan kenyataannya elu lebar.”

“Semphaakk emang luu..”

Carina tertawa sambil menggandeng tangan Pak Dono menuju keluar ruangan.

.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Serial Saripati : Perkenalan Kelas
%d bloggers like this: