Aku sering ngotot untuk sesegera mungkin mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang menggema di telinga pikiranku. Namun yang direstui Tuhan justeru sebaliknya. Aku lebih diizinkan untuk menikmati kengototanku yang tumpul lagi berkarat itu.

Lama aku mencari cara jitu untuk bisa keluar dari jeratan hasrat melankolisku.
Hingga akhirnya aku memutuskan untuk kembali menekuni beberapa hal yang sebelumnya justeru tak pernah terpikirkan untuk aku putuskan.

Aku kembali bersekolah.

Namun kali ini bukan untuk mendalami komunikasi atau manajemen bisnis seperti halnya jurusan strata satu ku dulu, maupun menajamkan teknik menulis novel atau jurnalisme sastrawiku, melainkan aku justeru memilih untuk mendalami Keberagaman Teologi dan Filsafat juga Kebudayaan yang ada di Indonesia. Yang spesifiknya mengerah pada sejarah keberadaan bangsa Cina dan Arab pra Indonesia merdeka.

Well, memang agak lumayan serius sih ya hehe. Tapi yaa namanya saja ‘obat merah’ tentu harus yang kadar konsetrasinya bisa mengalahkan kadar melankols akut yang sejatinya adalah akumulasi dari rasa kesepian yang mendera saya belakangan ini.

Semenjak kedua orang tua saya kembali diminta pulang ke haribaan Maha Pencipta, terutama papa saya, saya memang tampak agak sedikit kebingungan untuk kembali menata hidup saya yang sudah terlanjur terbiasa untuk berkubang pada keriwehan yang tak terkira.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: