Aku hanya ingin menjaga sesuatu yang sudah tercipta baik dan terawat.
Untuk terus ku jaga hingga nanti kupercayakan pada yang mampu memegang amanah terkuat.

.

 

Bagai bulan yang merindukan embun, aku tak pernah mengerti bagaimana jalan hidupku terurai dalam benang yang mengalun dalam dentum yang tertarih penuh arti.

Aku memiliki teman sejak zamanku sekolah dulu. Aku tahu ia menyukaiku. Sungguh terlihat jelas sebagaimana caranya ia menyembunyikan mata ketika aku menatapnya atau sekedar menjelaskan bagaimana rumus kimia itu layak diperhitungkan atau pengukuran fisika yang sering membuatku mampu menangkap matanya dengan jelas didalam bayangan gelas ukur atau mistar kaca.

Ardi, anggap saja itu namanya. Kini ia memiliki seorang wanita terbaik yang ada di sisinya. Sudah lima tahun jalinan kasih mereka yang biasa disapa masa pacaran. Aku mengetahuinya, begitu pula temanku yang lainnya. Mereka mengerti Ardi menyukaiku jauh lebih lama ketimbang masa pacarannya saat ini dengan wanita baik itu. Mereka juga mengerti betapa aku ingin membalas namun sulit ku lakukan. Tertahan. Mungkin itu kata yang sangat pantas. Namun itu tak layak untuk diperbincangkan lebih dalam, menurutku.

Aku menyukai caranya memandangku dari kejauhan, membicarakan kebaikanku dengan lembut dan tidak berlebihan juga tak pernah memberanikan diri untuk mendekatiku dibawah jarak satu meter. Namun semua ini seakan hanya kembali ke masa lalu yang sejatinya hanya untuk dikenang. Saat ini ia memiliki pilihan yang jauh lebih pantas didahulukan ketimbang masa indahnya di waktu lalu.

Tujuh tahun berselang, kami bertemu kembali. Dengan tanpa sengaja disebuah pernikahan temanku yang lain. Ia masih membawa wanitanya dan akupun juga masih membawa diriku sendiri seperti sebelum-sebelumnya. Ia menatapku dalam. Aku sangat merasakannya. Begitu pula wanita disampingnya, menatapku tak kalah dalam. Entah mengapa Ardi membiarkan wanitanya tahu bahwa ia pernah menyukaiku dulu dan sempat pula mengaku masih sering merasakan perasaan itu ketika melihatku secara langsung atau hanya lewat foto. Wanita itu hebat, aku tak mungkin bisa setegar dia.

Ekor mataku menangkap mata Ardi yang tak pernah bisa lepas dari wujudku. Aku tak berkutik, tak bersuara. Tak lama rasa canggung itupun pudar ketika teman-temanku yang lain bergurau. Kami tertawa, berfoto dan juga berpelukan untuk rasa rindu karena jarang sekali berkumpul seperti dulu. Ketika ingin berpamitan pulang, aku tak pernah memberanikan diri untuk menyapa Ardi. Aku hanya diam, seolah tak peduli tapi sungguh hati ini ingin tahu bagaimana kabarnya, bagaimana perkembangan hidupnya sekarang. Namun aku tak pernah bisa tega untuk melakukannya dimana aku harus menjaga hati wanita yang sangat dan begitu menyayangi Ardi. Rasaku pada Ardi rasanya tak sebesar luasnya rasa ikhlas wanita itu ketika Ardi mengakui bahwa ia masih dan akan selalu menyukaiku, begitulah pengakuan dari teman-teman seperjuanganku ketika kami bersekolah di tingkat menengah.

Ardi, pergilah dengan segenggam rasa yang lebih pasti ketimbang harus meraup segunung rasa yang tak pernah pasti ada untuk kau sentuh.

Aku pun sendiri tak pernah mengerti apa keinginan diriku. Aku menyadari banyak yang menyayangiku dengan tulus. Namun entah mengapa rasa ini sulit sekali dibelokkan. Terlalu lurus. Lurus hanya untuk pencarian makna kata pujaan hati yang bergelar suami.

Dulu ada yang pernah mendekatiku dan bertanya padaku. Apa yang akan aku berikan pada pacarku kelak? Aku hanya menjawab, dia hanya mampu melihatku dari kejauhan dan menyayangku dari jarak yang berbatas. Ketika ia bertanya mengenai kontak fisik, aku hanya menjawab. Hal itu akan terjadi ketika kamu meminta pada wanita yang lain, yang mungkin akan berbaik hati, namun bukan aku.

Tak banyak yang mengerti prinsip itu selain Tuhan, aku, beberapa sahabatku dan tentunya Ardi. Mungkin aku tak butuh banyak yang memahami, hanya cukup menghargai prinsipku, itu cukup selama prinsip hidupku tak merugikan atau membahayakan nyawa orang lain.

Ada pertanyaan lucu dari sahabat dekatku ketika aku sedang luluran badan dikamar. Ia teman satu kos ku.

Pertanyaan yang begitu menggelikan hati: “kulitmu bersih sekali, badanmu adalah idaman lelaki normal dengan tingkat ukuran dan juga kelembutan seperti ini. sayang sekali kau tak punya pacar, andai aku laki-laki aku tak mungkin tak memilihmu. Namun untuk apa dan siapa kau jaga semua ini, kau rawat semua ini padahal saat ini tak ada yang kau izinkan menikmatinya?”

Jawabanku hanya sesederhana : “untuk suamiku”.

Ia tertawa cekikikan, aku tahu jawabanku adalah lelucon terburuk. Namun aku tak bergurau. Aku sungguh-sungguh menjawabnya dengan kejujuran.

Kemudian ia berkata lagi : “ya andaikan suami-mu nanti adalah orang yang baik pula. Namun jika tidak, sungguh sangat beruntung ia dan kau yang apes dan buntung bukan kepalang. Tak pernah mencicipi indahnya surga dunia dalam masa pacaran, namun harus menelan pil pahit ketika takdirmu adalah keburukan”.

Aku tersenyum. Jangan dikira aku peduli dengan ucapannya. Aku pun tetap meneruskan treatment lulur di kaki kananku tanpa menyambut ungkapan kurang sopannya.

Ia kembali berucap : “kalau aku jadi kamu, dan aku tahu Ardi begitu mencintaimu, yang tak pantas lagi ada pertimbangan. Tanpa pikir panjang aku akan segera menghardik wanita disebelahnya. Kau jauh lebih pantas dengan Ardi ketimbang wanita itu. Dalam akademi kau begitu pandai, namun entah mengapa dalam hal ini kebodohanmu berpangkat tiga.”

Aku kembali tersenyum. Seolah tak mendengar. Mungkin ia jengkel dengan sikapku, dengan pilihan ku dan juga muak dengan prinsip hidupku. Maklumlah dia adalah sahabatku yang paling hobi sekali mengenaliku pada temannya atau teman pacarnya.

“Kadang aku berpikir ingin menjadi sepertimu yang eksklusif. Namun pertahananku tak cukup kuat menandingi hawa nafsuku. Bila diibaratkan waktu puasa, jam 8 pagi pun aku sudah tak kuasa untuk berbuka, sementara kau mampu bertahan hingga adzan Maghrib, hingga garis finish itu terbentang dengan lenggang.” Ujarnya sambil menatap mataku dengan dalam.

Aku menghentikan aktifitasku dan sejenak menatap wajah nya dari balik lensa kaca mataku yang mulai turun.

Aku dipercayakan untuk menjaga sesuatu yang berharga. Yang tak mampu ditukar, dibeli atau dipersilahkan dengan tanpa kesungguhan dan izin Tuhan untuk mendapatkannya. Aku hanya menunggu suamiku yang membuka pintunya.

Dengan kerapatan sudut dari siapapun yang berusaha untuk mengintip. Aku menjaga untuknya dan menunggunya dengan hati terjaga. Tak lelah, tak pernah lelah dan tak akan lelah menjaga karena ini adalah keharusanku untuk menjaga. Untuknya, pilihan dari Tuhan.

Aku tak ingin membayangkan keburukan atau keindahan berlebih untuk sosok suamiku. Selama aku merawat dan menjaga rumahku dengan baik, aku percaya bahwa yang memarkirkan mobilnya diperkaranganku adalah mobil yang layak pula, bukan mobil rongsokan apalagi mobil curian. Karena aku yakin rumah yang brkualitas, pasti pemiliknya berkualitas pula.

Aku tak pernah berniat sedikitpun untuk mengambil Ardi, karena aku masih diberi kenikmatan bahwa rasa sakit hati itu mampu mengukir senyum keindahan dan keikhlasan. Bahwa tangisan karena luka itu adalah bagian dari pesakitan terdalam. Aku selalu membayangkan bagimana jika posisi wanita yang tersakiti adalah menjadi posisiku. Aku yang termasuk sulit untuk menyukai dan menyayangi seseorang, ketika aku memiliki seseorang yang kusayangi dengan kelembutan tinggi namun ia pergi bersama wanita lain.

Tegakah kau melihatku menderita hanya demi sesuatu yang tak sama. Aku rasa Ardi selayaknya bersyukur telah diberi kenikmatan Tuhan untuk memiliki wanita yang menyayanginya dengan keikhlasan tingkat dewa.

Katakan padanya aku tak pernah sedikitpun mengharapkan kebesaran rasa sayangnya padaku jika ia masih meimiliki wanita yang menyayanginya. Jika wanita itu masih menyayanginya, jangan pernah berharap aku rela untuk berucap satu katapun padanya. Aku tak pernah peduli bagaimana rasa sakit hatinya ia, karena semua ini memang berawal dari kesalahannya sendiri.

Memilih untuk diam lalu menjadikan orang lain sebagai gorden, yang mampu menutupi apa yang ingin dia intip dan seolah menjadikan orang lain tak mengetahuinya padahal orang yang sedang ia intip itu tahu apa yang ia lakukan.

Kau tak perlu merasa ingin menjadi seperti aku, karena aku pun ingin bisa mudah untuk berbagi dan memiliki prinsip hidup yang elastis seperti kebanyakan pasangan. Tapi, aku bukan orang yang menyesali apa yang telah aku pilih dan ku rawat. Jika kau seperti aku, kita tak mungkin kita akan mampu seberbagi ini.

Aku bersyukur memiliki sahabat sepertimu, kau banyak memberikan aku lampu-lampu isyarat tentang ancaman dan bahaya. Sekarang mari kita siap-siap. Aku ada meeting dengan klien-ku. Dan kau pun harus memastikannya pada yang ahli. Tanyakan dengan sejelas-jelasnya kau harus menjalani apa saja. Tak pernah ada satupun binatang yang tega membunuh anaknya sendiri, aku tak ingin berasumsi bahwa kau ingin melakukan hal yang lebih jahanam dari bintang.

Meisya pun melepaskan test pack bertanda positif ditangannya lalu memelukku sambil menangis tersedu-sedu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Menjaga Karena Ingin Dijaga
%d bloggers like this: