Sebelumnya bila kamu belum membaca bagian pertamanya, kamu bisa membacanya dahulu disini (<<klik kata disamping ya)

Lalu bagaimana caraku ‘menjahit’ lukanya? 

Aku pernah mendengar orang menyarankan untuk “Gelarlah sajadah. Menangislah pada Tuhan. Tumpahkanlah semua yang ada di hati.”

Entah bagaimana aku sulit untuk mengikuti sarannya. Disebabkan oleh beberapa hal

  1. Aku tidak mengerti pada kalimat, “Menangislah pada Tuhan. Tumpahkan semua yang ada di hati.” Bagiku untuk apa? Tuhan sudah tahu semuanya. SEMUANYA. Bahkan Tuhan pula yang mengizinkan pesakitan dan luka ini hadir dalam hidupku. Jadi untuk apa aku mengulanginya? Apalagi bila mengulanginya harus di tempat atau momen tertentu saja. Tidak. Aku tidak bisa mengikuti saran itu. Bagiku Tuhan meliputi keberadaan seluruh hidupku. Karena aku percaya pada kalimat bahwa Tuhan lebih dekat dari urat leherku sendiri. Jadi dimanapun aku berada, dalam keadaan apapun aku bersedih dan berduka, Tuhan TIDAK MUNGKIN TIDAK TAHU, TIDAK MUNGKIN TIDAK MENDENGAR DAN TIDAK MUNGKIN TIDAK MERASAKAN. Jadi tidak perlu harus di atas sajadah aku melakukannya. Dimanapun dalam keadaan seperti apapun bisa.
  2. Menurutku, yang perlu aku lakukan adalah membujuk kesadaranku untuk aktif dan hadir menemuiku diriku yang tengah lelah dan bersedih. Dan caraku yang paling sering efektif adalah dengan keluar sejenak dari lokasi atau tempat aku bersedih. Ingatkah kalimatku sebelumnya yang mengatakan bahwa “aku percaya waktu, udara dan sistem semesta raya bisa menemaniku dalam ‘menjahit’ semuanya”. Ya, aku hanya memerlukan udara segar untuk berpikir dengan lebih tenang dan menjadikannya terang. Sambil berjalan tentu saja. Tak jarang bulir air mataku pun setia mengikuti. Lagi pula, aku sudah ahli untuk perkara menangis dalam diam. Jadi, sekalipun orang melihat wajahku memerah dan ingus yang ikut serta, aku hanya tinggal berkata “aku sedang sinus/flu berat”. Selesai.
  3. Terkadang bila aku sedang ada sedikit berlebih dalam hal materi, aku memilih untuk memanfaatkannya dengan bepergian. Pergi sejauh mungkin yang mampu aku bayar, aku datangi tanpa perlu menyusahkan siapapun. Aku pergi seorang diri. Tanpa kenal siapapun dan ke tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Mengapa? Sengaja saja. Sederhananya supaya aku bisa menikmati hal-hal baru yang terkadang justeru bisa memancing kesadaranku untuk aktif dan hadir menemuiku.

Menakutkan, ya awalnya tentu saja. Tapi kembali aku ulangi, aku mengimani bahwa Tuhan meliputi diriku, jadi aku tak pergi seorang diri, aku bersama Tuhan. Dan sejauh ini keimananku tadi cukup bisa membuatku tenang tiap aku membuat keputusan nekat. Aku mencoba meyakinkan diriku untuk bisa percaya bahwa aku bukan orang jahat dan tidak berniat jahat pula. Jadi semoga Tuhan berkenan untuk senantiasa melindungi ciptaanNya yang hanya ingin menyendiri dalam mencerna kesedihan ini saja.

  1. Aku sudah mempersiapkan skenario terburuk. Apa itu? Kematian. Ingatkah dalam blog ini sudah seberapa sering aku menuliskan kematian, baik itu tersurat maupun dalam kata yang tersirat? Saking aku muak dalam melanjutkan kehidupan, jadi bila aku dihadapkan pada situasi paling sulit pun, aku sudah tau apa yang harus aku harus perbuat. Pulang. Pulang ke haribaan Tuhan.
  2. Menuliskannya. Aku lebih menguasai alur himpunan kata-kata daripada angka dan grafika. Sehingga acap kali aku merasakan apapun, terkadang aku merasa lebih plong bila menuliskannya dalam bentuk kata melalui tinta. Sehingga aku bisa melihat sendiri bagaimana aslinya perasaanku lewat bentukan kata dan tulisan yang sudah berhasil aku tumpahkan pada kertas kosong yang polos dan tak tahu apa-apa.

Begitulah cara tersering dan yang terefektif menurutku dalam ‘menjahit luka’. Terkadang memang tak bisa sekali saja dalam melakukannya. Tergantung pada kondisi luka dan resiko kecacatan yang bersedia ditanggung pemilihnya. Tak mutlak caraku benar sehingga perlu diikuti tiap-tiap uraiannya.

Kembalilah pada dirimu sendiri. Berkacalah dengan seksama. Amati diri. Dimana posisi tepat dari luka itu dan bagaimana nyamannya kamu ‘menjahit’ sendiri semua lukanya.

Semoga kita semua bisa menyembuhkan tiap-tiap luka yang ada dengan kasih yang semestinya.

Aku, kamu, kita semua pasti pernah mengalami luka. Tidak hanya kemarin, tapi juga bisa di saat ini ataupun nanti lagi.

Kalau kata filsuf, cinta dan luka itu adalah hal yang sama. Yang membedakan hanya sudut pandangnya saja. Aku pun belum tahu apakah hal itu berlaku benar untuk diriku. Jadi, mari kita membuktikannya. Apakah filsuf itu benar, atau hanya sekedar kata-kata nirmakna saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: