Secara umum kata Ga bermakna tidak, sementara Nyana berasal dari kata Nyono dalam Bahasa Jawa, yang bermakna Nyangka (sangka)/duga/kira.

Filosofiku saat pertama kali “mengadopsi” kata ini sebagai nama brand kala mendapat tugas dari mata kuliah Personal & Development di semester 3 perkuliahan dulu hanyalah sebatas pemikiran bahwa kata Ganyana ini begitu menyiratkan apa yang ingin aku lakukan dalam bisnis dan kehidupan. Aku tidak suka bila langkah, strategi bisnis & hidupku bisa dengan mudah ditebak oleh siapapun. Maklumlah, saat itu aku masih amat terngiang-ngiang dengan pesan Tsun-Zhu dalam bukunya yang berjudul Art of War (Seni dalam Berperang).

         Sejak kecil aku memang sudah sangat menggilai sesuatu yang berbau strategi perang dan filsafat kuno dari negeri Tiongkok maupun Yunani. Nama-nama favoritku selain Tsun Zhu adalah Lao Tsu, Marcus Aurelius, Epictetus, Heraclitus, dan Hypatia. Entah mengapa aku begitu menyukai mereka, apalagi Marcus Aurelius yang namanya ku ketahui dari film Gladiator saat masih kelas 2 SD. Ia seolah begitu menginspirasiku sebagai seorang Jendral Perang yang hebat namun juga bijaksana. Ia pun secara tak sengaja mengenalkanku pada Filsafat Stoa/Stoicism yang sejauh ini menjadi filsafat favoritku karena cocok dengan kepribadian dan visi misi hidupku, yang kata sebagian orang cukup aneh.

         Kembali ke Ganyana.

         Bagiku, kehidupan pribadi seseorang dan bisnis sama-sama bisa diibaratkan seperti sebuah peperangan. Yang memerlukan persiapan, dari segi kematangan mental (strategi) maupun tingkah laku (keputusan) yang menyesuaikan situasi dan kondisi tiap-tiap pribadi si pejalan kehidupan.

         Aku akui, sangat tak mudah memang menerapkan makna nama/kata Ganyana ini dalam keseharian. Tak jarang pula aku harus bergumul dengan ketidakpastian dan ketidakjelasan dalam banyak hal, walau sudah dipersiapkan dengan matang sebelumnya. Seolah Tuhan ingin menguji “kelayakan diriku” perihal nama yang sedang “ku adopsi” ini.

Jangan ditanya sudah seberapa sering aku menangis dan membenci diriku sendiri. Pun tak jarang aku mengalami depresi hingga beberapa kali pernah melakukan percobaan bunuh diri karena saking aku merasa tak cukup sanggup menanggung pilihan yang (sialnya) sudah kadung cocok di sanubari. 

Sebenarnya aku pernah juga beberapa kali  mencari nama lain yang lebih “ringan” dari segi makna dan filosofinya, tapi lagi-lagi aku tak bisa membohongi diriku bahwa nampaknya nama/kata ini seperti sudah menyatu dengan takdir, sikap dan sifat asliku.

Ini menurutku, bagaimana menurutmu? (bagi yang sudah mengenalku, tentu saja).

.

.

Salam Tak Terduga,

Ganyana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: