Kami duduk santai berdua di sebuah kedai minuman hangat sederhana.

Ia tak banyak berkata seperti biasanya, hanya terkadang menyiratkan senyum yang aku sendiri kikuk dibuatnya.

Kemudian, kami berdua saling tertegun dalam pemikiran yang berbeda.

Memahami masing-masing dari setiap datangnya perkara.

Atas nama rasa dan juga kebaikan bersama.

.

.

“Ketika kau membaca dan memahami arti dari judulku, apa yang kemudian mengisi benakmu? “Tanya ia padaku.

Aku diam.

“Kau tak memasang telingamu untukku?” Tanya ia lagi dengan penekanan suara dan wajah yang tak lagi santai.

Aku sungguh sedang diliputi rasa bimbang dimana banyak perkara yang sulit aku utarakan dengan kalimat yang tersusun rapi lagi tak menyayat perasaan.

Aku masih saja diam membeku. Biar saja dia marah. Aku rasa itu jauh lebih baik daripada ia mendengar ucapan dari orang yang sama sekali belum pernah merasakan hal yang sedang membelitnya. Aku bukan takut salah, aku hanya ingin memberinya ruang yang selama ini ia butuhkan namun selalu ia lewatkan karena lebih mementingkan yang menurutnya lebih membutuhkan.

Ia tak tampak meneteskan air mata. Ia hanya terus memegangi kepalanya, yang aku rasa sudah betul2 overheat.

Sekali lagi. Aku hanya mampu diam sambil sejurus menatapnya dalam sudut pandang sinar swastamitha di penghujung lembayung.

Ia mencoba menangis namun gagal. Mencoba lagi dan gagal lagi. Lalu mencoba lagi dan hasilnya tetap begitu lagi dan begitu lagi.

Kemudian ia pun menatap langit.

“Kau menunggu senja beralih rasa?” Tanyaku polos.

Awalnya ia tak menggubris namun sesaat kemudian ia menoleh dan berkata, “Kapan hujan akan turun?” Ujarnya sambil menengadahkan tangan ke arah langit.

Lagi2 aku tak bisa menjawabnya. Aku paham  dengan apa yang sebetulnya ia tunggu. Aku kemudian hanya bisa menunduk sambil merasakan angin yang mengisi relung kosong di kedua lubang hidung dan telingaku, pun juga dalam setiap lekuk pori2 di kulitku.

“Aku bukan hanya menanggalkan telinga. Bahkan mata dan hatiku pun tak lagi pernah aku bawa dalam menjalani urusan hari di sisa waktu yang aku punya.”

Ia mendelik tajam ke arah pangkal suaraku berasal. “… Termasuk rencana terindah di masa depan yang sebelumnya begitu aku banggai.” Ujarku menyelesaikan kalimatku yang pertama.

“Saat ini, sudah ku persilahkan mereka untuk berstatus tak bertuan. Karena aku rasa itu lebih baik daripada selalu membuatku merana akan perasaan kepemilikan yang begitu mengikat lagi menyiksa jiwa.”

Sekarang kami berganti peran. Ia yang diam namun kerutan di kedua sunggingan alisnya menyiratkanku untuk memperjelas isi kalimatku yang baru saja singgah di telinganya.

“Aku hanya sedang berusaha untuk berlatih menjadi kosong. Kosong dari prasangka. Kosong dari kepemilikan. Kosong dari cinta buta dan kosong dari pengejaran yang ternyata hanya sepercik ilusi saja.”

“Aku ingin bebas. Bebas dari belenggu yang sebenarnya. Belenggu rasa dan ego yang selama ini menyaru dalam impian yang tak pernah berkesudahan. Juga belenggu kepemilikan atas sesuatu yang ternyata segalanya hanya ujian dan pinjaman.”

Ia meneguk air jahe dalam gelas mug putih yang bertengger manja di samping tempat kami duduk menghadap bibir danau. Ia menatap gelas mug itu dengan seksama sambil terlihat seperti berpikir keras untuk mencerna kalimatku.

“Darimana kau tahu isi lemari pikiranku?” Ujarnya dengan nada yang kini jauh lebih manusiawi untuk standarku.

“Aku tak pernah berlatih untuk menjadi mind-reader. Aku hanya ingin berbicara apa yang aku rasa perlu aku bicarakan. Meski sebenarnya aku pun tak paham betul dengan apa yang aku utarakan.” Jawabku sambil menyunggingkan senyum padanya.

“… Just keep going. Keep walking.” Ujarku mengakhiri kalimat dengan tatapan dingin sambil mengeluarkan beberapa lembar uang sebagai tanda ku tutup diskusi abstrak ini secara sepihak.

Menariknya, ia pun tampak setuju dengan pernyataanku barusan sambil matanya terus membuntutiku dan membiarkan bayanganku pergi lalu menghilang dari balik pintu kaca sebuah kedai minuman yang berbingkai kayu mahoni.

Dalam hati aku berujar sendiri sambil memeraktekan apa yang baru saja aku ucapkan padanya. “Kamu bisa berhenti kapan saja, tapi itu bisa di lain waktu saja.” ujarku dalam hati, sambil kakiku terus berjalan dan melangkah, entah kemana. Aku sengaja memperkenankan hati dan pikiran untuk mengarahkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

#DialektikaRasa : Lain Waktu Saja
%d bloggers like this: