Kami menjalin cerita telah delapan tahun lamanya. Menjadi sepasang pasangan asik yang selalu berbagi kisah baik senang maupun duka hati. Namun entah mengapa akhir-akhir ini rasanya berbeda. Rasaku tak lagi sama. Entahlah apa yang telah terjadi. Apakah ini jawaban dari ibadah-ibadah sunnahku untuk menjawab lamaran Argan? Orang tuaku sendiri tak tahu dengan hal itu. Mereka pun sudah menyukai dan nyaman dengan Argan yang telah diperlakukan sama seperti anaknya sendiri.

Maklumlah, karena aku anak satu-satunya. Sehingga siapapun yang sedang dekat denganku pasti akan diketahui dan didalami seluk beluk hidupnya juga oleh orang tuaku.

Terakhir kali aku mendengar cerita dari rekan baikku yang telah menikah lebih dahulu bahwa rumah tangganya tak kini seindah bayangannya dulu. Lalu seolah aku ikut menyelami kehidupannya juga, ketakutan akan hal yang sama seolah kini menerkamku secara tak sadar.

Aku menjadi mulai ketakutan jika Argan sedang pura-pura galak untuk memaksaku makan. Padahal sebelum-sebelumnya aku tak pernah merasa keberatan atau hal lainnya. Justru aku merasa yang ia lakukan adalah hal yang cukup baik untuk mendidikku menjadi disiplin untuk menjaga kesehatan diriku sendiri. Namun entah mengapa tiba-tiba rasaku berubah.

Sebenarnya aku paham Argan merasa sedikit tersinggung dengan pilihanku untuk mempertimbangkan terlebih dahulu perihal lamarannya satu bulan lalu. Demi Matahari dan bintang yang mengitari bumi atas kehendak Tuhan, aku tak tahu mengapa aku merasa perlu mempertimbangkan hal ini. Padahal sebelum-sebelumnya selalu aku yang mengirimkan signal bahwa aku sudah sangat ingin untuk dilamar.

Aku hanya diam. Adakah yang salah denganku. Adakah sosok lain yang lebih menarik perhatianku? Sepertinya tidak ada. Aku bukan orang yang memiliki banyak simpanan lelaki cadangan. Jika aku sudah memutuskan, maka aku akan berusaha keras untuk bertahan dengan keputusan yang sudah aku jabarkan. Namun kali ini rasanya berbeda.

Pikiranku mengudara. Secangkir kopi Lintong yang menemani sore hariku ini rasanya terasa hambar.

“Kalau tidak ada hal yang berubah denganku, namun mengapa seakan Tuhan merubah keputusannya untuk mengizinkanku bersama Argan? Hmmm. Adakah perubahan dari seorang Argan?? Akan aku selidiki,“ gumamku dalam hati sambil meminta waiter untuk membawakan bill untuk secangkir kopiku hari ini.

***

Dirumah.

“Sayang, ada Argan di depan,” ujar mama padaku saat aku baru saja selesai menyantap satu pecahan alquran, yakni juz 15. Rutinitas keluargaku usai magrib adalah menyantap juz dan memahami terjemahannya secara bersama-sama. Kali ini mama tidak ikut bergabung dalam pengajian sederhana keluarga kami, karena mama sedang berhalangan.

Aku menoleh pada papa. Dan papaku tersenyum. Namun dengan reaksi wajahku yang tak ku sadari sepertinya papa telah menangkap signal tak nyaman dari wajahku.

“Ada apa?,” tanya papa lembut pada puteri kecilnya

Aku menggeleng sambil tersenyum datar.

Seolah aku merasa terganggu dengan kedatangannya kali ini. Pikiranku berkecamuk. Harus aku jawab apa lagi jika kemantapanku untuk menjawab belum datang menghampiri. Aku bosan di desak seperti ini.  Aku rasa dengan usiaku yang belum genap dua puluh lima tahun, seharusnya aku masih bisa sedikit bernafas untuk sekedar bersantai dalam memilih dan dipilih.

Aku menghampiri Argan dengan gontai.

“Ono opo?,” ujarku bernada malas

“Kusut amat non. Belum makan ya?”

“Belum. Baru selesai ngaji sama papa. Tumben kesininya ga ngabarin dulu”

“Aku telfonin kamu dari tadi taauuu. Tapi no responds. Makanya aku langsung kesini”

“Hoo. Emang ada apaan?”

“Pergi yuk.. bentar,”

“Kemana?”

“Kemana aja”

“Iya kemana dulu. Nanti kalau orang rumah nanya aku musti jawab apa?”

“Yaa bilang aja kerumahku”

“Hmm? Mau ngapain ya?” tanyaku sarkas

“Ya ampun non. Kan Cuma izinnya doang. Belum tentu juga bener kerumahku”

“Hmm? Kok kamu jadi ngajarin aku bohong?”

“Ini bukan bohong tauukk. Tapi buat alasan supaya orang tua kamu gak khawatir aja. Kan kita belum tau mau pergi kemana”

“Sejak kapan kamu pinter buat pembenaran gini?”

“Kok kamu jadi kaku banget gini sih. Kita kan udah mau nikah. Pasti orang tua kamu ngertilah kalau kita sering pergi bareng.”

“Aku kayaknya kaku untuk urusan kejujuran itu dari dulu deh. Bukannya karena itu ya, kamu jadi deketin aku pas jaman aku jadi bendahara OSIS angkatan kamu di SMA dulu.”

Ia tak berkutik. Aku menatapnya dengan otak yang tak berhenti menganalisa setiap gerak-geriknya. Dugaanku tentang adanya sesuatu yang berubah darinya seolah mendekati derajat kebenaran.

“Jadi gak mau ikut?”

“Dikalimatku yang mana sampai akhirnya kamu bisa nyimpulin hal itu?”

“Ya terus?”

“Kamu sendiri aja belum tahu kita mau kemana, terus ngapain aku ikut sama yang masih belum jelas mau kemana?”

“Yaudah sih, mikirnya nanti aja sambil jalan”

“Iya tapi aku izinnya gimana?”

“Ya makanya tadi aku bilang, bilang aja kemana kek gitu. Emang musti banget exact tahu apa kita mau pergi kemananya. Kayak orang tua kamu bakal ngecek aja kita kemana dan mau ngapain?”

Kepalaku semakin kencang bergemuruh dan membuat banyak asumsi-asumsi yang harus aku buktikan validasinya.

Aku sebenarnya masih ingin membantai ucapan terakhirnya. Tapi aku lebih berminat untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya.

Aku menatapnya dalam. Ia terlihat malas dengan tatapanku.

Apakah ini ujian bagi yang ingin menikah? Tapi tunggu. Kami belum mempersiapkan apapun. Bahkan jawaban dari lamarannya pun belum aku jawab. Lalu apa maksudnya pertengkaran dan ketaknyamanan ini??

***

“Kamu cantik banget pakai baju warna itu.” Puji Argan sambil menatapku

“Hihihi. Masa? Yaudah kalau gitu nanti beli lagi deh baju yang warnanya begini”

“Iya, cocok sama kulit kamu. Hehe”

“Thank You. So, where we go?”

“Hmm.. makan tongseng kambing gimana?”

“Yaaah, Aku kan abis cabut gigi. Ada tawaran lain?”

“Hmm apa ya? Hmm.. pacaran aja yuk dimobil?”

“Ha?? apa maksudnya?”

“Maksudnya ngobrol aja gituu di mobil”

“Yekali. Kalau gitu mah yaa tadi dirumah aja. Kan aku belum makan”

“Tadi diajakin makan, katanya abis cabut gigi,”

“Ya tapi kan gak berarti aku bilang aku gak pengen makan kan??”

“Yaudah yaudah, mau makan apa?”

“Hmm, makan mie ramen ajaaaa. Aku pengeenn ihihi”

“Yang dimana?”

“Yang di deket kampus kamu aja tuh. Enak. Gak pedes dan mie nya banyak eheheh”

“Males ah. Macet kalau jam segini”

“Yaudah nanti gantian aja nyetirnya. Aku kepengen banget soalnya”

“Yaelaahh kayak ibu hamil aja”

“Biarin..”

“Yaudah nyamper temen aku dulu bentar. Ngasih memori. Laper banget gak?”

“Aku santai kok, tadi udah sempet nyemil-nyemil dikit sih dirumah”

“Okeee”

15 menit kemudian.

“Lah, memorinya kemana yak?”

Aku ikut celingukan membantu Argan mencari

“Tadi emang taronya dimana?”

“Tadi diliat-liat sama Dini soalnya. Aku suruh taro sini lagi, tau dia udah taro apa belum. Aku gak ngecek lagi”

“Dini? Siapa tuh?”

“Oh iya, aku lupa cerita. Dia model buat majalah edisi bulan depan”

“Terus apa maksudnya tadi dipegang-pegang dia? Emang kamu dari mana?”

“Yaa dari kantor lah. Dia nebeng karena rumahnya searah. Tadi ujan juga, makanya aku ajakin bareng. Dia lagi gak bawa kendaraan soalnya. Naik taxi pasti macet, mahal pasti.”

“Duh, baiknya.. sampai rumah?”

“Iyalah. Aku kan tanggung jawab”

“Hmm.. rumahnya dimana?”

“Gak jauh sih dari rumah. Dia tinggal di Bright”

“Ohh, tinggal di apartemen. Sama siapa dia di apartemen? Keluarga?”

“Anak rantauan katanya”

“Hmm.. dalam juga yaa eksplorasinya.” ujarku santai padahal sebenarnya gondok

“Teh hangat buatannya enak?,” lanjutku

“Lumayan sih, tapi enakan buatan kamu. Ga terlalu manis”

“Hmm gitu. Asik dong anaknya?”

“Lumayan nyambung sih. Cantik, dan supel juga. Padahal dia kenal aku baru tapi yaa sudah curhat-curhat pribadi gitu”

“Hmm… kamu curhat balik juga dong”

“Iya.. aku curhatin kamu. Yang lama banget kalau disuruh buat keputusan”

“Dia single??”

“Engga, punya pacar katanya”

“Dikasih liat foto pacarnya?”

“Ada fotonya sih di ruang tamunya”

“Di kamarnya???”

“Ya kali aku masuk-masuk kamar. Meski diajakin sih tapi aku tolak lah. Aku kan punya kamu”

“Emang kalau ga punya aku, mau?

“Yaa aku kan lelaki normal. Kalau dipikir enaknya mah pasti aku mau, tapi kan aku punya kamu.”

“Maksudnya punya aku?”

“Yaa ngapain aku minta dari perempuan lain, kalau aku bisa minta sama pacar aku sendiri”

“Maksudnya minta apa?”

“Yaelah, kamu kayak gak ngerti aja. Belajar pahamin laki-lakinya ditinggiin lah”

Aku menutup pintu sarkastikku sementara. Aku diam.

“Din, tadi lu kan megang-megang memori kamera, lu taro dimana?,” ujar Argan pada gagang ponselnya.

“Hoo, yowis. Oke. Pantesan gue cariin di tempat koin ga ada. Sip deh” ujarnya lagi sambil menekan tombol End pada ponselnya

“Dimana? Yahh, ujan lagi” tanyaku ingin membantu, sambil melihat keadaan di luar mobil

“Di jok katanya.”

“Ha? jok sini??” ujarku celingukan. “Aku ga berasa dudukin apa-apa deh”

“Memorinya kecil yaaaang. Yaa pasti ga berasa lah”

“Akukan kalau duduk selalu ngecek dulu aku akan nindihin apa. Tadi aku gak ngeliat apa-apa kok”

“Yaa jatuh palingan. Coba tolongin cari. Ini si Arif berisik banget nanya posisi melulu”

Akupun menuruti permintaanya untuk mencari di sekitar jok area aku duduk. Tak ada. “Mungkin di kolong” pikirku. Akupun mendorong ruas bawah jok mobil sambil tetap sibuk mencari. Tetap tak ada.”

“Ga ada yaaangg. Jatuh keluar kali”

“Ah jangan gitu doong. Hasil kerjaan aku tuh. kalau ilang yaaaa matilah sudah. Sini aku aja deh yang cari”

“Yaudah aku keluar dulu berarti?”

“Ngapain?, situ aja duduk. Di luar ujan juga” ujar Argan yang mulai sibuk mencari

Ketika aku sudah diminta untuk duduk diam, ya aku menuruti saja. Aku lalu sibuk mengecek beberapa social media di ponselku. Sibuk terbenam untuk scrolling update-an dari teman-temanku entah mengapa rasanya ada sesuatu yang tak biasa. Ada sesuatu yang terasa panas di telingaku.

“Kamu ngapain sih? Nyari ya nyari aja. Jangan nyari kesempatan deh. Sanaan ah!” elakku dengan sedikit ketus

“Dikit yaangg. Kan aku pengen juga kayak temen-temenku yang lain. Dapet jatah dari pacarnya. Masa aku dapet tangan doang”

Pikiranku makin bergemuruh kencang. Kalimat itu seperti menyundutkan sengatan listrik di kulitku.

“Iiihh apaan sih! Sanaa ah. Sempit taauuk”

“Yaudah minta dikit”

“Minta apaan??”

“Cium kek, peluk kek, apa kek. Masa tangan mulu. Bosen lah. Udah delapan taun juga. Masa aku Cuma dapet tangan doang buat di ciumin”

Wajahnya sudah benar-benar dekat dengan wajahku. Tangannya pun dengan lincah menurunkan ruas jok yang sedang aku duduki hingga posisi jok menjadi 180 derajat.

“Kamu mau ngapain?”

“Ga ngapa-ngapain. Kan aku tadi mau nyari memori card”

“Yaa nyari memori card gak begini juga kali posisinya. Awas ah. Aku pindah ke belakang aja”

“Engga. Kamu disini dan tetap begini. Susah banget sih dimintain baik-baik. Emang harus dipaksa dan dikasarin dulu ya kayaknya”

“Ihhh missii ah. Ngapain sih kamu. Berat tauk”

“Aku bilang engga ya engga!! Udah kamu diam aja. Aku kasih enak kok. Kamu tinggal terima aja.”

“Iiiihh enggaaaa!!! Gak mau!! Awas gak! Aku teriak nih!!”

“Engga!!!” tangannya sudah meraba leher dan juga pundakku.

Atas nama Tuhan aku takut! Tapi kenapa seolah aku sebelah pikiranku membiarkan semua ini terjadi. Aku sungguh merasakan jelas rabaan itu. Dan kini telah ke arah yang lebih sensitif.

“ARGAN!!!!” Teriakku kencang tepat di telinganya.

“Aku bilang engga ya engga!!! Awas ah!!!” Seka ku kasar

Ia tak bergeming, justru cengkramannya semakin menguat di lengan dan leherku.

Tuhaan. Ini gimana?? Aku takut. Badan Argan jauh lebih besar dan kekar dari aku yang hanya bertubuh kecil dan pendek.

“iiiihhhhh!!!! ENGGAA MAAAUU!!!!” teriakan dan tenagaku kali ini cukup membuat ia sedikit terpelanting beberapa senti dari tubuhku

“PULANG! AKU MAU PULANG SEKARANG!”

“Iya pasti nanti aku anter pulang abis aku nyium leher kamu dikit”

“ENGGAAA!!! PULANG SEKARANG!!!”

“OKAY!!! PULANG? PULANG AJA LO SENDIRI. BISA KAN??”

“YA BISA LAH! MENURUT LO??” sahutku tak kalah nyolot

Aku segera memasukan ponsel ke dalam tasku dan bergegas untuk kelaur mobil dan menerobos lebatnya hujan malam ini.

“PEREMPUAN SOK SUCI! CIH!” ujarnya kesal sambil menatapku nanar

Aku tersontak mendengar kalimat itu. Demi Langit dan Hujan malam ini. Aku seolah menyesal pernah menyukai dan menyayanginya sepanjang delapan tahun ini.

Aku tak bergeming. Aku hanya ingin pulang. Tak perduli akan seperti apa gadget dan juga isi tasku lainnya karena malam ini aku sedang membawa tas yang bahan materialnya menyerap air.

***

Tiga hari kemudian..

Aku beratifitas seperti biasa. Menyiapkan segala berkas untuk kebutuhan rapat dengan beberapa klienku.

Suara notifikasi ponselku berdenting tak karuan. Ketika aku lihat nama pengirimnya, aku langsung tak berminat untuk membaca apalagi membalasnya.

Seminggu kemudian..

Semua cara telah dilakukan Argan untuk menghubungiku. Namun tidak ada satupun dari caranya yang berhasil membuatku menaruh iba.

Sebulan kemudian..

Papa dan mama menatapku saat makan malam. Sejak peristiwa sebulan lalu, aku memang bertingkah seperti tak terjadi apa-apa. Namun karena sikap Argan yang gegabah dan seakan seperti serabutan dengan berbagai cara untuk menghubungiku. Orang tuakupun menjadi curiga.

“Kamu baik-baik aja kan sama Argan?” tanya Mama sambil menambahkan air putih pada gelas minumku

“Yapp. We are fine” jawabku santai

“We don’t think so, dear”

Aku hanya sibuk mengunyah dan menyuapi makanan ke mulutku. Aku bertingkah seolah sangat lapar, padahal sebenarnya sangat kesal.

“Let me handle this with my own way..” jawabku santai sambil tersenyum percaya diri

Orang tuaku saling tatap. Sebenarnya aku melihat guratan kekhawatiran mereka atas hubunganku namun aku tak perlu bersikap berlebihan untuk menghadapi hal ini.

“Kalau kalian sampai batal nikah, gimana?” tanya mama sedikit menunjukkan kekhawatiran di wajahnya

“Ya gak jodoh berarti.” Sahutku sederhana

Mamaku diam setelah aku menjawab kekhawatirannya barusan.

“Yang namanya jodoh itu gak mungkin tega menyakiti Ma. Santai dehh. Lagian aku belum tua-tua amat kok buat mempertimbangkan lagi”

“Papa percaya kok sama kemampuan kriminolog kesayangan papa. Urusan kasus kematian misterius korban pembunuhan aja kamu bisa atasi, masa Cuma ini kamu gak mampu”

“Yap. I’m on you Pa!”

“Tapi gak enak dong Pa kalau gak jadi. Kan kita udah deket banget sama kelurganya Argan”

“Yaa tetap berhubungan baik aja. Dimana masalahnya?” ujarku yang juga di amini oleh persetujuan pendapat oleh papa

Merasa tak ada yang membacking, Mamaku melanjutkan makan malamnya dengan wajah menyerah.

Haha. Aku dan papaku hanya tersenyum melihat reaksi wajah mamaku yang lebih mirip seperti orang yang kalah bertaruh.

***

Terdapat sekitar 389 chat dari Argan, namun tak sedikitpun ada yang menggelitikku untuk berkenan membacanya.

Ku kirimkan Argan sebuah email singkat bernotasi dingin untuk mengajaknya bertemu di sebuah café. Tak lama ponselku berdering. Akupun menekan tombol reject dan segera mengirimnya pesan singkat.

Langsung ketemu saja di café. Jam 11 siang. Trims

Di Café.

Sekitar setengah jam kami saling duduk berhadapan, namun tak satupun ada yang membuka pembicaraan. Terlebih diriku.

“Jam 3 ada meeting lagi di tempat lain. Kalau memang tidak ada bahan yang layak untuk dibicarakan. Mungkin saya bisa pamit duluan,” ujarku membuka pembicaraan

Dia tak bergumam. Seolah sedang berpikir keras untuk mencari kalimat yang tepat  dalam merangkai penjelasan.

Ia mengambil nafas panjang untuk memulai menjelaskan. Aku menatapnya.

“Sebenarnya ga ada barang apapun yang perlu dicari. Itu Cuma akal-akalan aku aja”

Aku tetap menatap dalam diam untuk menyimak.

“Aku Cuma gak mau aja diremehin sama temen-temenku. Kalau aku belum pernah sekalipun nyium kamu. Padahal kita udah delapan tahun bareng-bareng,”

“Aku Cuma mau tau aja gimana rasanya. Cuma itu”

“Buat apa?” akhirnya responku mengudara

“Buat pembuktianlah kalau aku laki-laki normal dan sama sekali bukan calon suami-suami yang takut isteri”

“Kamu akan jadi isteri aku. Dan kamu harus nurut sama aku. Karena yang aku akan jadi imam buat hidup kamu. Aku yang ngatur kamu, bukannya kebalik!”

Aku menghela nafas. Aku ingin sekali membalas. Namun rasanya belum tepat.

“Kamu tahu gak sih aku kesiksa!! Aku kesiksa sama kepribadian kamu. Aku kesiksa sama kemampuan kamu, aku kesiksa sama penghasilan kamu dan aku sangat tersiksa dengan semua kesempurnaan kamu. Tapi semua itu aku tahan. Aku tahan sendiri. Udah dari lama aku ngerasa ini. Tapi karena aku terlalu muak untuk selalu nahan ini terus-terusan makanya aku lepasinya sekarang. Biar korengnya gak makin busuk”

“Apa maksudnya?”

Ia lagi-lagi menghela nafas dengan berat. Lalu berusaha mengontrol emosinya sendiri.

“Dari awal aku suka kamu, karena memang kamu gadis yang pintar tapi tetap ngerasa biasanya aja. Bahkan seringnya kamu menutupi itu dari orang lain. Tapi kalau emang kamu lagi keras, kamu luapin semuanya. Dan aku bisa nangkap bahwa memang kamu cerdas. Sementara aku? Aku memang dulunya banyak teman karena aku ketua OSIS dan ketua Senat kampus, tapi kalau dari kualitas kampus kamu sama kampus aku. Aku tetep aja Cuma seujung kuku jari kamu.”

“Kamu dapet beasiswa sana sini. Kesana kemari, padahal kamu orang ada. Orang tua kamu mampu tapi kamu malah milih untuk mandiri, sementara aku Cuma sibuk ngurusin organisasi. Dan ngeselinnya kamu gak pernah malu dan ngerasa aneh berhubungan sama aku. Kamu sadar gak sih kalau semua temenku yang cowok suka sama kamu!! mereka semua lebih baik, lebih pinter dan lebih bagus keuangannya dari aku tapi ngapain kamu milih nyaman sama aku. NGAPAIN??”

“Gak perlu pakai teriak kayaknya. Kupingku masih fungsi dengan baik kok. Santai aja” sahutku

“Aku benci kamu karena aku ngerasa aku sangat kalah jauh dengan kamu. ditambah lagi aku harus ikutin prinsip hidup kamu yang sampai akhirnya aku di cap barisan suami-suami takut isteri sama banyak orang. Aku gak mau!! ENGGA MAU!”

“Kamu gak tau kan gimana pusingnya aku buat nahan diri kalau kamu lagi cantik banget pas kita lagi jalan. Aku pusing Vir, aku pusing bangeett. Cowok lain bisa leluasa nyiam-nyium dan meluk ceweknya tapi aku engga. Aku Cuma dapet tangan kamu DOANG selama DELAPAN TAHUN KITA PACARAN. Kurang culun apa aku???”

Aku tersenyum geli mendengar kemarahannya kali ini.

“Tuh kan!! Kamu malah cuman senyum. Ngeselin banget kan!”

“Aku udah pernah bilang ‘kan, kamu gak perlu masuk agency itu. Lingkungan disana gak bagus buat kamu yang mudah terbawa arus.”

“Kamu ngapain malah ngerembet bahas hal yang lain? Gak ada hubungannya sama sekalilah sama kerjaan aku. Ini murni antara aku sama kamu yang sok suci!”

Aku menyeruput capucinnoku yang tak lagi hangat karena telalu lama aku abaikan saat mendengarkan kemarahan Argan.

“Untungnya café ini sepi ya. Jadi kamu bisa leluasa ngomong lumayan kencang tanpa perlu dikepoin orang.” Ujarku santai

“Kan, tai banget banget kan,” gumamnya kesal

Ketika mendengar kalimat itu, sontak aku benar-benar tak lagi merasa perlu untuk menahan kekesalanku.

“Ngomong apa barusan? Aku kurang jelas deh..”

“Engga. Lupain aja”

“Kita mungkin memang ditakdirkan hanya untuk menjadi teman.”

“Apaan sih!!”

“Pertama ya. Salah aku dimana kalau aku jadi orang yang menurutmu pintar? Aku jadi pintar bukan buat mengerendahin kamu atau siapapun. Tapi murni buat orang tua aku yang mati-matian nyari uang pinjaman saat keuangan papa lagi buruk pas dulu aku kecil. Salah aku dimana kalau aku gak mau ngerepotin mereka lagi untuk hal-hal yang memang jadi pilihan aku untuk mendalami sesuatu? Salah aku dimana kalau aku lebih milih barisan untuk ikut apa yang diperintahkan Tuhan? Tolong jawab salah aku dimana? Dan dimana kalimat aku yang pernah ngerendahin kamu apalagi ngungkit-ngungkit masalah IP atau apapun?? D I M A N A???”

“Kalau kamu nilai aku sok suci berarti kamu menghina Tuhanmu sendiri yang merintahin buat jaga diri sampai jodoh yang diizinkan-Nya datang menghampiri.”

“Aku udah bilang, kamu gak perlu pindah kerja ke tempat yang justru akan menurunkan kadar kualitas keimanan. Kamu yang ga mau dengerin saranku sama sekali. Aku udah selidikin perusahaan tempat kamu kerja sekarang itu terlalu bebas. Sampai akhirnya kamu juga ikut terbawa arus yang deras. Aku udah curiga dari awal sama perubahan hidup kamu. Kamu jadi lebih asik balas mention daripada solat. Hafalan juz amma kamu juga gak nambah-nambah kan? Dan aku pernah pergokin kamu lebih milih untuk direct syuting iklan dari pada solat Jumat. Dan yang kayak gitu harus aku maklumkan untuk jadi imam kehidupan. BIG NO, BRO!!”

“Kamu itu lebih senior dari aku. Seharusnya bisa lebih dewasa dari aku. Gimana bisa aku ngebiarin kamu ngatur hidup aku kalau kamunya sendiri urus dirimu aja masih kalang kabut. Aku turun tangan ngurusin dan ngatur hidup kamu dari kamu bangun pagi sampai tidur karena memang kamu yang minta kan dulunya? Lupa? Dan karena aku paham kamu tipe orang yang mudah terbawa arus karena karakter plegmatismu itu yaa jadinya aku memang seolah menyetir hidupmu. Tapi Demi Tuhan aku gak pernah bermaksud apapun, apalagi sampai berpikiran kalau kamu harus takluk sama aku. Buat apa? Kamu lebih punya Tuhan dan orang tua yang lebih layak untuk di takuti. Bukan aku. Tapi, sejak kamu gak solat jumat itu aku jadi makin berpikir bahwa sama perintah wajib Tuhan bagi laki-laki aja kamu abaikan apalagi omongan aku.”

“Aku tau sekarang kamu ngerokok. Sekarang kamu minum dan sekarang kamu udah mulai sering clubbing.”

“Aku sudah perhitungkan kalau kamu akan begini dikemudian hari. Karena dari dulu kamu selalu jadi anak lelaki baik-baik. Gak pernah ikut-ikutan yang aneh-aneh. Makanya aku suka kamu. Meski banyak hal yang harus aku maklumi kalau kita lagi ngobrol terus kamu kadang suka lama loadingnya. Tapi aku bisa maklum dan berlagak seperti tidak merasa gimana-gimana.”

“Aku paham, pasti ada saatnya kamu mau coba banyak hal yang belum pernah kamu coba sebelumnya. Tapi aku gak pernah nyangka kalau akan terjadi selama ini. Aku pikir, kamu akan ‘bandel’ saat masih kuliah dulu. Saat aku masih kesana-kemari dulu. Tapi justru malah sekarang. Saat kamu lagi nunggu jawaban aku buat jadi isteri kamu malah kamu baru memulai dunia kelammu. Dan tentu aja aku gak mau.”

“Silahkan kamu nikmati dunia pilihanmu saat ini. Karena setelah penjabaranmu tadi, aku rasa aku gak perlu lagi melakukan hal yang sama pada orang yang ternyata tidak berkenan menerima. Dan aku minta maaf kalau gak pernah menyadari rasa sakitmu selama ini.”

“Dan dengan tanpa mengurangi rasa sayang aku ke kamu, aku minta maaf untuk tidak akan menyerahkan hidupku pada orang yang belum matang dengan dirinya sendiri. Aku tetap sayang sama kamu sebagai orang baik yang pernah ngejaga aku, sebelum malam itu. Karena setelah malam itu, pikiranku berubah. Penilaianku tentang kamu drop! Aku takut bahkan jijik sama kamu”

“Vir, aku minta maaf soal malam itu.”

“Iya sudah aku maafkan. Tapi sorry, aku belum bisa melupakan.”

“Vir..” wajahnya sungguh meminta iba

“Kamu berani bentak aku. Padahal orang tuaku dan semua guru-guru aku gak ada yang pernah ngelakuin hal itu. Kamu teriakin aku dan kamu hina aku. Sungguh terima kasih banyak dengan semua perubahanmu.”

Ia menunduk malu.

“Terakhir, aku tau kamu sudah berzina dengan beberapa modelmu itu. Dan sekarang aku paham alasannya, karena memang kamu gak bisa lebih lebih kuat dari nafsumu sendiri. Dan kalau aku masih harus memaklumi, otak dan hati aku berarti yang udah gak berfungsi!”

“Aku sedang belajar untuk tidak membenci kamu. Tapi itu sangat butuh waktu.”

“Dan aku berterima kasih sama Tuhan karena sudah menunjukkan jawaban sebenarnya dari yang aku tanya dan khawatirkan.”

“Maaf ya, aku ada meeting lanjutan. Udah jam setengah 3. Nanti aku telat. Billnya aku minta spread aja. Jadi kita bayar masing-masing karena kalau aku inisatif bayar pasti kamu ngiranya aku ngerendahin kamu lagi kan??

“Vir.. Vira..”

“Tuhan yang Maha pemaaf, bukan aku. Permisi”

Aku pergi dengan hati gamang. Aku tak pernah bisa meneteskan air mata didepan seseorang. Apalagi seseorang yang menghinaku luar dan dalam. Sungguh sakit rasanya. Tapi aku tetap percaya bahwa semua ini adalah kebaikan dari tujuan Tuhan.

Tiga tahun kemudian..

Aku kembali bertemu Argan disebuah launching produk sabun kecantikan. Ia tampak terlihat lusuh, lebih kurus dan seperti tak terawat. Aku berusaha untuk tak terlalu mempedulikan saat menatapnya. Karena aku seakan teringat kembali bagaimana ia memberiku panggilan sebagai perempuan sok suci waktu itu.

Ia pun tersenyum kearahku sambil setelahnya melirik ke arah anakku yang kini berusia satu setengah tahun. Aku hanya bisa berdoa semoga ia diampuni Tuhan atas segala pilihan dalam hidupnya kini.

Atas nama Tuhan aku sesungguhnya masih menyimpan sayang padanya. Namun karena telah dikecewakan, maka aku kembalikan rasa sayang itu pada yang Maha Penyanyang.

Demikian,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu Adalah Bukan
%d bloggers like this: