Hari ini aku menatapnya dari kejauhan. Sambil tak henti-hentinya tersenyum simpul sekaligus sesekali menahan rasa geli bercampur aneh.

Mengapa harus ada pengakuan disaat hati dan kenyatan masih perlu di pertanyakan?

Namanya Irga. Seorang robot berjenis kelamin lelaki yang sudah sejak lama di dekatkan dengan paksa oleh rekan-rekan kerjaku. Anehnya, ia pun sama sepertiku. Tidak menolak dan tidak pula menerima. Entah apa maksudnya.

Sementara maksudku membiarkan semua ini berjalan dengan sesuai rencana Tuhan saja. Karena memang kunci pintu dan gembok hati ku sudah ku titipkan pada Tuhan seutuhnya. Yang tersisa mungkin hanya angan dan asa untuk sesekali berpikir logis mengenai kelayakan dan mencocokkan dengan hal-hal yang selama ini aku cari dan aku butuhkan.

Sejak diawal aku sebut ia robot. Iya!, pikiran jelekku mengatakan Tuhan sepertinya lupa menyelipkan perasaan di dalam dirinya. Karena ia sangat bahkan terlalu tidak punya perasaan bagi pemahamanku. Yang melogiskan semua hal kecuali masalah ibadah. Hmmm. Tampak menyedihkan jika bertakdir sebagai pendamping dirinya. Wajar toh, jika aku berpikiran seperti itu padanya. Manusia mesin algoritma.

Pertama kali mengenalku saja yang ia tanyakan adalah sudah berapa gelas air mineral yang aku minum pada hari itu, pun menanyakan warna urine yang keluar. Ya aku paham jika ia mungkin sangat peduli mengenai kesehatanku, namun haruskah hal itu di pertanyakan di perbicangan pertama pada pertemuan pertama pula? Dimana pula keharusanku menjawab pertanyaan pembuka anehnya itu?

***

Aku belum pernah mencintai laki-laki di dalam hidupku selain ayah. Mengenal dan menyukai lelaki tampan ya memang cukup sering. Apalagi jika lelaki itu secara kasat mata memiliki hal-hal yang menarik perhatianku. Tapi untuk memiliki dan menanam perasaan yang dalam hingga akar, aku rasa, alam sadarku belum pernah merasakannya.

Usiaku sudah menginjak kepala tiga. Orang tua bahkan semua teman dan sahabatku sudah lelah bahkan hampir menyerah untuk memaksa dan mengenalkan aku dengan banyak lelaki baik nan berkualitas. Namun kembali, apa dayaku jika memang hatiku belum mantap berkata “insya Allah” pada lelaki sebaik dan seberkualitas apapun.

Sekalipun takdir terburuk datang pun sudah ku persiapkan dengan matang.
Jika memang dalam kurun waktu dua tahun mendatang tetap rasanya sulit mengucap “yakin” pada seseorang yang memintaku, aku akan melanjutkan studi s3 saja di luar negeri. Atau mempelajari bahasa dan budaya beberapa daerah di negeri ini. Ya, aku mantap untuk memilih bersembunyi di pelosok negeri jika memang aku menjadi beban dan mencoreng nama baik keluargaku karena statusku yang belum berubah sejak lahir. Sementara anak dari sepupu yang usianya lebih muda dariku saja anaknya sudah ingin masuk sekolah menengah pertama.

Aku tak ingin membahas bagaimana kultur orang tuaku. Terlalu menyayat hati untuk diingat dan diceritakan secara gamblang disini.

Sejatinya ada satu lelaki yang ku tunggu, namun aku sudah menganggapnya mati karena keputus asaannya sendiri di tujuh tahun silam.

Sementara robot panda ini, ia jauh lebih sering membuat hatiku perih dibanding membuatku tersenyum ataupun tertawa. Tapi anehnya aku merasa aku sedang seperti bersama orang yang telah lama aku kenal jika berada didekatnya. Hmm, baiklah, aku seperti merasa didekat ayahku. Tapi badan ayahku tidak segempal dia!

Dari banyak alkisah yang diceritakan oleh teman-temanku. Ia hampir sama sepertiku. Lebih memilih menyendiri dan mementingkan kemapanan dibanding berpacaran.

Awalnya aku tak berminat untuk mempedulikan secara mendalam, namun anehnya si robot panda ini selalu membuat aku penasaran karena kebisu-an dan ke-kaku-annya pada wanita. Bagiku hal langka ini cukup menarik minat untuk diselidiki. Maklum saja, karena ayahpun begitu. Ayah bukan tipe lelaki yang mudah berkawan dan nyaman berlama-lama dengan wanita.

Entah apa maksud Tuhan, tiga tahun sejak kami pertama kali bersalaman untuk bertukar info mengenai nama, kami tak pernah lagi saling komunikasi. Kemudian tiba-tiba di tahun ini kami diminta bekerja sama dalam beberapa project. Hal inilah yang semakin membuat teman-temanku yakin bahwa ia adalah jawaban dari harapan semua orang yang menyayangiku.

***

Aku terdiam

Rasanya hambar untuk menyetujui perkataan mereka secara mendalam.

Aku hanya tersenyum dengan hati yang tetap membungkam.

Aku adalah seorang event planner. usahaku Alhamdulillah meroket cukup jauh ketika bekerja sama dengan catering milik si robot panda ini. Hampir semua klienku senang dan puas dengan makanan dari catering miliknya. Entahlah. Harapanku tetap kosong, semoga ini bukan olok-olokan dari teman-temanku untuk menjadikan semua ini seperti sinetron ftv.

Beberapa kali sudah ku coba menukar cateringnya dengan vendor catering lain yang ku percaya sama baik dan enak dengan makanannnya. Tapi tampaknya jauh lebih banyak yang menyenangi makanan dari catering si robot panda ini. Padahal menurutku sama saja dengan yang lain. Sampai akhirnya aku menyerah. Baiklah. Rezeki dari Tuhan itu memang datang dan diperuntukkan untuk dia. Jadi seberapapun aku berusaha menggagalkan, tetap saja ujungnya kembali pada sang pemilik rezeki. Menyebalkan, bukan? Siapa? Aku atau dia? Hmm. Terserah kau saja.

Sini biarku ceritakan dulu tentang dia. Dia itu ya,  yaampun… Sungguh jauh dari harapan. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan harapan dan juga pemahamanku. Hingga aku tak paham lagi bagaimana aku bisa bertahan lebih lama jika bukan karena Tuhan dan klienku yang menginginkan hal ini terjadi. Perang dingin acapkali terjadi setiap kali kami berdiskusi. Hingga aku pernah sesekali berpikir rasanya aku bosan hidup jika harus kembali melihat makhluk itu di hari-hari panjangku.

Berlatar belakang psikologi, sangat bodoh jika aku tak berusaha memahami ia terlebih dahulu. Meski dalam beberapa hal aku sudah berusaha “mengalah” namun tetap saja membuatku sebal karena ia benar-benar tak mau mengalah untuk sebaliknya mau mengerti pemahamanku.

***

Waktu berlanjut lamban.

Aku menyendiri dibalik kerinduan.

Rindu untuk berbagi dengan lelaki pujaan.

Sebagai tempat sandaran

Dikala kesendirian sudah tak lagi mampu ditahan

Mataku memandang pepohonan rindang. Mawar-mawar putih mengelilingi lokasi tempat aku berdiri. Setahun terakhir berpartner dengan dirinya baru kali ini aku merasa aneh. Menggelikan sekali perasaanku kali ini. Entah mengapa aku tersipu melihat gaya si robot panda yang berbeda dari biasanya. Ia memakai baju rapih dan juga berdasi kupu-kupu yang terlihat sedikit lebih memikat mata dan juga teman-temannya.

Anganku mengudara. Aku sungguh membenci perbedaan kami. Cara pandang dan pemahaman kami di beberapa sisi dan juga sikap bisunya, Benar-benar membuatku jengkel bahwa itu tandanya aku harus menjadi lebih agresif dari seharusnya.

Aku benci karena harus selalu aku yang menjadi penyeimbang. Setiap kali kalimatnya menusuk hatiku. Dan yang mengherankan, aku hanya bisa menangis, berbeda ketika aku menghadapi orang lain. Aku dibuat tak berdaya jika bersamanya. Kekuatanku hanya air mata dan makan es krim lebih banyak dari biasanya. Padahal jika bersama orang lain aku bisa sangat kejam bahkan seperti orang dari suku bar-bar yang tak kenal permohonan maaf.

Ia tak pernah menatapku atau bersedia duduk disampingku. Entahlah. Aku merasa seperti kotoran kuda yang sengaja di jauhinya supaya terhindar dari noda.

Aku benci sekali caranya. Namun mengapa aku justru malah tetap membiarkan scenario Tuhan ini berjalan dengan sangat cepat dan di luar kendaliku. Aku kembali membungkam.

Rasanya ingin marah dan menyesali semua yang baru saja terjadi ini. Hingga sebuah video dalam giant screen mengejutkan aku seketika. Merubah paradigmaku untuk menyesali segalanya. Suaranya mulai mengudara hingga ke telinga dan merajam saraf otakku untuk berkonsentrasi dan menyimaknya…

Aku tidak pernah menatap, bukan karena aku tak peduli

Justru karena aku sangat menikmati

Bagiku, kesalnya dirimu adalah kemenanganku

Karena dapat puas melihat ekspresi halus hatimu.

Untuk wanita yang selalu menghantui hari-hari panjangku

Hatiku bukan untuk di prediksi atau di analisa seperti kebiasaanmu

Tapi untuk di isi dengan suara dan gelak tawamu yang selalu mengganggu konsentrasiku

Mengapa nyamuk sepertimu harus menjadi pilihanku, ya?

Aku tak peduli dengan jawabannya, karena aku sudah merasakan harmonisasinya

Alur skenario Tuhan jauh lebih bagus dari rencanamu, wanita banyak bicara!

Aku memang membencimu karena sulitnya untukku mengerti bagaimana

dan apa sebenarnya maumu yang tak berdefinisi dan tak beraturan itu

Tapi aku sudahlah. Aku sudah terlanjur ikhlas memilihmu

Untuk menjadi ibu dari cintaku dan pengisi relung hatiku

Yang selama ini terlalu lama membeku

Karena menahun kagum pada seseorang yang aku anggap, matahari jiwaku,

Mariana Sitepu.

_Irga Dwi Putra

Air mataku berderu. Haru ini terlalu sulit aku tangkis meski dengan gengsi setinggi langit. Kini si robot panda ini telah menjadi teman dalam hidupku.

Aku dipilihnya dengan cara yang begitu ambigu. Dengan scenario yang hanya ia dan Tuhan saja yang tahu.

Aku ingin membencimu tapi apa dayaku jika dirimu yang ternyata adalah pelengkap relungku

Mau lari dan menolak sekeras apapun tetap saja aku akan jatuh di lubang yang sudah di siapkan Tuhan. Menyedihkan sebenarnya menjadi pilihanmu, tapi lagi-lagi apa dayaku.

Haha. Aku menyadari tentang betapa gengsiku yang setinggi gedung-gedung pecakar langit di ibu kota. Tapi percayalah, dibalik angkuhnya diriku. Sejak tiga tahun lalupun aku menyimpan namamu sebagai pilihan untuk menjadi teman hidupku

Meski di perjalanan, kebisuanmu selalu menjadi pengganggu di sepanjang hari dan mimpi-mimpi malamku.

Benar kata pepatah lama yang berbunyi:

jangan terlalu membenci

karena benci dengan cinta itu hanya dibatasi dengan seuntas tali

yang kemudian berkembang menjadi rajutan jemari

untuk menikmati sebuah cinta yang tengah bersemi

(2) Comments

  • Dimas muharam May 29, 2017 @ 10:42 pm

    Menarik, menarik sekali

    • dyanarazaly May 30, 2017 @ 11:38 am

      Alhamdulillah.. hehe. Thank you, cup 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Jendela Hati Si Robot Panda
%d bloggers like this: