Dari cerita temanku, yang sedang terjebak arus pilu

Aku seolah tersedak oleh ingatan tentang masa lalu

Yang hampir-hampir segalanya aku buat menjadi sendu

Juga kelabu

Perlahan aku mencatat banyak hal menarik dari pesakitan

Dari duka dan luka yang menghujam akar keceriaan

Juga dari rasa kesepian yang selalu menyiratkan ketragisan

Bahwa akulah satu-satunya yang paling membutuhkan segala perhatian dan kepedulian

Demi kegelapan malam yang mengandung banyak arti

Akupun perlahan mulai memahami

Dan menyusun ulang kepingan diri untuk kembali mengimani

Bahwa segala sesuatu memang selalu membutuhkan kematangan diri

Tak ada yang lebih beruntung antara kondisi ramai maupun sepi

Tak ada juga yang lebih utama dari kanan maupun kiri

Dan tak pula yang ada lebih tinggi derajatnya antara bulan dengan matahari

Karena segalanya memiliki maksud, tujuan dan waktu kerjanya sendiri-sendiri

Jika kita mau untuk sedikit saja lebih mendalami

Kita sebenarnya tak layak menghidupi rasa iri dan dengki

Karena, bila itu tetap kita lakoni

Itu sama saja kita meniru sikap iblis yang katanya harus kita musuhi

Padahal sebenarnya justeru kita tiru dan rawat diam-diam di dalam hati.

Detik ini

Saat aku merangkai dan menjahit tulisan ini disini

Aku mengimani satu hal yang lebih meringankan beban hati

Bahwa kebahagiaan itu tak lagi perlu dicari

Tak lagi perlu dicipta dengan memaksakan kemampuan diri

Tak pula untuk disugesti dengan pengandaian yang paling indah dan tinggi

Karena sugesti tetaplah sugesti, bukanlah kenyataan yang sedang terjadi

Aku kini lebih suka cara dan gaya yang sebenarnya saja

Tak perlu diandai-andai sedemikian rupa

Karena bila sudah waktunya untuk bahagia, ya bahagia saja

Begitu pula sebaliknya

Bila masih ada sisa waktunya untuk tersiksa dalam proses pembentukan jiwa

Ya biarkan saja juga

Karena yang aku imani saat ini yaa hanya melapangkan pemahaman diri

Bahwa segala halnya sudah dihitung oleh Tuhan Yang Maha Teliti

Tentang datang dan pergi

Tentang lahir, tumbuh maupun mati

Tentang sakit, sedih dan membenci

Juga tentang si bahagia itu sendiri.

Jadi saranku, tak perlu lagi bahagia itu dinanti

Melainkan hanya butuh dipahami

Bahwa saat ini, mungkin kita masih harus bercengkrama dengan rasa pedih, benci dan sepi

Jadi ya sudah saja jatah waktu itu dihabisi

Untuk kemudiannya kita bertemu dengan rasa yang baru lagi

Yakni rasa syukur yang betul-betul lebih berarti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Dimana Bahagia Itu?
%d bloggers like this: