Lima tahun menjalani fase hati yang pincang bukanlah sebuah perkara yang mudah untuk dihilangkan. Segala pertimbangan untuk menjadi pribadi yang berbeda demi melupakan masa lalu adalah sebuah hal yang diambil dengan berani oleh Mandy. Seorang wanita mandiri yang masih menikmati masa sendirinya dikala hampir semua rekan dan teman dekatnya telah memiliki anak-anak yang telah bersekolah di sekolah dasar.

Yang lebih berani adalah ketika ia dengan lapang dan tenang mengurusi pernikahan mantan gebetan sekaligus beberapa sosok lelaki yang telah menjadi pilihan hatinya. Namun ia sadar, ketika pilihannya tak berbalik memilih dirinya, ia pun lebih memilih untuk menyelesaikan pilihan itu dengan membantu perhelatan kehidupan baru antara mantan pilihannya dengan rivalnya hingga pagar kehidupan baru mereka yang disebut dengan gerbang pernikahan.

“Hati lu kebuat dari apaan sih Ndy?? Gila lu ya. Mau-maunya terus-terusan terima orderan dari mantan. Gue mah ogah! Kemarin Ivan, kemarinnya lagi Rendy, terus tahun lalu udah Roni sama Fikri. Dan bulan ini Ghani sama Haryo. Nanti siapa lagi??” ujar Dinda. Tim eksekusi di bisnis wedding plannerku

“Gak apa-apalah cuy. Itung-itung gue balas amal sama orang-orang yang pernah baik sama gue. ‘Kan dulu gue juga dianter jemput. dibayarin makan, nonton dan elu juga sering kena traktir kan?? Haha.”

Aku menghembuskan nafas dengan berat, “Hati gue mah udah jadi urusan Tuhan aja. Gak usah ikut lu pusingin. Gue yang di parkirin hati aja santai” ujarku sekena-nya ketika masih sibuk menata ruang dekorasi pernikahan Haryo dengan Kiki. Mantan gebetanku ketika awal ikut organisasi kuliah dulu.

“Mbak, gaun pengantin katanya nanti diantar sekitar jam 9 soalnya mbak Kiki minta ditambahin lagi payetnya.” Ujar Pram. Tim yang ku percaya untuk berbagai urusan angkut-angkut perlengkapan dan transportasi.

“Dari jam 8 udah lu pantau yaa mereka udah di daerah mana. Sampe sini telat, gak gue bayar aja. Gue makan dulu yak. Tolong diterusin deh.” ujarku sambil ngeloyor santai meninggalkan kesibukan timku yang mengatur dekorasi taman dan gazebo.

“Tjoy, music klasiknya udah bisa sound check kalau semua tim nya udah pada datang. Kalau nanti-nanti malah keburu siang kali. Panas. Sekalian mereka juga  bisa ikut di shoot untuk preparing session kayak yang lain” ujarku pada salah satu anggota tim equipment yang aku lupa namanya. Haha

“Siap Nyonyahh” sahutnya sambil meninggikan ibu jari kanannya kearahku.

Aku lapar dan haus sekali. Seingatku, terakhir aku makan sepertinya kemarin sore. Ya. begitulah. Aku rasanya tak punya nafsu makan jika hal-hal yang sedang running belum menunjukkan progress angka 70%.

Masih pukul 8.15 pagi. Rasanya aku ingin solat dhuha dulu baru setelahnya bebas menyantap bekal nasi goreng dan jus mangga yang tadi dibuatkan si embak dirumah.

10 menit kemudian,

Seusai mengambil wudhu dan solat dhuha 8 rakaat aku sedikit termenung. Seakan pertanyaan Dinda terdengar kembali di telinga.

“Iya juga ya. hati gue terbuat dari apaan yak. Mau-maunyaaa hehehe” ujarku pelan sambil cengengesan sendiri sambil menatap langit dan semburat sinar mentari pagi yang hangat.

Aku menghela napas panjang. Seusai berdoa dalam hati, yang isinya hanya aku dan Tuhan saja yang tahu. Aku memutuskan untuk hening sejenak, alias meditasi dengan teknik belly breath seperti yang pernah aku pelajari dari Sukha Citta Academy. Sebuah usaha milik temanku yang ampuh melatihku untuk mindfulness dan tenang dikala hati dan pikiran sedang berdemonstrasi secara bersamaan.

Sebenarnya dalam lubuk hatiku terdalam memang sering mangkel  jika menerima order dari lelaki pilihan hati yang tidak kembali memilihku ini, namun kenyataan dan logika lebih mampu menguasaiku untuk tetap logis, tenang dan justru menjulurkan bala bantuan untuk membantu acara pernikahan mereka. Dan saktinya, aku masih ikutan terjun dalam konsep dan meeting dengan calon pengantin. Lagi-lagi pertanyaan Dinda membelenggu lamunanku.

Namun logikaku tampaknya gerah, kini dengan lantang ia menjawab :

“Kan elu sendiri yang udah ngewakafin hati lu buat menerima semua keputusan dan pilihan Tuhan. Ya tinggal konsistensi diri lu aja buat ngejalanin keputusan lu itu”

Merasakan jawaban itu, hatiku rasanya seperti kabel yang diinjak lalu membuatku sedikit kesulitan untuk mengambil nafas. dan akhirnya hanya bisa merasakan dalam diam. Ketika mengingat kembali saat harus setuju dengan keputusan itu. Aku kembali berusaha menerima dan tenang sambil mengumpulkan seluruh konsentrasiku untuk menyadari dan membiarkan segalanya yang diinginkan Tuhan terjadi. Keputusan untuk fokus pada bisnisku, juga kelangsungan hidup tim dan impianku adalah yang lebih layak aku utamakan dibandingterlena dengan sakit dan perihnya hati. Biarlah aku tahan sampai memang waktunya datang menjemput dan aku diberikan remisi untuk bahagia karena telah berbaik hati menjaga hal yang tidak kusukai itu.

Aku tenggelam dalam fokus pikiran sadarku. Hanya menikmati tarikan dan hembusan nafas yang kini mengelilingi diriku. Hadiah termahal dan terindah dari Tuhan dalam hidup, yakni tidak adanya anggaran atau pinjaman yang harus dibayar untuk bernafas.

Dari kejauhan ada seseorang yang sedang sibuk menekan virtual keyboard ponselnya untuk menyampaikan sebuah pesan. Namun selalu failed. Lalu ia pun memutuskan untuk menelepon nomor tersebut, namun ia kurang beruntung karena yang menjawab hanya operator yang mengabarkan bahwa nomor tersebut sedang tidak aktif.

15 menit kemudian.

Aku membereskan peralatan solat dan bersegera menyantap sarapanku. Sungguh cacing-cacing perut ini sudah sangat rewel untuk mencerna makanan.

Saat melipat mukena, aku sebenarnya menyadari sesuatu. Namun karena aku masih belum mengenakan kacamata jadi aku tak terlalu menghiraukan hal tersebut. Dan setelah semua kembali rapi, aku memutuskan untuk makan bekal sarapanku agak menjauh dari area music entertainment. Tujuannya hanya ingin tahu apakah suaranya tetap baik meski dari kejauhan.

Sebelum makan berat, aku selalu membiasakan makan buah terlebih dahulu. Supaya lambungku tak kaget saat mencerna. Informasi aku adopsi dengan sangat baik karena hal itu aku dapat dari pakar kesehatan di Jerman saat aku dapat kesempatan short course di Berlin dulu. Jadi aku percaya bahwa hal itu baik, karena faktor sang penuturnya yang dapat dapat dipercaya kemampuan dan keahliannya hehe.

Saat asik mengunyah potongan-potongan melon orange dalam kotak bekalku, rasanya jantungku tiba-tiba bertukar posisi dengan lambung. Sosok bayangan lelaki berbadan tegap pun tiba-tiba berdiri tanpa rasa berdosa di sampingku. Ia pun memberikan senyuman embun yang langsung menyihir cacing-cacing perutku untuk diam, padahal tadinya sangat aktif protes dan berorasi karena lapar.

“Chandra?”, Ucapku pelan dengan ekspresi sarcastic semampu yang kubisa.

“Yes. Good Morning nona Mandy.” Ujarnya manis sambil melirik bekal sarapan di pangkuan pahaku

“Apa maksudnya?”

“Maksudnya apa?”

“Maksud ada disini dan ngelirik ini” ujarku kikuk sambil mengunyah cepat dan melindungi kotak makananku dari gangguan monster.

Ia hanya mengulumkan senyum dan menerbitkan lesung pipinya yang tak terlalu dalam ke arahku.

“Mau?” tanyaku sambil mengunyah pisang. Akhirnya aku yang duluan membuka omongan dan sok berbaik hati menawarkan makanan. Lagi-lagi tak bisa untuk tega. Payah!

Senyumnya membuncah sambil memanggutkan kepala dengan cepat.

Aku patahkan pisang menjadi dua bagian. Lalu aku berikan setengah bagian itu padanya, dan setengahnya lagi aku makan.

Ia tak bergeming.

“Ini” ujarku menekankan

“Mau yang itu aja” sahutnya sambil menunjuk potongan pisang yang sudah aku makan sebagian

Dahiku berkerut.

“Maunya makan pisang yang udah di gigit aja” ujarnya kembali menegaskan

Dengan menunjukkan raut wajah aneh, kuberikan potongan pisang yang sudah separuh aku makan. Lalu ia pun langsung mengambil dengan mulutnya sambil berekspresi seolah-olah menang pertandingan bulu tangkis.

Aku tak kaget dengan kelakuannya. Ia memang begitu. Aku bergegas merapihkan kotak bekal makan dan minumku lalu bersiap untuk pindah ke area lain untuk makan.

“Mau kemana?”

“Makanlah. Laper.”

“Emang disini kenapa?”

“ADA MONSTER LALAT. NANTI YANG ADA GUE BUKANNYA MAKAN MALAH NYUAPIN.” sahutku tenang sambil berjalan dengan pasti menjauhi dirinya

“hahaha!!! Gak diabisin kok, janji. nyobain aja. hahaa”

Aku tak percaya dan tetap pergi menjauhinya.

***

Biasanya ketika menyuap makanan ke dalam mulut, aku sudah lama sekali tidak sambil melakukan aktifitas lain, selain hanya berfokus pada makanan dan proses mengunyah makanan tersebut. Namun kali ini aku terpaksa melakukan kegiatan lain. Makan sambil mendengarkan music favoritku demi menutupi hal yang sedang aku rasakan.

Samar-samar aku mendengar alunan sebuah lagu yang familiar di telingaku. Lagu yang sudah membuat wanita kelepek-kelepek pada liriknya, lalu ditambah lagi dengan alunan musik klasik yang semakin memperindah jatuhnya untaian kata bagi setiap telinga penyuka lagunya.

Dealova. Judul lagu yang selalu membuatku meleleh tiap mendengar lirik dan juga harmonisasi lagunya. Pikiranku melanglang buana. Membuka jendela fatamorgana terdalam hatiku.

“Duh berabe. Melankolis bisa kumat nih denger lagu ginian” Gerutuku pelan sambil memasang lagi earphone ke sepasang telingaku dan membesarkan volume perangkat pemutar lagu ditanganku.

Dari kejauhan sepasang calon pengantin sudah tiba di lokasi. Sesuai rundown, kedua mempelai dipersilahkan menuju ruang body treatment sebelum di rias. Mandy menyadari kedatangan itu dan melirik jam di tangan kanannya.

“Good, Rintje” ujarku pada Rini sambil menekan tombol di salah satu bagian badan HT.

Dekorasi sudah bisa ku percayakan pada Dinda, begitu pula hal crusial lain. Sudah aku bagikan sesuai keunggulan masing-masing dalam timku.

“Setidaknya aku bisa tidur dua jam untuk recharge energy sebelum resepsi ngunduh mantu dimulai” batinku.

IMG_8043.PNG

Akupun menyandarkan tulang belakangku pada sebuah ayunan panjang yang terbuat dari kayu. Sebenarnya ayunan ini bisa dipakai untuk dekorasi foto tambahan, namun dikarenakan Haryo tidak menyetujuinya, jadilah ayunan ini tak terpakai. Tepat dibawah pohon rindang aku berdoa pada Tuhan untuk tidur ayamku atas ayunan berhias bunga ini. Dan karena seingatku aku masih dalam keadaan wudhu jadinya aku tak perlu wudhu lagi untuk menjagaku saat tidur. Ya, rutinitasku sebelum ingin tidur dengan sadar adalah berwudhu.

Satu Jam Kemudian

“Solat Ndy!!” ujar seseorang membangunkanku dari telepon.

Suara ibuku. Aku hapal betul suara dan nada judesnya yang membangunkanku untuk solat. Jadi aku tak perlu melihat lagi nomor yang meneleponku.

“Iyaaaakkk. Sabar” sahutku seadanya sambil menekan tombol End pada layar ponselku

5 menit kemudian ponselku kembali bordering.

“Iyeeee. Aheelaaahhh” ujarku kesal sambil mengucek-ngucek mata dan berjalan lunglai menuju kamar mandi untuk berwudhu.

Saat selesai wudhu aku kembali melihat Chandra di sebuah ruangan yang dinamakan mushola oleh pihak pengelola gedung.

“Yah, sajadahnya cuman satu? Terus gue pake apaan?” ujarku pada Chandra saat mengecek lemari musholla ternyata tidak ada lagi stock sajadah yang tersedia.

“Pakai jaket gue aja mau?”

“Gantian aja.” Tolakku datar

“Solaaattt Ndyyyyyy, buruaan!!! Udah bareng aja. Ntar asharnya keburu abis!!” teriak ibuku lagi dari kejauhan yang ternyata sedang memperhatikan diriku dari luar ruang musholla.

“Berisik beneer. Iyeeee” sahutku sebal. “Yaudah mana sini jaket lu, pinjem” ketusku pada Chandra

“Mau bareng sholatnya?”

Aku terdiam sejenak.

“Ndyyyyy. Udah jam berapa nihhh. Tuuhh, dikit lagi udah mau adzan Magrib Ndyyy. Gue tabok juga nih anak. Lama banget bilang iya doaangg”

“Ilahii Robbiii, iyeeee maaakkkk. Iyeeee. Lahaulaaa walakuataaaa” teriakku lagi.

“Yaudahlah yuk buruan.” Ujarku sambil buru-buru mengambil jaket Chandra dengan sedikit kasar.

Saat aku dalam posisi sujud, tiba-tiba terdengar suara

“Alhamdulillah. SHAH! Barakallah”

“HA? Lha ini kenapa jadi ijab qobul? Perasaan tadi lagi solat Ashar” ujarku bingung

“Udeh diem!! Gue demen dah ama yang enih. Cakep. Direktur lagi. Doa gue udahan dikabulin ama Allah. Tenang dah gue” bisik ibuku di telinga kanan dengan sangat jelas

Ketika aku ingin menoleh ke arah ibuku, yang aku lihat malah sosok Dinda.

“Woyyy!! Buset. Dari tadi gue telfonin bukannya bangun malah di reject. Itu liat dulu dekornya. Udah oke belum? Ada yang kurang ga?”

“Jam berapa sih?” tanyaku yang masih setengah sadar

“Setengah satu lewat non! Mestinya elu udah rapih, ini mandi aja belom. Bagus yang punya tempat orangnya baik. Jadi kita ga kena charge tambahan kalau misalkan ngaret dari waktu kesepakatan”.

“Iya apa? Tumben. Tapi bagus lah. Jadi bisa gue bantu promosiin nih villa buat wedding-wedding kita selanjutnya. Timbal balik lah.”

“Iyalah. Elu tidur aja di selimutin jaket nih gara-gara dari tadi lu tidur gegarukan mulu kayak mangki”

Wajahku hanya menunjukkan ekspresi sarcastic seperti biasa. Sebenarnya aku masih bingung, dengan mimpi dan juga yang sebenarnya terjadi.

“Nih jaket siapa?” tanyaku polos

“Jaket mas-nya tadi kayaknya”

“Mas-nya sopo?”

“Lu kan tau gue mana pernah kenal nama, tampang gue tahu”

Garuk-garuk pundak. “Terus ini punya siapa dong? Balikin gih.”

“Gue yang balikin? Yee, elu lah. Elu yang diselimutin. Ndy, gantian dong tidurnya. Lu re-check dulu sana kerjaan gue. Gue ngantuk banget aseli.”

“Okeehh Sist!!” ujarku sambil bangkit dari kursi malasku tadi.

Aku berjalan malas sambil berpikir dan mengingat-ingat kembali. “Tadi gue ngimpi apaan yak?? perasaan tadi inget banget, giliran mau diceritain malah lupa”

***

Pada pukul 15.00 kami telah bersiap dengan blazer resmi warna midnight blue dari brand yang kami usung yakni, The Ganyana, Englighten Wedding. Emblem yang terbuat dari karung goni pun telah siap bertengger pada lengan kiri setiap tim yang bertugas. Seluruh vendor hampir selesai dalam menjalankan tugasnya, kini bagian tim wedding planner, fotografer dan juga waiter dari catering yang bersiap untuk eksekusi lapangan. Acara akan dimulai dua puluh menit lagi.

“Gimana mbak? Udah oke semua?” tanya Tante Mira, ibu dari sang pengantin wanita yang memastikan padaku sambil membenarkan bulu mata palsunya di hadapan kaca rias.

“Insya Allah. Aman tante” sahutku ramah

“Mbak Mandy kapan nyusul? Yang ngurusin nikahan kok yoo malah beluman. Hihi” goda tante Mira lagi

“hehehe. Doain aja yaa tantee.”

“Doain mah pasti mbak, tapi kalau hatinya gak mau dibuka yaa gimana doa nya mau nembus” tandas Tante Mia

“Tuuhh dengerin tuhh omongan nyokap mertua gue.” Sambung Haryo sambil membenarkan posisi pocket square pada jas nya

“Apa dah lu.” Tungkasku cepat

“Yaelah Sist, sensi amat kayak pembantu baru, biasa aja kali. Hahaha” Ujar Beni, tim wedding stylist kepercayaanku

Aku melirik Beni dengan nanar. Awas aja dia sampai ngomong kalau Haryo itu mantan gebetanku dulu. Akan aku cabik-cabik mulutnya kalau sampai dia keceplosan ke Tante Mira.

“Tenang Sist. Gue masih pengen di gaji penuh kok” sindirnya halus sambil mencolek pundakku

“HAHA!!” aku tersenyum menang

Ketika acara makan bersama dan ramah tamah dimulai, aku mengambil posisi agak menjauh dari area lokal acara. Aku sudah memposkan tim-tim yang Insya Allah dapat ku percaya kredibilitasnya untuk menjalankan tugas ini dengan baik. Aku pun mengambil es potong dari sebuah gubukan catering tak jauh dari posisiku berdiri.

“Kayaknya mereka udah bisa gue tinggal nih.” Ujarku pelan sambil menyuapkan potongan es rasa kacang hijau itu kedalam mulutku

“Iyalah. Tinggal giliran yang ngurusin yang sekarang gantian diurusin” ujar seseorang dibelakangku

Aku melirik malas.

“Lapor ibu negera, sekarang tangan kanan saya cuma bawa clutch dan yang kiri akhir-akhir ini masih sering gendong anaknya Obin”

Aku mendengus tipis. “Obin.. masih hidup?”

“Anaknya doang. Obinnya udah lama mati.”

“Oh”

“Kok jadi tenang sih? Biasanya dulu ngerek-rengek kesel gitu kalau tiap ngomongin Obin”

Aku hanya tersenyum tipis sambil berkata dalam hati “Lu ga tau aja yang ada di dalam hati gue. Ggrrr!!!! Obin muluu obin muluu. Kampreettt. Gue selalu kalah sama kucing gendut lu itu. Dihh!!” kesalku dalam hati

“Kok sekarang jadi kayak dedek-dedek polwan gini sih?”

“Apa maksudnya dedek-dedek polwan?”

“Iya, rambutnya. Jadi bondol-bondol gemesin gitu”

“Hoo. Lagi pengen aja. Biar ga mainstream. Nah elu dibayar berapa sama merk Firdaus buat jadi prototype berjalan? haha”

“Ehehehe. Gak ganteng ya?”

“Engga!” uajrku cepat

“Oh berarti ganteng dong”

“Ga ngaruh..”

“Hehehe.. Ga berubah”

“Sok tau ah” sangkalku cepat

“Dedek yang sok tau. Bukan kakanda”

“HAHA!! Menjijikan banget sih. Ternyata master double degree di UGM gak menjadikan pribadi anda lebih memadai ya?. Ckck”

“Ooohhh, Asik masih dikepoin selama ini. Duuhh, jadi terharu”

Aku terdiam. “Shit happens! Keceplosan” batinku menggerutu

“HAHAY!! Sama lagi. Kakanda juga kepoin dedek kok. Makanya kita bisa ketemu disini”

“Stop manggil diri lu kakanda dan nyebut gue dedek. Risih banget gue dengernya. Gak lucu banget kalau sampai isteri lo denger. Nanti gue yang disangka gimana-gimana”

“Hahaha!!” tawanya lepas landas

“Ssstt!! Yeee. Berisik banget sih. Ini acara orang kali.”

“Kok sekarang makin cantik, malah jadi makin galak sih?? Makin gemeessshh deh”

“Gak usah lebay!! Iyalah, Strategi terbaik untuk membalas itu bukan dengan nunjukin stagnansi atau kemunduran. Tapi dengan kemajuan.”

“Hehe. That’s why you are still in my heart. Hi, my companion bossom”

Aku meliriknya tajam. “Stop call me like that!!”

Sejujurnya aku rindu panggilan itu. ‘Hi, My companion bossom’ tapi aku tidak boleh terlihat lemah dengan seluruh kerja kerasku membangun tembok pertahanan ini.

“Seperti yang saya sampaikan diawal tadi. Kini saya udah gak panggul tiga  ransel dan bawa koper lagi. Sekarang hanya bawa clutch di tangan kanan.”

“Isinya juga cuma lembaran tanggung jawab perusahaan yang sedang saya pimpin, selebihnya akan saya fokuskan untuk mengatur kehidupan keluarga dan manjain hati aja.”

“Kalau yang tangan kiri sekarang paling cuma buat gendong anaknya Obin. Yaa iseng aja sih buat ngisi waktu selagi belum dapat tangan ibu pengasuhnya buat digenggam sampai akhir hayat.”

Aku tetap tak bergeming.

Aku kunci rapat mulutku. Kedua tanganku menyilang di depan bawah dada. Yang secara gesture bermakna aku sedang melakukan posisi bertahan.

Kami saling terdiam untuk beberapa saat. Rasanya butuh waktu untuk mempersilahkan kenangan lama yang sama-sama kami injak demi memprioritaskan banyak hal.

Aku menghela nafas dalam.

“Sesegera mungkin aku lunasi hutang kebangkrutan ayah. Sesegera mungkin yang aku mampu aku lunasi semua cicilan mobil dan rumah untuk ayah dan bunda. Tampaknya salahku Cuma satu, membiarkan ada waktu tambahan dua tahun dari waktu yang pernah aku bilang ke kamu. Itu aja kan?”

Aku masih membisu.

“Dear.. Don’t you miss me?”

Aku lagi-lagi tak bergeming.

“Hati gue bukan alarm yang bisa seenaknya lu atur untuk berfungsi hanya di waktu-waktu yang lu tentukan. Yang bisa lu balas kalau lu lagi gak sibuk. Yang bisa lu telfon di waktu lu lagi mules di kamar mandi. Sehina itu gue di hidup lu??”

“Mandyyy.. aku kerja di tiga perusahaan dalam satu minggu, sekaligus sambil kuliah magister, double degree pula. Aku minta maaf Cuma bisa balas emailmu singkat dan kalau aku kangen denger suaramu sesempetnya yaa cuma saat aku lagi mandi tapi itu bener-bener aku sempetin. Sumpah!”

“Kamu kira aku mau bawa tanggung jawab sebanyak kemarin, ha? Ada memang yang juga kuat kayak aku, tapi coba kasih tau aku gimana caranya bagi waktu kehidupan yang sama-sama 24 jam tapi bisa tetep fokus, bagus dan menyenangkan semua orang. Aku harus milih. Dan yang aku pilih untuk dikalahkan ya harus kamu. Tapi aku pilih kamu karena aku tau kamu pasti nunggu aku”

“No. I do not” ujarku sambil meneteskan air mata

“Kamu gak kangen aku atau kamu gak nunggu aku?”

“BOTH”

“Engga Ndy.. I knew you”

Aku mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan diriku.

Perlahan, aku mulai bisa menguasai diriku dan menjawab dengan tenang sambil menggeleng pasti. “No. Cukup.”

Aku kembali mengatur nafas.

“Kamu gak pernah peduliin aku. Saat aku cerita ibu dan papaku sakit kamu diam. Aku email kalau papaku masuk ICCU kamu juga diam. Aku cerita ibuku koma kamu diam. Aku chat kamu kalau ibuku udah meninggal kamu diam dan sampai terakhir aku sms kamu kalau aku mau di lamar kamu juga diam. KAMU DIAM. DIAM DAN CUMA DIAM. Jadi buat apa aku melakukan ketulusan sama orang yang hanya bisa diam disaat aku SANGAT LAPAR RESPOND DAN JAWABAN. BUAT APA???”

Ia berusaha mendekat dan berniat menyentuhku.

“Berani nyentuh, gue teriak!” ancamku pelan

Ia menurutiku.

“Aku diam karena aku gak tahu aku harus bilang dan ngelakuin apa Ndy. Aku mau balas juga aku bingung harus balas apa. Aku takut salah. Aku takut reaksiku malah nyinggung kamu karena aku belum pernah ada di posisi seberat kamu. Kalau yang tentang ibumu meninggal, atas nama Tuhan yang bersemayan di Arsy aku gak tau Ndy. Wallah aku gak tahu. Aku udah lama downgrade ponsel ke versi jadul supaya aku bisa konsen sama tujuan hidup aku. Sesegera mungkin sampai di puncak karir dan setelah itu aku keliling buat cari dan Gandeng kamu. Please percaya Ndy.”

“Sorry.. WHEN I SAID NO, MEANS NO!!!” ujar ku tegas dengan nada meninggi

“Ndy.. saat aku mau di operasi aku berkali-kali coba hubungin nomer kamu, tapi yang angkat Beninda. Katanya kamu lagi tidur, tapi hati aku bilang kalau emang kamu sengaja gak mau angkat telfon aku. Terus pas aku wisuda, aku niatnya mau ajak kamu tapi saat aku telfon nada jawaban kamu judes banget aku jadi gak enak mau ngerepotin buat minta kamu buat datang.”

“Gak usah sok menyesali. Ga ada gunanya”

“Ndy.. Meski aku diam, tapi aku gak pernah sedikitpun geser kamu dari hati aku Ndy. Beda sama kamu..”

Aku meliriknya tajam.

“Aku tahu kamu sempat dekat dan berencana menikah dengan beberapa lelaki dengan background pendidikan dan keuangan yang baik dan lebih aman dari aku. Tapi aku selalu yakin kalau emang kamu tulang rusuk aku, kamu gak mungkin diambil sama siapapun. Karena aku Cuma percaya janji Tuhan.”

“Apapun, yang telah di tulisan di Lauh Mahfuz menjadi milikku, akan tetap menjadi milikku. Tidak akan pernah tertukar dengan siapapun”

Rasanya tenggorokanku seperti sedang panen kaktus. Sakit sekali untuk menelan.

“Aku paham kamu butuh waktu untuk ngejawab, tapi paling tidak aku bisa sedikit lega. Meski aku gak bisa jadi pahlawanmu dari gigitan nyamuk tapi jaket aku bisa. Hehehe”

“Jaket apaan?”

“Jaket yang tadi aku pakai buat selimutin kamu yang tidurnya nyenyak banget sampai muka dan tangan udah bentol-bentol tapi masih kebluk aja tidurnya”

Aku masih tak berkutik. Namun perlahan aku jadi seperti sedang mengumpulkan puzzle untuk mengingat isi mimpiku tadi siang. Tentang jaket yang untuk solat. Tentang suara bisikan ibuku, dan tentang ijab qobul. Apa maksudnya??

Dahiku berkerut seolah aku sangat berpikir keras untuk mencari tahu isi jawaban dari makna mimpi dan kenyataan ini.

Samar-samar terdengar suara adzan Ashar dari kejauhan.

“Udah solat ashar belum?” tanyanya membuka obrolan lain

“Udah lah, kemarin.”

“Good. Kalau gitu hari ini solatnya bareng yuk.” Ajaknya santai

Lagi-lagi aku diam sambil menatapnya nanar.

“Lu selain keturunan hanoman, keturunan apalagi?”

“HAHAHA!! Kan dulu udah bilang, keturunan Jogja, nooonn. Tapi aku cuma rakyat jelata, bukan keturunan ningrat. Nopo nduukk??”

“Gak penting”

Aku menjawab sekenanya dan langsung ngeloyor pergi ke arah tempat wudhu.

“Ngapain lu?”

“Nungguin kamu selesai wudhu”

“Mana dari kalimat gue tadi yang bilang mau jadi makmum lu?”

“Hehehe, sholat berjamaah ‘kan pahalanya 27kali lipat lebih besar dari sholat sendirian. Begitu juga dengan nikah. Nilai kebahagiaannya juga lebih besar dari pada hidup sendirian”

“Bukannya elu yang dulu katanya gak perlu nikah”

“Kan lain dulu, lain sekarang non..”

Aku menatapnya dengan wajah ketus.

Ia tersenyum.

“Imam sholat aja dulu, aku gak buru-buru untuk jadi imam kehidupanmu kok. Karena aku sadar, yang salah aku” ujarnya lembut.

“Udah buruan, nanti keburu abis asharnya. Kebanyakan ngomong”

Ia tersenyum mendengar kejutekan sekaligus persetujuanku

Seusai solat berjamaah, aku kembali termenung melas, meski hatiku tak berhenti mengucap istighfar.

Sesungguhnya aku takut salah menafsirkan. Namun entah mengapa seakan hati ini diperkuat oleh sesuatu yang aku tak tahu.

Sebenarnya secara sotoy, aku sudah menangkap apa maksud mimpiku. Dan sepertinya Tuhan telah menjawab doa rahasiaku tadi siang. Sekaligus doa ibuku selama ini. ia mengharapkan aku untuk bersama orang keturunan Jawa, maksudnya bukan untuk rasis tapi lebih kepada pilihan pada orang yang bisa lebih sabar dalam menghadapi diriku yang emosinya labil dan sering jet lag.

Ku tutup ibadah asharku dengan sujud terakhir. Sujud untuk memantapkan hatiku dalam menghadapi segala hal dan keputusan yang akan ku buat dengan segera.

Usai mengenakan sepatu pantofelnya, Chandra menungguku di tepi teras musholla.

Aku meliriknya namun justru malah sengaja memperlambat caraku melipat mukena dan sajadah.

“Tuhan, apa iya ini jodohku? Malu rasanya. Kok yaa sempurna banget kayak apa yang selama ini aku minta ya? jadi minder. Mana sekarang bewokan, udah jadi direktur juga. Duuhh Tuhaan. Sebenarnya ini takut kegeeran, apa malah Cuma mimpi sama kayak tadi siang. Duuh Tuhann, piye iki?” aku mencoba meyakinkan diriku dengan mencubit lenganku sendiri. Sakit.

Sebenarnya lucu yaa jadi manusia, dikasih jelek gak mau. Dikasih pas-pasan minta lebih. Giliran dikasih lebih malah gak yakin. Entahlah.

Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan sangat perlahan.

Lalu aku bergegas untuk keluar musholla dengan yakin setelah mengucap basmallah.

“Yuk!” ucapku yakin

Kini gantian. Giliran Chandra yang tak bergeming setelah aku ajak untuk kembali ke area acara.

Ia tersenyum menatapku sambil melirik lengan kirinya yang aku lingkari dengan jemari dan tangan kananku.

“When your mouth said NO, I know, your bottom heart is disagree! Hehe”

“HAHAHAAHA” tawa lepasku menggelegar

Kami lalu saling tersenyum malu-malu sambil melangkah ke area acara.

“Jadi kapan mau gendong anaknya Obin?”

“AAAAAAAA ROBOKOP!!! Udah dibilang aku trauma kucing. Masih aja nyuruh-nyuruh idup sama kucing. Batal aja lah”

“HAHAHA!! How I missing your childish voice, My Companion Bossom”

Aku memanyunkan bibir tanda sok bête.

“Iyaaaaa becandaa. Nanti beli kandang kucing kok. Tapi ditaronya dikamar”

“TAMPAR NIH!!!”

.

.

*The End.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerita Senja
%d bloggers like this: