Category: oretan masa

Gurat Mangu.

Media rasa yang termangu dalam gurat sapa Pada inti cerita yang amat jauh dari kolam prasangka Kemudian situasi genting menyeruak dengan santainya Dan meluluh lantahkan tembok yang selama ini membingkai sudut takdirnya.   Ada keengganan untuk menelan ragam syak wasangka Dari berbagai sudut gelas yang akhir-akhir ini menjadi media tumpahan gulananya Ia malas memasukannya pada […]

Tentang Benci & Puji Yang Menguji

Apakah dengan begitu membenci, semua akan selesai? Apakah dengan begitu memuji, semua akan terlampaui? Ayolah kita pahami sekali lagi. . Tentang sesuatu yang tak pernah bisa abadi Lalu untuk apa begitu kita sanjungi Atau kita tangisi setiap hari Bahkan ada tambahan untuk pula meratapi Bagai dunia akan kiamat pada detik ini. . Tidak. Aku menolak […]

Temani Sang Rasa

Kala dalam kelimbungan Mengenai maksud tujuan dari hadirnya linear rasa yang menjemukan Mengenai perlu atau tidaknya untuk dikemukakan? Ataukah memang hanya layak tuk tersimpan  Di dalam lemari bernyawa yang tengah berjalan? . Pijar kesadaran tentang perlunya jeda itu nampaknya mulai menggema Namun sudikah sang ego membiarkannya? Sudut nurani di pesisir hati bertitah untuk tetap menemaninya […]

Tak Karuan.

Aku suka menulis disaat nuraniku sedang berontak. Saat dimana terdapat perasaan terinjak bercampur sesak Namun tak lagi bisa aku tolak karena memang sudah menjadi suratan takdir dari Yang Maha Bijak. Sejak dahulu, Tuhan sering menghadiahiku situasi macam ini untuk membuatku bangun dari tidur lelapku dan membuat sedikit percikan api segar yang sering disapa manusia dengan […]

Mengimani Sejengkal Masa

Aku mengimani sejengkal masa, dimana setiap pesakitan pasti selalu akan dibayar dengan keindahan. Dulu aku sama seperti mereka kebanyakan, yang senang mempertanyakan lagi cenderung tak sabaran, tapi apa yang aku rasakan hari ini betul-betul dampak dari apa yang aku harapkan dikala semuanya masih serba rabun tak karuan. Kala Tuhan menguji dan kita tak lagi mampu […]

Ketegaran Malam

Di beberapa kali kesempatan, Ada kalanya kita hanya perlu diam untuk bertahan Bukan lagi protes tak karuan Apalagi sampai membiarkan kalimat tak berpendidikan nan menyakitkan itu berserakan. Ada kalanya, hanya dengan diam Semua kebencian akan padam Semua keluh kesah akan karam Pun kejenuhan akan ikut temaram .. dan tenggelam Bersama ketegaran malam