Category: dialektika rasa

Belajar Lagi

Aku tengah belajar (lagi) untuk bisa menyubstitusi rasa benci Menjadi rasa memahami yang lebih manusiawi Terhadap mereka yang sebenarnya sudah berusaha hati-hati namun tetap juga menyakiti Hingga mereka yang bahkan sampai kini masih setia pada rasa iri dan dengki. . Dari si pembelajar lambat Yang sialnya memang masih setia pada cita-cita lama Untuk menjadi orang […]

Hak Keadilan

Seringkali aku bersuara lantang perihal hak keadilan. Padahal akupun acapkali masih melakukan ketimpangan Timpang pada diriku sendiri atas segala runcingnya kritikan Namun amat merki terhadap penghargaan atas apa-apa yang sudah kuselesaikan Lalu, kala diriku tengah mogok untuk kembali bersemangat di perjalanan Akupun gontai dan kembali ngamuk pada keadaan. . Baiklah. Aku akui, aku memang masih […]

Kedalaman Rasa

Kami bertukar rasa di balik punggung jendela Mengenai rangkaian buku cerita yang dipenuhi oleh duka, kecewa juga air mata Yang suka tak suka kami harus (selalu) bawa di punuk dada Lalu kami baca sebagai wujud pengingat takdir yang telah diberikan semesta . Mengenai pemahaman rasa yang begitu dalamnya Mengenai untaian kata yang sulit sekali terukir […]

#DialektikaRasa : Blog itu apa?

XX : Dear, Blog itu apa? DR : Bagiku, blog adalah medium kata. Medium dalam bercerita dikala tak semua telinga berniat memberikan ketulusannya. XX : Amankah bercerita di sana? DR : Aman dalam segi apa? Bila harapanmu dalam bercerita adalah tak ingin diketahui orang lain, seharusnya kau tidak perlu bercerita. Simpan sendiri saja. Bahkan sekali […]

Sesuai Takdir Saja

“Apa yang menarik dari sebuah keabadian?” Tanyaku mendalam pada sepasang layar mata yang sedang membeku dalam haru. Ia hanya bergeming dalam bersama nafasnya yang parau. “Tidakkah telingamu juga berguna untuk mendengar?” Tanyaku lagi untuk memastikan organnya berguna dalam kehidupannya. Kini ia lebih baik. Meski perubahannya hanya dengan sekubit senyuman yang belum bisa disapa menarik. “Aku […]

Tentang Menerima

Mencoba menerima tentang penetapan takdir diri yang sebenarnya. Tentang pemaknaan yang perlahan mulai menemui titik gradiennya. Tentang rasa dari medan perdamaian antara logika dengan nurani yang mengudara. . Aku menyadari bahwa selama ini aku keliru dalam menilai dan memosisikan yang sebenarnya Tuhan. Karena saking amat khawatirnya tentang takdir yang padahal hanya masih sebatas dalam pikiran, bukan […]

Ruang Genggam

Kata kenyataan, Hidup itu seperti perjalanan Dimana semua yang terjadi Hanya mampu untuk sekedar kita lalui Tanpa pernah bisa kita tinggali. . Ada petuah bijak berkata, Nikmatilah rasa ketika luka menganga, Pun juga dikala rasa sedang berbunga-bunga. Karena keduanya, sama-sama adalah rahmat Tuhan untuk setiap ciptaan-Nya. . Pada teknisnya, sering kali aku lupa bahwa ketika […]

Bunga Resah

A:            Hati itu apa? Z:            Perasaan. A:            Lalu perasaan itu apa? Z:            Hal yang kau rasakan dalam hidup. A:            Lalu untuk apa aku merasakan? Z:            Untuk mensyukuri nikmat bahwa kamu adalah manusia. A:            Namun mengapa harus seperti ini yang dirasa? Z:            Seperti apa? A:            Seperti ini.. Z:            […]

Ada apa dengan kesabaran?

Sejatinya saya bukan manusia yang memiliki banyak lahan kesabaran Tapi saya terus mempelajarinya dengan perlahan Walau tentu saja seringnya dilanda kebosanan Namun karena saya paham bahwa itu bukan keburukan Apalagi kesalahan Jadi bukan masalah bila saya terus melakukan. . Kata wakil-wakil yang dipilih langsung oleh Tuhan, Kesabaran itu dianjurkan Entah mengapa harus demikian. . Mungkin dengan […]

Peradaban Diri

Pelan demi pelan Jiwa ini terhantar pada sebuah daratan yang ditumbuhi padang savana dan ilalang. Mengulir angin semilir yang membuat siapapun terenyuh dalam buaian. Pertanyaanku mengudara, Mengapa pula aku sampai pada daratan yang tak terdapatnya seseorang? Ku ikat sampanku pada sebuah bongkahan batu yang kurasa kuat. Lalu kaki pun seolah di setir oleh Dzat yang […]

Marah.

Aku : Kenapa menangis? Ia menggeleng lekas. Aku : Kenapa berbohong? Gelengan kepalanya pun masih sama. Aku : Lalu, kenapa diam? Ia menatapku dengan tatapan temaram namun menusuk. . . Dia : “Mengapa Tuhan menghukumku begitu kejam? Aku hanya lupa berkata insya Allah seperti  biasa, lalu Tuhan gagalkan semua rencanaku tanpa bersisa. Padahal yang lainnya […]

#DialektikaRasa : Mencari Angin.

DR : Kadang kala, semakin kita terus mencari, bukannya kita mendapatkan yang kita cari, tapi yang terjadi justeru kita semakin terlukai.XX : Terlukai katamu? Siapa yang terluka? DR : Diri sendiri.XX : Kenapa, diri sendiri? DR : Ya, karena dengan terus mencari itu sama saja dengan tidak mensyukuri yang telah kau dapati hingga hari ini. […]

#DialektikaRasa : Tanya.

Kadang aku tergelitik untuk bertanya, pernahkah pohon rindang itu merasa lelah? Lelah karena selalu menjadi tempat bersandar dan tempat berteduh bagi banyak pihak lain. Jika jawabannya iya, pernah, atau bahkan sering lalu kemanakah pohon harus berlindung dan berteduh? Teman baruku tiba2 tersenyum simpul mendengar kicauanku barusan. Aku menoleh dan menatapnya tak kalah tajam dari tatapan […]

#DialektikaRasa : Lain Waktu Saja

Kami duduk santai berdua di sebuah kedai minuman hangat sederhana. Ia tak banyak berkata seperti biasanya, hanya terkadang menyiratkan senyum yang aku sendiri kikuk dibuatnya. Kemudian, kami berdua saling tertegun dalam pemikiran yang berbeda. Memahami masing-masing dari setiap datangnya perkara. Atas nama rasa dan juga kebaikan bersama. . . “Ketika kau membaca dan memahami arti […]