Category: almari

5 tujuan yang akhirnya (mau) dimiliki

minggu kemarin gue banyak tercerahkan sama beberapa hal yang gue rasa ini adalah hal yang PERLU gue bagikan di tulisan gue kali ini. yakni lima hal yang menurut gue penting banget dan sedang gue coba ‘selami’ dengan gaya dan perjalanan kehidupan gue sendiri, yakni berdaya bermakna bahagia berkelebihan rezeki bersama orang yang menghargai sebenarnya awalnya […]

Suara di Jumat Pagi

tadi pagi aku bangun agak lebih pagi dari biasanya. entah karena apa. lalu setelah ikon airplane aku matikan, aku pun menerima beberapa pesan. satu diantaranya dari suami dan satu lagi dari kakak kedua. usai membalas chat suami yang tidak boleh dinomor sekiankan (sesuai kesepakatan kami), aku pun membuka chat dari kakak kedua. isinya “bla bla […]

Kacamata : buku “Sabtu Bersama Bapak”

minggu kemarin gue iseng banget nyari novel indonesia. alasan paling sederhana karena gue lagi capek sama bahan bacaan filsafat dan bisnis menejemen yang lagi ‘gue lahap’ beberapa waktu dekat ini. gue pun lagi gak pengen nonton, maunya ya baca aja. mikirnya siapa tau bisa jadi bahan referensi buat next project novel yang bakal gue kerjain.. […]

Mata Pelajaran Favorit

Setelah sekian lama gak paham arah tujuan diri sendiri ternyata ada hal yang baru banget gue sadari. Yakni ternyata mata pelajaran favorit gue selama sekolah adalah bahasa Indonesia. Apalagi kalo urusannya udah mengarang cerita, pribahasa dan menerjemahkan puisi sastra. Hahahaha. Tapi kalo urusannya udah SPOK atau kerangka2 baku gitu aja sih yang rada males. Mungkin […]

Bertumbuh

Sebelumnya aku tak pernah berpikir bahwa aku akhirnya bisa benar2 sampai di posisiku saat ini. Posisi dimana aku bisa dihargai hak, kewajiban dan pilihannya yaa sebagai manusia sejati saja, bukan berdasar gender, seperti dahulu kala saat masih bersama orang tua. Nampaknya dunia (pada akhirnya) mulai bisa dan kemungkinan akan terbiasa dengan pilihan dan keputusan orang-orang […]

Berpikirlah dengan Benar

aku sempat mengira bahwa cara berpikirku selama ini sudah cukup benar sudah cukup baik bahkan sudah cukup layak untuk ‘dibagikan’. tapi ternyata itu hanya jebakan ilusi saja. dan sialnya aku terperangkap dalam waktu yang cukup lama. sampai suatu ketika aku mengamati kejadian demi kejadian yang menimpaku. karena masalahnya acapkali berulang, jadi akupun terpaksa berpikir ulang, dimana […]

Happy Birthday, Papa!

Pa.. Na tau, kalau secara wujud, papa udah gak ada di hadapan Nana lagi. Tapi Na yakin, jiwa papa tetap ada dan selalu bareng sama Nana juga anak papa yang lainnya. Pa.. makasih banyak ya. Na udah dikasih waktu dan kepercayaan ngelola toko papa beberapa tahun belakangan ini. Terhitung sejak 1 April 2014 dan berakhir […]

Pilihan untuk Berdaya

25 Maret 2018 Pilihan terakhir yg aku putuskan sesaat sebelum menaiki kereta api menuju perjalanan ke argopuro adalahMemilih untuk tidak lagi berdaya sebagai manusia.Aku menyerah dan tenggelam dengan tumpahan kesedihan, kekecewaan, kebencian.Daya juangku menguap.Aku tak lagi merasa punya akar tujuan untuk tetap bertahan.Untuk apa aku tetap ada, tanpa seorangpun dari yg kuinginkan memedulikannya..Aku begitu haus […]

Pada Akhirnya, Keluar adalah Jalan

Ketika aku SMA, aku pernah mencuri dengar pertanyaan mengenai toko bangunan milik papa yang berada di samping garasi rumah. Saat itu, aku tak pernah ada pikiran untuk mempedulikannya. Itu biar jadi urusan papa aja, ‘kan bisnis pilihannya. Lalu beberapa kali pertanyaan yang sama kembali sampai di telingaku ketika aku kuliah komunikasi bisnis sambil bekerja sebagai […]

Mengapa Tidak ke Tenaga Ahli? (bag 2)

Sebelumnya bila kamu belum membaca bagian pertamanya, kamu bisa membacanya dahulu disini (<<klik kata disamping ya) Lalu bagaimana caraku ‘menjahit’ lukanya?  Aku pernah mendengar orang menyarankan untuk “Gelarlah sajadah. Menangislah pada Tuhan. Tumpahkanlah semua yang ada di hati.” Entah bagaimana aku sulit untuk mengikuti sarannya. Disebabkan oleh beberapa hal Aku tidak mengerti pada kalimat, “Menangislah […]

Mengapa Tidak ke Tenaga Ahli?

Ketika aku menulis ini, aku tengah dilanda penghargaan kepada diri di bawah garis wajar sebagai manusia. Entah bagaimana aku juga tidak mengerti mengapa aku begitu sulit untuk menghargai keberadaan diriku sendiri. Ratusan ribu kali aku menghukumnya dengan kalimat tak pantas. Menghardiknya. Meludahinya bahkan sudah belasan kali pula aku mencoba untuk membinasakannya. Entah berapa puluh buku […]

#perpustakaanmoralinibudi yang (tak) mati

Belakangan ini, aku merasa jiwa dan semangat hidupku semakin hari semakin kalang kabut. kadang hangat, kadang panas, kadang dingin bahkan seringkali membeku untuk beberapa waktu. walau sudah ku usahakan untuk menghangatkannya kembali dengan beragam terapi, dan diskusi, tetapi tetap saja api semangat itu hanya bertahan dalam hitungan jam atau paling lama bertahan dalam satu hari, […]

Terima Kasih

Acapkali kegagalan demi kegagalan menghampiri Membuat saya jadi terbiasa dalam mengevaluasi diri Dari lipatan isi kepala hingga ujung kuku kaki. . Dahulu saya pikir saya sudah cukup dalam pelajaran memahami Sehingga yang saya lakoni hanya perlu mengorganisir apa-apa yang telah terjadi. Namun kenyataannya semua itu hanyalah ilusi. Saya justeru dituntut belajar lebih keras lagi, lagi […]

Do’a Sederhana

Lately, I have one of the simplest but most beautiful & powerful hopes that I’ve read ever. Here is:          Dear God,          If I am wrong, please correct me          If I am lost, please guide me          If I started to give up, please keep me going Sederhana sekali memang doanya, namun sangat […]

Hak Keadilan

Seringkali aku bersuara lantang perihal hak keadilan. Padahal akupun acapkali masih melakukan ketimpangan Timpang pada diriku sendiri atas segala runcingnya kritikan Namun amat merki terhadap penghargaan atas apa-apa yang sudah kuselesaikan Lalu, kala diriku tengah mogok untuk kembali bersemangat di perjalanan Akupun gontai dan kembali ngamuk pada keadaan. . Baiklah. Aku akui, aku memang masih […]

Egalitarian

Egalitarian Terkadang aku terganggu bila diikutcampuri perihal hal-hal yang bernuansa hak asasi. Entah dapat pemahaman dari mana, sejak kecil aku memang sudah tak suka diintervensi, walau itu datangnya dari orangtua sendiri. Seringkali orangtua merasa berhak mengurusi segala hal atas nama ‘kebaikan’ untuk anaknya, padahal menurutku belum tentu juga hal itu dapat diterima dengan lapang dada […]