Kala hujan mengguyur kabut pikiranku tentang sesuatu

Tubuhku tiba-tiba terlepanting jauh dari mata awas yang biasanya mencangkangiku

Pedih serta dingin, begitu rasaku saat itu.

Namun tiba-tiba saja aku terpikir tentang strategi langkah kuda yang baru

Untuk menerima semuanya tanpa ba bi bu

Lalu, kita lihat akan semenyedihkan apakah diriku atas keputusan “sok tempe”-ku itu.

.

Semenjak satu hingga lima minggu

Aku menghitung jemari waktu yang berlalu

Keputusanku ternyata masih belum menumbuhkan buah apapun selain jamur tak sabaran yang selalu menjadi racun mematikan di dalam sanubariku.

Hingga akhirnya, akupun mengundurkan diri untuk tak lagi meneruskan segalanya itu.

.

Menariknya, karena waktu tak pernah diciptakan Tuhan untuk bisa merasakan lelah dalam berpacu

Aku kini justeru sedang menikmati manisnya termenung dalam haru

Sambil bersandar pada sebuah dinding biru kelabu

Dan mempersilahkan angan-anganku pergi bersama debu.

.

Ah Tuhanku..

Puja puji memang hanya layak untuk-Mu.

Ucapku sambil menyertakan rasa haru karena kebencianku kini sudah tak lagi membeku seperti dulu..

Lebih tepatnya sudah (sedikit) bisa lapang dalam menerima segala mana takdir yang Engkau alirkan di hidupku.

.

Sumber Foto : Unsplash

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cangkir Kelabu
%d bloggers like this: