Tulisan ini berasaskan bumbu rindu. 

Yang tengah menggebu

Pada masa yang telah berlalu

sekaligus rasa rindu pada ayah dan ibu

dan pada kawan karib terbaikku

Yang dahulu begitu aku genggam erat dengan segenap jiwaku..

Walau mereka tak setia menemani dan selalu ada di sisiku seperti yang aku mau

Namun mereka telah berbuat dan berlaku yang terbaik sebisa mereka  untukku..

ya.. aku..

Manusia galak namun berkepribadian begitu sendu.

.

Kini satu per satu dari mereka perlahan menemukan jalan dan teman sepertujuan hidupnya yang baru..

Yang kebanyakannya tak lagi satu frekuensi denganku..

Karena aku yang saat ini begitu berbeda dari yang terdahulu.

Yang dengan sengaja mengubah diri menjadi seperti orang lain yang amat berpunggungan dengan otentiknya diriku.

Kurang lebih selama tiga belas tahun berlalu..

Dan kini.. kala aku sudah kembali pada ‘rumah’ asliku

Kenyataan yang terjadi pun ikut baru

Pun tak bisa dipaksakan untuk sesuai dengan kehendakku

.

Aku tak paham bagaimana hati mereka terhadapku,

Namun hati ini terkadang merasa pilu bila mengingat atau teringat masa lalu..

Masa dimana aku sendiri pun heran kok yaa mau-maunya aku memilih jalan berkabut itu

Berlakon menjadi orang lain selama itu

Dan seolah mengelabaui banyak orang dan lingkungan sekitarku

Yang berdampak hari ini, pada berkurang dan punahnya pertemanan sejawatku

Yang menyebabkanku dirundung rasa biru

Pada celotehan tak bermakna dan gelak tawa yang menggelegar kepunyaanku dulu..

Semua yang menjadi karibku dulu pasti hafal bagaimana intonasi terbahak-bahak lagi kencangnya suara tawa itu

Suara yang sebenarnya datang dari jiwa yang rapuh karena begitu haus perhatian lagi kasih sayang ibu.

Ibu yang tak paham bagaimana cara berlaku 

Bukan karena ia tak mau

Hanya saja ia tak pandai mengelola waktu.

Waktu untuk memahami dan mendalami diri sebagai seorang ibu 

 Hingga akhirnya kesempatan itu habis berlalu

.. enam tahun yang lalu

Namun pilihan sikap keras, dan untaian kalimatnya masih terbingkai rapi di dalam almari ingatanku

Sepanjang waktu.. 

Ia dan mereka adalah pemoles terberarti dalam metamorfosa hidupku

Yang menjadikanku selayaknya kupu-kupu

Yang memerlukan waktu hingga akhirnya bisa lepas landas menggapai cita-citaku 

.

Terima kasih, waktu

Kau pertemukan aku dengan mereka dengan tanpa keliru

Terima kasih juga untuk penciptamu,

Karena izin-Nya, aku kini perlahan terus belajar menerima kehidupanku.

.

Salam,

*DR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Metamorfosa Sebuah Jiwa
%d bloggers like this: