Namanya Mohammed ‘Ashraf. Ada penekanan khusus pada huruf A di awal kata jika ingin melafalkan namanya dengan benar. Lahir di Gaza, Palestine, 7 Januari 1979.

Aku menyukai nama itu. Sejak pertama kali aku membaca, dan mengetahuinya, lalu menyimpannya dalam lemari hatiku. Rasanya aku ingin banyak mencari tahu tentang dirinya. Mendengar lebih lama alunan suaranya yang idzhar, menatap lebih lama mata dan juga gigi panjangnya yang terselimut senyum tulusnya.

Ada banyak alasan misteri yang tak pernah aku tahu hingga kini, mengapa aku masih terus merekam nama dan wajahnya pada urat nadi terdalam hati dan ingatanku. Sederhananya, aku tidak pernah tahu alasan jelasku untuk tidak bisa berhenti memutar video tentang dirinya saat itu. Apapun yang telah, sedang dan akan ia lakukan, aku perlu tahu. Demi kemaslahatan moodku.

Ah, lupakan saja. Itu hanya masa berlebihanku saat menjadi seorang yang fanatik pada artis baru.

Beberapa bulan kemudian, ingatan dan kesadarankupun pulih. Aku tak lagi berlebihan.

Kini aku melenggang pada sebuah negeri yang sangat terik dan berdebu. Kembali dengan alasan yang tak jelas, aku tetap pergi ke negeri ini. Oh iya, ini negeri tempat sang idolaku dulu dilahirkan. Tapi aku kesini bukan untuk kembali berlebihan yang tak karuan, aku hanya iseng saja. Aku ingin meraih pengalaman.

Sore itu, aku sedang menunggu temanku disebuah rooftop yang terletak di tengah lahan permukiman. Sudah tiga jam aku memandangi kota tua yang indah ini sambil termenung. Sesaat kemudian adzan ashar tiba. Awalnya seperti biasa aku tak memperhatikan, hmm, tepatnya tidak mempedulikan. Namun setelah menyadari beberapa saat kemudian, suara itu berhasil membuat telingaku terperanjat. Seolah merasakan jatuh cinta dengan suara orang yang sedang mengumandangkan adzan itu.

Ia mengumandangkan adzan ashar di hari kamis sore itu bukan hanya melibatkan pita suaranya yang indah, tebal dan mendayu merdu, tapi juga melibatkan hati dan imannya untuk mengajak semua orang di segala penjuru untuk menuju kemenangan, dengan sama-sama tunduk kepada sang Pencipta.

Ia tak hanya mampu merobek hatiku dengan suaranya, namun juga merobek keangkuhan dan kesombonganku untuk kembali pulang. Ya. aku kembali pulang untuk kembali mengenakan ‘baju besi’ yang sudah sepuluh tahun aku tanggalkan di dalam lemari pajangan akibat pertanyaanku yang tidak pernah mampu terjawab secara memuaskan oleh ayah, keluarga dan juga guru-guru yang saat dahulu aku tanya, mengapa aku harus menjadi seorang muslim?

Semua jawaban-jawaban mereka tidak ada yang mampu menarik minatku untuk kembali mengenakan ‘baju besi’ itu. Dan kini, saat aku justeru sedang melakukan investigasi mengenai pemaksaan kehendak bagi wanita untuk berhijab, aku justeru mantap untuk tak hanya kembali pulang dan kembali mengenakan ‘baju besi’ ku, namun aku mantap pula untuk mengenakan pakaian tertutup dan berhijab, yang sesaat sebelumnya sangat aku benci dari ujung kepala hingga kaki semesta ini.

Sore itu. Aku sungguh penasaran dengan suara pelantunnya. Aku sungguh ingin tahu siapakah pemilik pita suara indah itu. Hatiku berdebar. Nadiku seperti mendidih untuk segera mendapatkan jawaban. Aku ingin ia menjadi saksi atas kepulanganku pada ‘baju’ku yang dulu. Namun ternyata, aku tidak bisa mendapatkannya. Wanita tidak diizinkan untuk dilihat pulang dan kembali mengenakan ‘baju besi’ oleh yang bukan mahram. Sebutan untuk lawan jenis yang merupakan saudara sekandung, atau siapapun yang tidak bisa dinikahi.

Aku kecewa. Tapi adzan itu selalu membuat isi kepalaku ingin memuntahkan pertanyaan penasaran tentang sang pemilik pita suara di setiap jam yang bergulir. Hingga aku kehilangan keinginan untuk mengistirahatkan mata meski sejenak saja. Aku sebal dengan karakter dan pribadiku yang sangat sulit berkompromi dengan rasa penasaran. Hinga akhirnya aku putuskan untuk mencari tahu pada siapapun yang bisa aku tanyakan tentang sang pemilik suara merdu itu. Aku tak peduli jika ia telah beristri atau beranak cucu. Aku akan membujuk isterinya untuk mengizinkanku menjadi pendamping sang pemilik pita suara itu.

Siang itu suhu udara sedang terik-teriknya. Jam digitalku menunjukkan suhu hingga 41 derajat celcius di hari itu. Sungguh terik yang menyiksa kulit. Tapi aku tetap harus mencari dan mendapatkan identitas sang pemilik pita suara itu. Aku ingin bertemu dan memintanya untuk melamarku. Siapapun dan seperti apapun rupa dan usianya, aku tak peduli. Aku sungguh ingin berterimakasih banyak karena telah membantuku untuk menjadi media kepulangan dan keputusanku mengenakan ‘baju besi’ lamaku.

Retina mataku berhenti pada sosok penjaga masjid yang aku temui sedang sibuk mengepel lantai teras belakang masjid berkubah emas di daerah Palestine. Komplek masjid ini bernama Al-Aqsa. Belum sempat kakiku melangkah untuk mendekati pria berkulit gelap yang tengah sibuk mengepel itu, perutku seperti tercekat seketika. Aku mulas tiba-tiba. Tunggang langgang aku mencari kamar mandi perempuan dengan segera untuk melepaskan keinginan hajatku yang datang terlalu tiba-tiba. Hingga aku selesai dan kembali mencari pria berkulit gelap tersebut, namun ia sudah menghilang entah kemana.

Masih pukul 11.00 siang waktu setempat. Belum masuk waktu dzhur, jadi masjid ini masih sepi peminat shalat. Meski ada beberapa yang mungkin shalat sunnah yang aku lupa apa namanya, tapi aku tidak menemukan sosok yang aku rasa bisa membantuku menjawab pertanyaan menyiksaku sepanjang hari kemarin.

Aku duduk berselonjor tak jauh dari pepohonan rindang yang aku tak paham apa namanya. Aku berdiam sejenak sambil tersenyum dengan paksa pada matahari. Hari ini sinarmu terlalu berlebihan, ri. Bukankah Tuhan tak suka segala sesuatu yang berlebihan? Kecilkanlah sedikit kemampuanmu melotot, pahamilah perasaan makhluk Tuhanmu yang lainnya. Ujarku dalam hati sambil terus mengernyitkan mata dan dahi pada matahari.

Aku duduk termangu. Aku tak boleh putus asa untuk mencari suara itu. Semoga suara itu benar dari seorang manusia yang nyata. Bukan dari malaikat. Banyak kudengar di daerah ini seringkali terjadi hal-hal ajaib yang tidak masuk logika manusia. Daerah yang dimuliakan Tuhan. Daerah yang disinggahi Nabi terakhir agamaku saat peristiwa Isra’ Mi’raj.

Kini aku menarik dan menghembuskan nama Tuhanku lekat-lekat dalam kotak kalbuku. Lalu kembali bertanya mengenai rasa penasaranku mencari tahu sang pemilik suara itu. Namun, saat aku sedang sibuk berpikir, aku malah merasakan sesuatu. Tunggu, matahari ternyata mendengar suara protesku. Tuhan mengizinkan aku untuk tidak lagi sibuk mengernyitkan dahi melawan sinar mentari. Aku tersenyum. Jika Tuhan mengizinkan matahari untuk mengendurkan sinarnya padaku berarti Tuhanpun mengizinkanku untuk mencari tahu siapa pemilik pita suara itu. Apakah aku terkesan berlebihan? Ah, semoga saja tidak.

Yes, Tuhan kembali berpihak padaku, ada orang yang sedang sibuk merapikan tempat sujud. Mungkin ia salah satu penjaga masjid. Akupun menghampirinya. Ketika tersadar ada aku dibalik punggungnya, ia pun segera menoleh. Ia angkat alisnya tinggi-tinggi padaku. Ah, sial. Mengapa harus tampan. Aku kecewa.

Aku punya banyak pengalaman buruk dengan lelaki tampan. Karena rata-rata semua lelaki tampan yang kukenal, matanya selalu jelalatan. Termasuk ayah dan kakak lelakiku. Aku benci itu. Aku benci laki-laki yang tidak bisa menjaga pandangannya. Karena itu sama saja ia tidak menghargai wanita yang telah dititipkan Tuhan disisinya. Baik sudah maupun belum mendapatkan jodoh, seharusnya mata lelaki itu tetap harus dijaga, bukannya malah jelalatan. Sama saja halnya dengan wanita yang mengenakan hijab dan mengenakan pakaian longgar untuk menutup auratnya. Seharusnya, lelakipun harus mampu menjaga syahwatnya dari hasrat reptil untuk menatap wanita lekat-lekat.

Aku batal bertanya. Sudah tahu kan karena apa? Ya, hanya karena ia memiliki rupa yang tampan. Jangankan untuk sudi bertanya, aku saja enggan untuk menatapnya. Aku pun mengucapkan kata maaf telah mengganggu, karena salah orang dengan menggunakan bahasa Arab fusyiah. Bahasa Arab resmi yang menjadi bahasa pemersatu dari bahasa-bahasa pasar di Arab, biasanya digunakan oleh kaum-kaum terdidik di negara-negara Arab.

Aku kehilangan keinginan dan perasaanku untuk bertanya. Dan mem-pause rasa penasaranku seketika. Aku sungguh benar-benar benci dengan lelaki tampan. Sungguh kini pengalaman burukku saat dulu kembali tumpah ruah di ruangan memori kepala hingga mataku. Aku menjadi teringat banyak hal buruk saat aku remaja hingga awal dewasa dulu.

Kulirik jam besar yang menempel pada dinding masjid indah nan bersejarah ini. Sebentar lagi waktu Dzhur tiba. Aku kembali mencari-cari ruangan wudhu dan kemudian ku hempaskan badanku hingga terduduk seperti duduk diantara dua sujud pada ruangan khusus bagi wanita untuk  shalat.

Aku segera minta izin pada Tuhan untuk tidak menunaikan shalat sunnah saat awal masuk masjid. Mau tahu alasannya? Aku lupa niatnya. Dan yang aku malu membaca surah pendek yang hanya itu-itu saja. Ingatanku hanya bisa mengingat pada surah Al-fathihah dan surah Al Ikhlas saja. Selebihnya aku lupa. Oleh karenanya, saat kembali shalat, aku masih perlu untuk hanya menjadi makmum saja.

Aku baru sadar dengan banyaknya wanita yang tengah sibuk berbisik-bisik bahasa Arab Amiyah yang tak kumengerti sama sekali ditempat shalat ini. Wajah mereka hampir mirip wajahku saat dulu baru saja memenangkan lotre. Aku hanya terheran-heran dengan riasan wajah beberapa dari mereka yang juga sibuk berbisik. Tebal sekali riasan dan hiasannya. Padahal saat ini masih terhitung sangat ‘pagi’ untuk mengenakan hiasan berkilau dan berdandan ala pesta malam hari. Sesaat aku ingat sesuatu, aku ingat aku dulu diajarkan oleh ayahku untuk tidak menggunjing siapapun, entahlah ayahku dulu menyebutnya dengan istilah apa, pokoknya awalannya dari huruf G.

Tak lama adzan Dzuhur pun berkumandang. Yes. Aku buru-buru melongok pada siapapun yang sedang berdiri sambil memegang telinga kanannya. Oh bapak itu orangnya. Aku tersenyum, namun beberapa detik kemudian kekecewaan kembali menggelayuti bibirku. Suaranya beda. Tidak semerdu kemarin. Ah, Gagal. Bukan suara itu, jadi bukan bapak itu pastinya.

Usai shalat akupun segera menelepon temanku. Teman yang menjaditourguide ku selama aku sedang iseng untuk jalan-jalan di Palestine. Dia kini menjadi guru di salah satu sekolah tahfidz Alquran di Gaza. Ia adalah salah satu penghafal Quran yang rela mengabdi di negeri yang kondisinya sangat berbahaya ini.

Teleponku tidak diangkat. Aku lirik jam. Mungkin ia sedang mengajar. Akupun kembali mencari tempat aman untuk aku singgahi sambil melamun dan menyatukan kembali puzzle harapan hidupku yang telah sekian lama hanya tertumpuk debu.

Sepanjang mataku memandang, banyak wanita yang tampangnya mirip dengan wanita-wanita yang tadi aku temui di tempat shalat. Otakku jadi ingin mencari tahu ada hal apa yang telah menjadikan rupa mereka begitu merekah. Lalu, matakupun menangkap bayangan lelaki berparas tampan tadi, ia kini sedang dikelilingi beragam rupa wanita, anak kecil dan juga lelaki dari beragam usia. Aku berpikir sejenak. Oh, mungkin ia artis di negeri ini. Lalu, akupun memutuskan untuk kembali memikirkan perkara hidup serta misi yang tak kumengerti ini. Misi mencari sang pemilik pita suara yang adzan disini, sore kemarin.

Aku sungguh tak tahu harus bertanya pada siapa. Sementara temanku melarangku untuk mencari tahu lebih lanjut. Dan tentu saja aku menolak untuk mengikuti sarannya. Aku bukan tipe manusia yang gampang luluh hanya karena sebuah saran yang sebenarnya hanya alasan yang dibuat-buat saja karena tidak mau dibuat susah dan dibuat repot.

Kau tahu, setelah aku menemukan si pemilik pita suara itu, aku ingin meminta izin padanya untuk menikahiku. Aku ingin ibadahku dipimpin oleh lelaki yang suara dan jiwannya begitu menyatu saat melafadzkan kalimat Tuhan. Hanya sesederhana itu. Tidak buruk bukan?

Sementara kepalaku berpikir, mataku ternyata masih menatap lelaki tampan berbadan kurus itu dari kejauhan. Beberapa kali aku melihat ia dipeluk dan dicium banyak laki-laki berjenggot dan berbrewok lebat juga sesekali sambil menggendong anak kecil dengan sangat hangat dan erat namun sebaliknya, wajahnya begitu datar dan selalu menjaga jarak saat diajak foto pada wanita. Sekalipun wanita itu sangat cantik rupanya.

Aku tersenyum geli sendiri. Jangan-jangan ia pengikut kaum Sodom, alias pendusta Nabi Luth. Lalu tak lama, aku putuskan untuk pergi dan meninggalkan masjid itu sambil menghempaskan doa aneh di dalam hati.

Semoga lelaki itu kembali ke jalanMu yang benar dan Indah, ya Tuhan. Selamatkan hatinya dari godaan apapun yang mengganggu keseharusannya sebagai lelaki dan manusia yang Kau izinkan sebagi khalifah di bumi. Kasian wanita-wanita yang sudah berdandan dan berhias habis-habisan ini. Semoga salah satu dari mereka ada yang berjodoh dengan lelaki harapannya itu. Aammiin.

Aku paham rasanya menjadi fans. Oleh karenanya aku berdoa seperti itu. Karena saat aku sedang tergila-gila pada artis idolaku dulu, betapa aku berharap bisa menjadi pendamping idaman sang artis itu. Haha.

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Bara
%d bloggers like this: