Usul Oditta untuk saling introspeksi pada episode sebelumnya menuai tanggapan yang beragam dari masing-masing temannya. Namun pada akhirnya pun keputusan itu mau tidak mau harus tetap diterima sebagai konsekuensi dari perbedaan aktifitas dan tanggung jawab sehari-hari dan juga perubahan pola pikir mereka. Meski jauh di dasar hati, mereka enggan untuk menjadi berjarak begini, namun, ada kalanya kejujuran itu memang perlu didahulukan, meski mengundang keributan hingga pesakitan.

“Kabar lo bae’ Sa?” Tanya Alena pada kolom obrolan di ponselnya.

“Gak terlalu Len, ada apa?” Jawab Samira seadanya.

“Gak apa-apa sih. Gue cuma iseng aja, nanya kabar lo.”

“Oh, kirain ada apaan. Lo sendiri gimana?”

“Ya Alhamdulillah aja gue mah. Sehat. Hmm, lagi ngapain lo, Sa?”

“Lagi OTW ke tempat meeting nih Len. Hehe. Macet. Lo sendiri?”

“Yaa namanya juga IRT yah. Kalau gak ngebabu, yaa nonton tipi aja kerjaan gue sambil nungguin si Ruby pulang dari kebun. Hehe.”

“Oh.. Hmm.. Gue jadi sedih.”

“Hah? Sedih kenapa lo?”

“Yaa sedih aja kalau kesarjanaan lo cuma kepake buat di dapur.”

Alena terdiam.

“Kenapa sih, lo gak cari kerja lagi aja gitu? Ngapain coba dirumah doang. Planga-plongo gak jelas. Yaa sayanglah sama ilmu lo. Ngapain mahal-mahal dan capek-capek kuliah kalau ujungnya gak dipake buat jadi wanita career atau jadi pengusaha.”

Alena masih mengerutkan alis sambil mendengar penjelasan Samira. “Kok lo mikirnya gitu sih, Sa?” ujar ia menanggapi lagi.

“Yaa emang gitu. Makanya tadi gue bilang sedih, karena jujur aja, gue sedih banget sama keadaan lo sekarang. Gue yakin banget lo pasti bosen ‘kan dirumah. Saran gue sih, kalau ada kesempatan buat kerja lagi yaa kenapa enggak lo ambil aja. Paling enggak, lo jadi ada tanggung jawab yang lebih gimana gitu, plus lo bisa punya uang dari hasil keringet lo sendiri. Duit dari laki lo yaa tetep lo pegang juga, tapi jadinya ‘kan bisa gampang kalau nanti kita mau kemana-mana. Gak ngebebanin siapapun, termasuk laki lo.”

Alena menutup mulutnya yang sempat terbuka karena tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini. Ia pun sibuk memutar otak untuk mendeteksi apa benar yang sedang berbicang dengannya ini adalah Samira, sahabat SMA yang sejak kelas satu hingga kelas tiga dulu selalu menjadi teman sebangkunya.

“Yaa, kayak gue sekarang gini deh. Pelan-pelan bisa nyicil mobil pake hasil keringet sendiri. Gak ngerepotin siapapun lagi, mau orang tua gue kek, laki gue kek. Yaa seenggaknya, gue bisa ngebuktiin ke diri gue sendiri dan beberapa orang yang seneng banget nyinyir dibelakang gue juga, kalau gue gak kayak apa yang selama ini mereka pikirkan.” jelas Samira dengan bangga.

Alena masih terdiam dengan alis yang masih berkerut.

“Halo? Len. Kok lo diem aja?”

“Ohh.. iya Sa, sorry. Sambil baca bbm dari Ruby soalnya. Dia lagi ngomel-ngomel nih dari tadi. Katanya gue lama banget bales chatnya. Eh iya, dikit lagi dia mau balik juga, gue siapin makan siang dia dulu ya, Sa.”

“Oh gitu. Oke. Gue juga udah mau nyampe kantor klien kok. Have a productive day, yaa, Len. Bye.”

“Okee. Good luck, Saa. Bye.” ujar Alena sambil menyudahi perbincangan dan menutup ponselnya.

***

.

Seusai masak, mencuci hingga merapikan peralatan tempur seperti panci, wajan, codet hingga berbagai piring tatak dan sendok di dapur rumahnya, Alena tiba-tiba teringat untuk memberi kabar teman-temannya bahwa dalam minggu ini ia akan kembali berkunjung ke Jakarta.

“Gue mau ke Jakarta niiihh. Adek ipar gue mau lamaran soalnya. Kita ketemu yuuukk!” Tulis Alena seperti biasa pada kolom chat group di ponselnya. Namun sebelum jempolnya sempat menyentuh virtual tombol ‘send’ yang ada persis di bawah jempolnya, ia teringat akan kesepakatan terakhir diantara teman-temannya. Ia pun menghempaskan badannya di sofa dan sambil termangu melihat foto kebersamaan mereka sekitar empat tahun lalu yang sengaja ia pajang di salah satu sisi dinding rumahnya. Saat masa-masa ia belum menikah dan perbedaan diantara teman-temannya belum sebegitu mencolok sekarang.

Tak lama, ia pun menghapus semua kata yang sebelumnya ingin ia kirim pada chat grup gang SMA-nya. Ia merasa omongan Oditta tentang kerinduan yang tidak perlu dipaksakan untuk selalu bertemu, kini ada benarnya juga. Lalu, ia pun kembali meletakkan ponsel sentuhnya di meja kaca ruang tamu mungilnya.

Tiga hari kemudian Alena meng-update status di media sosialnya bahwa ia baru saja tiba di bandara. Ia sudah tidak lagi berharap bahwa teman-temannya akan peduli dengan kunjungannya ke Jakarta. Namun, ditengah keterputusasaannya, ternyata Nina masih berkomentar yang membuatnya tersenyumn tipis.

“Sampai kapan Nong, di Jakarta-nya? Yuuk yuukk meet up yuuuk.” Begitu isi respon Nina yang sedang dibaca Alena pada kolom komentar. Alena tersenyum tipis lagi seusai membacanya. Jauh di dalam hatinya ada keinginan bahwa yang merespon itu adalah tiga temannya yang lain.

Dua haripun berlalu dengan cepat. Alena kini sibuk sekali mengurus seserahan adik iparnya yang akan segera melangsungkan pernikahan dengan adat Bugis yang merupakan adat aseli dari suaminya. Ia sibuk pergi kesana kemari membeli dan menyempurnakan perlengkapan yang harus disediakannya. Usai acara pernikahan berlangsung dengan lancer dan khidmat kini ia kembali diminta oleh ibu mertuanya untuk membeli berbagai stok kebutuhan dapur sehari-hari yang sudah mulai menipis. Ia pun diantar suaminya untuk berbelanja di sebuah pasar modern yang letaknya tidak terlalu jauh dari kawasan rumah mertuanya.

“Kita mau langsung pulang yank?”

“Emang kamu mau kemana lagi?”

“Yaelahh. Bosen ah dirumah mama melulu. Kita cari makan kemana dulu yuk yank.” Bujuk Alena pada Ruby.

“Ide bagus. Makan serabi duren yuk yank. Di deket SMA kamu dulu aja. Enak banget disana, durennya beneran soalnya.”

“Iyeee kang dureen. Yuk lah, cuss kita kesana.”

“Kamu bilang mama dulu lah, nanti dia nyariin lagi, kita lama banget perginya.”

“Yaelaaahh. Yaudah iya. Tapi aku juga mau pempek yank. Nanti kalau ada yang keliatannya enak, mampir dulu ya.”

“Wokss!” sahut Ruby sambil memutar stir mobilnya ke arah kiri.

Alena tersenyum bahagia dengan mood baik dari suaminya hari ini. “Alhamdulillahhh, laki gue laki baek. Kapan lagi hahaha” ujarnya dalam hati sambil kembali tenggelam dengan ponsel sentuhnya.

.

Malam ini wajah Alena nampak lebih sumringah dari biasanya. Usai makan serabi duren dan membawa pulang pempek aseli Palembangseperti keinginannya tadi. Maklum saja, ditempatnya ia tinggal kini, Pekanbaru, ia tinggal ditempat yang jauh dari kenikmatan makanan-makanan seperti ini. Sesekali dalam perjalanannya ia dan Ruby bercanda hingga tertawa terbahak-bahak ketika mengomentari orang yang berseliweran didepan mobil. Hingga akhirnya mereka pun tak sengaja melewati taman komplek yang dimana saat masih kelas satu SMA dulu, taman itu adalah taman yang paling sering ia, Samira, Rindy dan Oditta gunakan untuk berfoto dan ketawa ngakak secara liar tanpa perlu sungkan akan ditegur oleh orang lain yang mengenali mereka. Alena tiba-tiba teringat dengan kisah lucu dulu, dimana ia dan Oditta yang notabene tidak bisa mengendarai motor sedang diajari oleh Samira dan Rindy yang sudah lihai dan lincah mengendarai motor.

Saat itu ia ingat betul bagaimana lucunya Oditta dan Rindy yang harus beberapa kali nyusruk got dan menabrak beberapa orang karena Oditta tidak bisa mengendalikan gas yang ada di tangan kanannya. Sementara dirinya seolah sedang berlaku seperti anak kecil yang biasanya duduk di depan orang dewasa untuk bisa lebih menikmati angin dan melihat jalan raya. Semua nampak begitu riang, dan nyaris tanpa beban. Meski setelah itu Oditta harus menahan omelan karena motor kakaknya sedikit penyok karena beberapa kali terbentur aspal dan nyusruk ke liang got yang beruntungnya adalah got kering.

Alena menelan ludahnya dengan sedikit berat. Betapa ia begitu merindukan keakraban yang terjadi saat masa-sama SMA dulu. Masa dimana mereka sama sekali tidak memiliki beban hidup, kecuali Oditta, dan masa dimana semua terasa begitu menyenangkan karena bisa sesering mungkin untuk tertawa ngakak karena selalu ada bahan cengan dari orang-orang yang secara kebetulan bentuk fisik dan gelagatnya sangat layak untuk dijadikan gurauan.

“Kenapa kamu?” Tanya Ruby yang tiba-tiba menghamburkan lamunan Alena.

“Gak apa-apa. Pas tadi lewat taman tadi, aku jadi keingetan jaman-jaman aku pulang sekolah SMA dulu. Pasti mainnya kesitu, ngerujak bareng di ayunan sambil ngegosipin kakak kelas. Hehe.” Jawab Alena cengengesan.

“Waktu masih laku-lakunya ya, hmm??”

“Haha. Bukan laku lagi aku mah,lariiiss! hahaha.”

“Huu dasar! Tumben gak izin buat ketemuan sama si Surodit, Rindy, Samira de el el. Lagi pada marahan ya?”

“Yaelaah yank, marahan? Haha. Ya enggaklah! Kayak anak ABG aja. Haha. Mereka udah pada sibuk soalnya dan kalau tiap ketemu udah pasti rebek banget atur jadwalnya. Entar si Rindy sama Godit bisa, Si Samira sama Nina gak bisa. Tuker-tuker gitu aja terus. Makanya males. Toh karena kita juga udah mau balik lagi ke Pekanbaru ‘kan, jadi yaa kapan-kapan aja aku ketemu merekanya.”

“Hmm.. gitu.” Sahut Ruby sambil terus fokus pada arah jalan dan stir mobilnya.

Alena terdiam sambil memalingkan pandangannya ke arah jalan raya. “Begini amat ya jadi orang dewasa. Huh!” keluh batinnya sambil menatap rintik-rintik hujan dari balik jendela mobil suaminya.

Tak lama ponsel sentuhnya pun berdentum. Ada pesan singkat masuk. Dari Rindy.

“Lo di Jakarta, Nong? Kok gak ngabarin deh?” tulis Rindy.

“Udah. Di path.” Balas Alena sekenanya.

“Yakali, dipath. Mau ketemuan?”

“Emang elo bisa?”

“Yaelah Nong. Apaan deh lu. Bisa kok, tapi sama Wisnu palingan? Gak apa-apa?”

“Yaah. Yaudah deh gpp. Berarti gue bawa Ruby juga ya?”

“Aturlah Nong..”

“Oke. ketemu di Mall deket kampus lo aja ya. Gue lagi di daerah sini nih soalnya.”

“Sip! Berkabar yaa” jawab Rindy ramah.

***

.

Setibanya Di Mall

“Ndyy!!!” Seru Alena ketika melihat Rindy dan Wisnu yang tengah memilih-milih sepatu sambil bergandengan di dalam sebuah toko sepatu olahraga.

“Hai Nong, hai By…” Sahut Rindy yang lekas menyambut sahabatnya dengan pelukan dan cipika-cipiki ala kebiasaan wanita di ibukota.

“Apakabar kalian?? Eh kenalin. Yang baru hehe.” Ujar Rindy cengengesan tanpa dosa.

“Ohh, haha. Pantesan laen dari yang biasanya haha! Hallooo.. Alena” sahut Alena. “Ini suami eike, hehe.”

“Hai, Wisnu.. Wisnu.” Balas Wisnu dengan ramah sambil berjabat tangan dengan Alena dan Ruby.

“Lo masih mau milih-milih dulu, Ndy? Apa mau langsung ke tempat makan atau ngopi gitu?” Tanya Alena yang tangannya masih merangkul pundak Rindy.

“Hmm.. Lo kalo mau duluan gak apa-apa Len. Pilih aja dulu mau duduk dimana, nanti tinggal kabarin gue. Dia mau nyari sepatu dulu bentar soalnya.” Ujar Rindy sambil melirik Wisnu.

“Oh, yaudah kalau gitu mah. Paling disitu aja kali ya.” Usul Alena yang telunjuknya mengarah ke sebuah café yang bergaya Belanda tempo dulu.

“Ikut aja gue mah.” Balas Rindy santai sambil berjalan ke dalam ruangan toko sepatu yang tadi.

“Yaudah. Yuk yank. Kamu mau makan apa lagi?” Ajak Alena sambil memegang lengan Ruby.

“Apa ajalah. Aku ‘kan pemakan segala. Asal bumbunya enak.” Tiba-tiba ia bingung karena isterinya mendadak senyum-senyum sendiri. “Kenapa kamu, senyam-senyum sendiri gitu?”

“Hehe. Enggak. Aku jadi inget Oditta. Dia kalau denger orang yang ngomong kayak kamu tadi, pasti respondnya gak jauh-jauh dari taik kucing disambelin. Haha.” Kenang Alena.

“Ah emang dasar tuh dia, si koplak murni. Ckck” Balas Ruby sambil menaikkan posisi kacamatanya yang terasa agak turun.

***

.

Rindy dan Alena kini duduk berdampingan disebuah resto bergaya kompeni dengan kursi-kursi kayu dan temaram cahaya lampu yang berwarna kuning lembut. Didepan mereka terdapat dua sosok lelaki yang sejak tadi sudah lebih sibuk berbincang daripada mereka. Nampaknya mereka berdua banyak memiliki kesukaan dan hobi yang sama sehingga bisa langusng cepat akrab satu sama lain.

“Kuliah lo gimana, Ndy, udah beres?”

“Hehe. Mayan deh dibantuin abis-abisan soalnya sama dia. Hihi.” Jawab Rindy sambil melirik kearah Wisnu.

“Hmm..” respon Alena datar sambil ikut tersenyum pada pasangan yang ada didekatnya malam ini.

“Kemarin udah kelar sidang akhirnya Len. Jadi sekarang tinggal nunggu foto pake toganya aja, hehe.” Jawab Rindy sambil menaikkan alisnya dengan pede dan tersenyum manis.

“Oalaahh, alhamdulillah. Kenapa gak ngabarin deh?” Tanya Alena yang membuat Rindy kembali melirik Wisnu dengan sekejab.

“Woy! Kenapa gak ngabarin?” ulang Alena.

“Yaelah, kayak anak alay aja. Cuma s1 doang ini. Haha!” sahut Rindy merendah.

“Ya tapi tetep mesti disyukurin lah Ndy.”

“Iya nanti deh, gampang.”

“Gampang-gampang doang elu mah. Dilakuin juga enggak!” celetuk Alena datar. Dan Rindy pun terdiam. Tak lama Wisnu pun seperti mencoba mengajak teman-temannya untuk berbincang bersama membahas isu terhangat negeri ini, dimana kondisi ekonomi dan politik negeri ini sedang semrawut.

“Haha. Iya, menurut gue juga gitu sih, Nu. Parah yaa Negara lo, haha!” Sahut Ruby yang akhirnya ikut juga menyudahi keasikan mereka mengobrol ngalor ngidul sejak tadi.

“Lo gak mau nambah cemilan lagi, Al?” Tanya Wisnu basa-basi pada Alena sambil mendekatkan gelas minuman ke bibirnya.

“Haha. Sialan. Mentang-mentang gue lebar. Lo abisin deh, asal jangan pake belagak pilon aja yaa buat bayar. Haha”

“Haha, Alena, bisa aja. Tenang Al, udah tanggal muda. Ahaha”

“Oh, ya bagus deh. Tenang gue. Maklum deh ya, ibu-ibu rumah tangga, peduli banget sama pengeluaran mendadak, Haha.”

“Haha. Okee Al, santai. ” jawab Wisnu sambil tersenyum dengan ramah

***

.

Di Mobil.

“Kamu gak usah gitu-gitu amat kenapa sih sama Rindy sama pacar barunya. Gak bagus tau.” ujar Ruby sambil menginjak kopling dan mengganti gigi roda kendaraan Jeepnya.

“Hah? Gitu-gitu amat gimana? Emang aku ngapain?”

“Ya omongan kamu tadi. Ekspresi si Rindy langsung jadi berubah gitu.”

“Iya apa??” Elak Alena tak percaya. ”Biarin aja lah. Abisan dia itu kalau gak digituin gak bakal sadar yank. Lagian tadi aku juga gak maksud apa-apa kok, kamunya aja lebay.”

“Terserah kamu deh.”

Alena kembali diam dan menikmati perjalanan pulang sambil melipat kedua tangannya di atas perut dan tas jinjingnya. Arah pandangannya pun terus menerus ke sebelah kiri. Di dalam hatinya sedang bergemuruh bahwa ada yang tidak beres dengan kedua temannya. Namun Alena tetap diam. Ia malas membicarakan hal ini pada suaminya sehingga ia pun memutuskan untu sibuk dengan ponselnya saja, mencari nomor telepon Oditta.

“Udah turun gunung blom lo?” begitu tulisnya pada layar pesan singkat.

Lima menit menanti, tak juga Oditta kunjung membalas pesannya. “Huuh.. si kunyuk lama banget sih ngebolangnya. Sebel.” Kesal Alena dalam hati. Tidak puas karena tak ada balasan dari Oditta, Alena pun membuka kembali aplikasi social media yang beberapa hari lalu sempat ia uninstall.

Usai proses instalasi aplikasi tersebut selesai, ia pun segera memasukkan email user ID beserta kata kuncinya. Tak lama berselang ia jempolnya kembali berselancar di dunia maya dan tiba-tiba matanya terhenti pada update-an foto salah seorang temannya yang sukses membuat matanya sulit berkedip saat membaca kalimat demi kalimat yang tertera pada foto tersebut.

Cerita Lima Cangkir Rasa - Episode 5 - Angin Rindu

Alena menghela nafasnya yang terasa berat. Ruby pun kembali menanyakan kondisi wajah isterinya yang tak biasa dan mendadak jadi pendiam.

“Gak apa-apa. Aku ngantuk.” Jawab Alena singkat sambil seolah membenarkan pernyataannya dengan langsung memejamkan kedua matanya.

 

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Angin Rindu – Episode 5
%d bloggers like this: