aku termasuk golongan orang yang mudah akrab bila merasa nyaman. gerbang terluar untuk berteman jarang aku kunci, cukup aku tutup dengan seperlunya saja. tapi bila ingin mencoba masuk lebih jauh ke dalam rumah, harus dulu melewati pekarangan rumahku yang agak berliku.

aku tak suka sembarang orang masuk kerumah, apalagi sampai ke kamar.

bila hanya sekedar berteman sebagai sesama manusia yang ingin bertukar sapa dan cerita ringan, bagiku duduk berbincang di halaman depan saja sudah cukup. namun bila bisa sampai ingin bertukar pikiran, pengalaman dan berbagi cerita terdalam, aku pun hanya mengizinkan untuk berhenti di ruang tamu saja.

aku tak pernah merasa perlu untuk mengizinkan siapapun masuk ke dalam ruang pribadiku yang terdiri dari ruang kerja, ruang tidur dan kamar mandi.

satu-satunya laki-laki selain papa yang aku izinkan masuk ruang kerja hanyalah orang yang kini secara catatan sipil negara diakui dengan sah sebagai suami. setelah aku yakin dia bisa menjadi partnerku dalam berpikir dan menanggulangi medan perangku, barulah ia bisa masuk ke dalam ruang tidur, untuk melihat kondisi kasur, bantal, guling dan selimut yang setiap hari aku gunakan dalam menghadapi depresi dan kemudian bisa ikut bersama-sama menggunakan air di kamar mandi yang selama ini selalu aku gunakan untuk mengalirkan racun dan ampas yang selama ini aku cerna.

aku bukan tak mudah percaya (walau sebenarnya agak sedikit benar), tapi aku hanya tidak suka bila terlalu banyak ‘bekas jiplakan orang’ yang mengisi lantai, tembok dan sudut ruang pribadiku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: