Di bawah lentara purnama yang tengah berintonasi sendu
Kita akhirnya mampu bertemu
Setelah sekian lama masing-masing dari kita bersama untuk saling tunggu menunggu.

Menunggu pergantian musim hati berlalu
Dan kemudiannya mengizinkan kepentingan kita untuk saling melebur menjadi padu.

Andai Tuhan tak pernah mengatur labirin kehidupanku hingga begitu berliku lagi mengharu biru
Aku rasa tak akan pernah aku sebersyukur ini kala bertatap jumpa dengan “hutan”-ku

“Hutan” yang begitu rindang lagi lebat daun pengertiannya terhadap posisi dan situasiku
Juga “hutan” yang selalu menyediakan dahan kesabarannya untuk aku hujani dengan kegundahan dan ketakutanku.

Terima kasih, Tuhan..
dan kamu, “hutan” hidup-ku.

Semoga Tuhan selalu merahmati dan bersama kita,

Kemarin, saat ini, hingga juga hari-hari nanti.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: