Mencoba menerima tentang penetapan takdir diri yang sebenarnya.

Tentang pemaknaan yang perlahan mulai menemui titik gradiennya.

Tentang rasa dari medan perdamaian antara logika

dengan nurani yang mengudara.

.

Aku menyadari bahwa selama ini aku keliru dalam menilai dan memosisikan yang sebenarnya Tuhan.

Karena saking amat khawatirnya tentang takdir yang padahal hanya masih sebatas dalam pikiran, bukan kenyataan.

Dan ketika aku paham bahwa Tuhan tidak sepayah pemikiran..

Aku pun menanggung malu yang amat tak tertahankan

Sehingga aku belajar untuk perlahan mempersempit ruang dugaan

Terutama dugaan yang amat picik lagi sombong tak karuan

Yang selama ini ternyata selalu berbalut dalam jubah doa yang menginginkan segalanya terjadi segera dan sesuai harapan.

Padahal sejatinya, Tuhan bukanlah budak pewujud keinginan.

Apalagi Cuma Tuhan sendiri yang mengetahui hal terbaik untuk setiap ciptaannya, lalu mengapa kesok-tahuan kita dalam doa dan harapan seolah jauh lebih tinggi dari kemampuan Tuhan yang Maha memiliki segala pengetahuan??

Isi doa dan harapan yang selalu kita paksakan untuk dapat Ia kabulkan masih kurang bukti bahwa itu seperti memperbudak Tuhan?

Bila kau masih bilang tidak dengan alasan Tuhan itu memang senang bila ciptaannya meminta, tolonglah telisik lagi. Apa kalian sudah siap dengan segala wujud jawaban dalam kenyataan??

Karena sejatinya, kenyataan yang menghampiri adalah jawaban dari setiap keputusan Tuhan.

.

Nampaknya cukup sulit untuk meneguk isi dari secangkir pesan yang baru saja aku tuliskan.

Tak apa.. aku tak akan memaksakan.

Karena tugasku memang bukan untuk memaksakan, melainkan hanya mengabadikan

Dalam setiap cangkir pesan yang aku tuliskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: