Saat mentari sedang bersiap untuk menghangatkan bumi
Aku justeru masih saja terkungkung sepi
Dalam kubangan embun pagi
Bersama secangkir kopi.

Kabut pagi nampaknya masih setia menyelimuti hari.
Mungkin begini pula kondisi yang terjadi di dalam benakku tentang kekhawatiran masa depan diri ini.

Bagaimana dengan hatiku?
Bagaimana dengan mimpiku?
Dan bagaimana pula dengan diriku?

Aku takut dengan semua itu.
Aku takut jika Tuhan tak lagi sepaham dengan impian dan tujuanku.
Dan berbeda keputusan dengan harapanku atas seluruh kerja kerasku.
Sungguh betapa aku gelisah atas semua itu.

Lalu apa yang nantinya akan terjadi?
Selalu pertanyaan itu yang membelenggu diri
Dan sungguh ini membuatku letih untuk mengerti.

Hingga akhirnya aku memilih untuk menepi.
Meski sekedar untuk berdialog sendiri
Tanpa siapapun yang menemani

Tentang mimpi.
Impian apalagi yang harus aku daki?
Jika tujuan hidup sebenarnya bukan pada puncak ketinggian melainkan pada kedalaman untuk memahami.
Karena semakin tinggi kita berusaha mengejar mimpi,
Yang terjadi justeru membuat kita tidak lantas mudah mensyukuri, melainkan lebih lekas untuk mengeraskan hati.

Tentang hati.
Pada siapa lagi akan ‘kan ku labuhkan diri.
Jika yang terbendung kini justeru hanya sekedar kumpulan emosi dan ego tanpa mampu dikendarai.
Aku takut dengan pikiran dan hatiku sendiri,
Karena setiap keburukan yang terjadi
Tak mungkin tak berasal dari sini.

Dan tentang mati.
Jika sudah ku impikan banyak hal,
Sudah ku persiapkan banyak hal
Dan tinggal sebentar lagi aku mampu membuktikan dan mencapai banyak hal
Lalu yang terjadi justeru aku tak bisa menggenggamnya karena waktuku usai

Mari bantu aku untuk memahami,
Siapa yang mau bertanggung jawab atas semua ketimpanganku mementingkan kehidupan saat ini daripada nanti?
Siapa kelak yang akan kembali mengingatku jika aku jasadku sudah disimpan dalam perut bumi selain tabungan yang kupunyai sendiri?

Lalu mengenai diri.
Perlahan mulai kucukupkan untuk mengejar duniawi
Dan juga perlahan untuk mensyukuri segala apa yang ku miliki.
Karena semua sudah pasti akan berlalu dan kembali pada Yang Maha Menguasai.
Sebagaimana mimpi, hati dan juga jasad diri yang pasti akan berhenti
Karena kematian telah menghampiri.

Mulai detik ini.
Yang aku persiapkan bukan lagi hanya menata mimpi, hati dan juga keindahan diri
Melainkan juga mempersiapkan diri untuk kehilangan diri sendiri
Dan menghempaskan mimpi
Karena kepastian tentang mati
Sudah menjadi kepastian yang hanya tinggal menunggu hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tentang Hati, Mimpi, dan Kematian Nanti
%d bloggers like this: