Aku suka menulis disaat nuraniku sedang berontak.
Saat dimana terdapat perasaan terinjak bercampur sesak
Namun tak lagi bisa aku tolak karena memang sudah menjadi suratan takdir dari Yang Maha Bijak.

Sejak dahulu, Tuhan sering menghadiahiku situasi macam ini untuk membuatku bangun dari tidur lelapku dan membuat sedikit percikan api segar yang sering disapa manusia dengan nama pembuktian.

Aku sedang tidak ingin membahas ladang bunga masa laluku disini.
Pun sedang tidak berminat untuk membahas tentang pecahan beling apa saja yang sedang berserakan tak karuan.
Aku kini lebih tertarik untuk memahami bagaimana seharusnya untuk berempati pada yang bersebrangan dengan posisi kita saat ini.

Senangkah kita di intervensi?
Dengan berbagai settingan kondisi dan situasi.

Jujurlah. Kuulangi pertanyanku, kawan..

Senangkah kita di intervensi?

Nyamankah kita diremehkan meski hanya dengan potongan nafas maupun dengan penggalan tawa?
Meski itu datang dari orang paling mulia lagi kita sayangi kehadirannya.

Apapun profesimu. Setua apapun usiamu. Setinggi apapun jabatanmu. Sebesar apapun gaji dan tanggung jawabmu. Sedalam apapun pengalaman dan pemahamanmu. Aku berani katakan bahwa hal tersebut pun berlaku bagimu.

Ya, berlaku bagi siapa saja yang masih ingin disebut sebagai manusia.

Ada satu pertanyaan yang begitu mengganjal kepalaku.

Bagaimana bisa selama ini kau bertahun-tahun mengabdi sebagai seorang pendidik dan tumbuh menua di dalam dunia pendidikan namun dirimu sendiri saja lalai kau didik untuk menghormati perasaan orang lain, khususnya perasaan mereka yang membutuhkan ilmumu??

Jawab aku.

Akan jadi apa dirimu tanpa kebodohan dan ketidaktahuanku dan mereka?

Kau selama ini dianggap lebih tinggi bukan karena memang sebenarnya tinggi,
Melainkan karena peraturan yang mau tak mau harus diikuti
Meski itu berlawanan dengan perkataan nurani kami.

Jangan terlalu bangga dengan profesimu di dunia pendidikan. Jika kau saja masih keteteran dalam mengurusi rasa empati dan pemahaman terhadap mereka yang menurut egomu adalah kelas rendahan lagi masih berantakan.

Sedikit aku bantu ingatkan,
Selain Tuhan benci pemborosan,
Ia juga benci dengan orang yang mengaku tinggi lagi membanggakan diri sendiri.
.
.
Selama hari raya bagi dunia pendidikan,
Khusus bagi yang seluruh hidup dan matinya demi dunia pendidikan, bukan yang hanya sekedar gegayaan.
Apalagi yang nuraninya ketinggalan untuk menerapkan etika dalam kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tak Karuan.
%d bloggers like this: