Tag: ORA

Gerimis Tak Menentu

Gerimis makna dan gemuruh cerita yang menikam dada Hanya saja saat ini aku sedang tidak memiliki tenaga untuk menumpahkannya.   Jurang ketidakpahaman yang membuatku bergeming lebih lama Bersama secangkir ingatan yang masih teramat sulit aku cerna Namun selalu bersemayam, mencengkram telinga   Entah apa yang sebenarnya membuat gulana ini makin berpesta pora Dari yang aku […]

Gelora Sederhana

Sesederhana hujan yang menjelma sebagai karunia Sesederhana angin yang berhembus untuk menyejukkan jiwa Dan sesederhana hiasan pelangi yang terukir sehabis deru hujan badai menerpa . Aku ingin menjadi wanita sederhana Sesederhana kerang yang fokus berjuang menahan sakitnya demi sebuah mutiara   Dan sesederhana cahaya yang hanya memijarkan doa tanpa memaksa . Aku ingin menyelami makna sederhana […]

Temani Sang Rasa

Kala dalam kelimbungan Mengenai maksud tujuan dari hadirnya linear rasa yang menjemukan Mengenai perlu atau tidaknya untuk dikemukakan? Ataukah memang hanya layak tuk tersimpan¬† Di dalam lemari bernyawa yang tengah berjalan? . Pijar kesadaran tentang perlunya jeda itu nampaknya mulai menggema Namun sudikah sang ego membiarkannya? Sudut nurani di pesisir hati bertitah untuk tetap menemaninya […]

Pada Langit Saja

Kira-kira, pada siapa sejatinya kita patut bercerita tentang kerinduan pada orang-orang yang tak lagi ada? Apakah pada mereka yang belum pernah mengalaminya? Ataukah pada dia dan dia yang kini telah memiliki keluarga? Sedetik kemudian, sendu senyap pun melanda. . Ada yang pernah bertanya, Mengapa tulisanku lebih banyak mengenai gundah gulana Bukannya menebar wangi bunga Seperti […]

Tentang Hati, Mimpi, dan Kematian Nanti

Saat mentari sedang bersiap untuk menghangatkan bumi Aku justeru masih saja terkungkung sepi Dalam kubangan embun pagi Bersama secangkir kopi. Kabut pagi nampaknya masih setia menyelimuti hari. Mungkin begini pula kondisi yang terjadi di dalam benakku tentang kekhawatiran masa depan diri ini. Bagaimana dengan hatiku? Bagaimana dengan mimpiku? Dan bagaimana pula dengan diriku? Aku takut […]

Tepian Kata

Aku berbaring ditepian kata Memercikan sedikit endapan aroma rasa Tentang makna mengudara Tentang jiwa melanglang buana . Selangkah kedepan aku kembali ke peraduan Namun tak sehelai pun ku temui rerumputan Melainkan hanya kegersangan dari seonggok kenangan Tentang pengalaman dan pemahaman Yang nyaman terselimuti oleh debu ketidakberanian. .