Ini adalah salah satu dari sekian pemahaman kebolak bin gesrek saya dari mereka-mereka yang waras dan normal sebagai manusia. Sebetulnya pemahaman ini sudah dari lama sekali sering dipertanyakan (baca: diprotes) oleh teman-teman, dosen bahkan hingga taraf keluarga dan orang tua. Hanya saja selama ini saya malas untuk menjelaskan duduk pemahamannya dan baru saat ini merasa tergerak untuk menuliskannya.

Jika diminta untuk memilih salah satu, saya lebih cendrung memilih untuk menghadiri (baca: ngebela-belain datang) pada suatu acara pemakaman daripada acara perayaan tambah usia atau acara resepsi pernikahan. Kenapa?
Jawaban sederhananya adalah karena saya paling malas dengan kepalsuan. Seriusan.

Ini tidak bermaksud untuk menjustifikasi atau mengeneralisir sesuatu. Ini hanya pandangan saya pribadi berdasarkan pengalaman dan pemahaman saya dan juga orang-orang yang hobi sekali curhat perjalanan hidupnya pada saya secara personal.

Ada satu kalimat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib tentang pertemanan yang saya suka sekali dan akhirnya resmi saya jadikan landasan setelah saya mengalaminya sendiri. Yang inti ucapannya (saya ubah untuk lebih perjelas sedikit) adalah

“kita baru akan paham tentang siapa dan apa hal yang betul-betul disebut dengan sahabat sejati itu, justeru ketika kita dalam pesakitan, kekecewaan dan kehilangan, bukan ketika kita merasa bahagia dan serba kecukupan.”

Jujur saja, saya dari dulu (jaman SD) selalu merasa jadi orang yang paling bingung bin merana setiap diundang teman untuk datang ke acara ulang tahun atau sekarang (setelah sudah dewasa) ke acara pernikahan.

Pertama, saya tidak pernah tahu harus pergi bareng dengan siapa. Karena memang saya dari jaman dulunya tidak pernah bisa diizinkan untuk memiliki hubungan yang biasa disebut pacaran, baik oleh Tuhan maupun bapak saya. Jadi setiap ada yang mengundang, hal pertama yang saya bingung adalah hal yang satu ini.

Karena kampretnya, dari dulu teman-teman saya kebanyakan dan seringnya selalu lebih mau bersama pacarnya ketimbang bareng-bareng. Atau sekalinya pasangan itu baik pada saya, namun kursi joknya tidak mencukupi alias hanya bawa motor. Otomatis saya pun jadi malas.

Selain karena sudah keluar uang untuk kado, saya pun harus kembali modal transportasi bolak balik sendiri plus jadi sebatang kara karena tidak ada teman yang bisa diajak ngobrol secara intensif selama diacara tersebut. Macam sapi ompong yang planga plongo gak jelas. Males!

Biasanya kalau teman yang sudah kadung sangat dekat dengan saya atau saudara sepupu, mau tidak mau, ya harus mau untuk tetap datang, meski sudah bisa diprediksi dan memang benar terjadi kalau saya seperti anak ilang yang tak punya kawan dan hanya senang mengendap di pojokan. Haha.

Gak jarang banyak teman yang kasih ide untuk bawa gebetan. Tapi biasanya saya cuma dengarkan aja. Gak saya lakukan. Hehe. Saya sendiri aja masih susah ngelawan pendirian dalam diri saya sendiri, gimana orang lain.

Dalam diri saya, saya gak mau memanfaatkan orang lain hanya demi kepentingan diri sendiri (sepihak) hanya karena alasan sederhana, yakni, saya tidak mau nantinya kembali diperlakukan seperti itu oleh orang lain atau oleh semesta. Saya tidak mau. Karena saya paham betul bagaimana rasa tidak nyaman dan sesaknya hati ketika hanya dimanfaatkan sementara lalu didepak kemudian. Thank you. Sudah kenyang!

Kedua, saya bingung mau memberikan apa. Saya cendrung lebih senang memberikan orang sesuatu ketika ia sedang sangat butuh atau ketika ia sedang sedih, bukan ketika ia sedang senang.

Kalau ia senang, saya beneran tidak tahu apa yang benar-benar ia butuhkan. Toh, jika alasannya supaya jadi lebih senang lagi, apa benar memang itu yang dia perlukan? Saya rasa tidak. Karena sepemahan saya kadar cukup bagi setiap manusia jauh lebih baik daripada berlebih-lebihan (apapun konteksnya).

Ketiga, kadang saya tidak selalu punya kelebihan uang atau materi untuk memberi hadiah. Masa’ yang ulang tahun atau yang nikah teman saya, yang beliin kadonya bapak saya. Yang benar aja! (Kan pemahaman standarnya orang kebanyakan, kalau lagi gak punya uang dan masih ada orang tua, ya minta aja) tapi bagi saya pribadi, mohon maaf. Tidak bisa. Itu teman saya, jadi harus pakai uang saya.

Lucunya lagi, pemahaman standar dari kebanyakan orang (khususnya orang Indonesia) itu harus memberi jika diberi. Harus ngasih kado dulu kalau mau ditraktir makan. Harus ngaplopin juga kalau diundang ke pernikahan. Lah, kalau ada juga dikasih, kalau pas kebetulan lagi kering? Mau ngasih apa? Daun? Atau upil kering?

Itulah sebabnya saya lebih nyaman memilih untuk berada bersama dengan orang yang keadaannya sedang tidak beruntung atau kurang baik. Dia tidak membutuhkan materi (kado, uang, traktiran dll) karena yang dia butuh hanya kehadiran, ketulusan dan waktu yang diluangkan.

Berhubung sumber daya kemampuan yang saya miliki hanya itu, jadinya saya pun hanya akan memberikan yang saya mampu. Bukan yang dipaksakan hanya demi sebuah kelanggengan yang semu. Bagi saya, jika tulus berteman yang dicari bukan traktiran, bukan bingkisan tapi sejenak kesediaan. Sedia untuk meluangkan telinga, waktu dan sedikit kekhawatiran pada yang betul-betul membutuhkan uluran kepedulian.

Begitulah kira-kira menurut “kacamata” pribadiku, bagaimana menurut pandanganmu??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: