“Apa yang menarik dari sebuah keabadian?” Tanyaku mendalam pada sepasang layar mata yang sedang membeku dalam haru.

Ia hanya bergeming dalam bersama nafasnya yang parau.

“Tidakkah telingamu juga berguna untuk mendengar?” Tanyaku lagi untuk memastikan organnya berguna dalam kehidupannya.

Kini ia lebih baik. Meski perubahannya hanya dengan sekubit senyuman yang belum bisa disapa menarik.

“Aku tak tahu,” Jawabnya sambil memola nafas dan berusaha melanjutkan jaitan dari jawabannya.

“Bagi seleraku, tak begitu menarik rasanya. Karena yang ku temukan, selain batu kerikil yang berupa kebosanan, juga banyak didominasi batu kesombongan dan kesewenang-wenangan.. Dan bagiku, Tuhan sudah sangat bijak dalam menciptakan alam semesta ini dengan tidak dikuasakannya keabadian bagi dan untuk manusia.”

“Kenapa?”

“Ya, karena variasi bebatuan yang sudah kusebutkan tadi.”

Kini berganti, aku yang bergeming sesudah mendengar jawabannya.

 

“Dengar.. keabadian bagi dan untuk manusia itu hanyalah cerita fiksi. Dan tidak akan pernah terjadi, sekali pun dipaksakan untuk terjadi, itu hanya akan menjadi faktor pencetus kebosanan yang baru lagi.

Dalam kehidupan ini, kita memang harus terus bergerak ke arah guratan takdir yang sudah ditentukan Tuhan sesaat sebelum kita lahir, maupun yang bisa sedikit kita ubah, yang sudah barang tentu atas persetujuan Tuhan untuk terjadi, namun selebihnya, tetap sama. Kita harus bergerak melewati dan melintasi setiap hal yang tidak pasti, alias kefanaan ini.”

“.. Kesedihanmu akan fana. Kesenanganmu pun fana, pun kesehatan, kecantikan, kecerdasan, keindahan, kesetiaan dan lain sebagainya. Semuanya akan berakhir sama. FANA.

“.. Orang Yahudi merangkainya dalam sebuah kalimat yang berbunyi, Gam Zeh Ya’avor. Yang dalam bahasa keseharian lidahmu, bermakna, Ini Semua Juga Akan Berlalu.”

“Silahkan bersedihlah jika kau masih diberikan nikmat oleh Tuhan untuk sedih. Jika air matamu tak lagi bisa meluncur, kau sendiri nanti yang limbung. Pun juga sama. Bersenanglah dalam kadar cukup saja, selama tidak untuk tujuan menyakiti orang lain, kau pun memiliki hak yang sama untuk menikmatinya.”

“Lalu, bagaimana dengan sakit? Apa aku harus menikmatinya juga?” Pertanyaanku kembali membuatnya menoleh sambil tersenyum pada langit semesta.

“Bagaimana perasaanmu jika kau sedang dalam keadaan sehat, segar, juga bugar? Lupa kah engkau, bahwa itu juga adalah nikmat yang setara dengan rasa sakit?” Jawabnya tenang.

“Bagaimana kau bisa bilang hal itu sama, padahal rasanya amat sangat berbeda. Di dalam sakit, dimana bisa aku temui kenikmatan?? Ah kau sakit jiwa!” Kesalku padanya yang sedang luar biasa sok tahu ini.

“Apa semua nikmat itu selalu dalam bentuk keindahan, kemudahan dan kesenangan?? Siapa yang sekarang lebih layak disapa sakit jiwa?” Sahutnya.

“.. Tingkat pemahaman isi kolam ikan memang selalu lebih mudah untuk beriak dan berteriak dibanding yang pemahamannya sudah seperti samudera.” Ujarnya menyelesaikan kalimat.

“Maksudmu tingkat pemahaman ilmuku sedangkal kolam ikan? Begitukah?” Tanyaku sambil merasakan jantungku yang sedang bergidik.

“Kau marah??”

Aku enggan menjawabnya.

“Tuhan menciptakan akal, hanya khusus untuk ciptaannya yang bernama manusia saja. Tidak untuk yang lainnya. Jadi, akal itu sendiri adalah nikmat tiada duanya bagi manusia. Dan untuk menikmati akal itu, kita semua yang tergolong manusia ini, memang perlu mengikuti jalur labirin dari yang Maha Menciptakan.”

Aku masih setia bergeming sambil menikmati penjelasan aneh dari pemahamannya.

“Coba sesekali, kau bentangkan cerita hidupmu selama ini.  Apakah tanpa kesusahan, pesakitan dan kesedihan engkau dapat memiliki kemampuan untuk bersyukur lebih nyata daripada setelah engkau merasakan segalanya.” Ujarnya sambil bergegas untuk berdiri dan meninggalkanku sendiri.

“Dengar, menjadikan diri sebagai pecundang memang selalu lebih mudah daripada menjadi pemenang. Tinggal tentukan pilihanmu saja. Karena keduanya memiliki paket pengorbanannya yang sangat berpunggungan.” Ujarnya yang terakhir sebelum betul-betul pergi dari indera penglihatanku.

 

Sejenak aku memandang senja

Yang sebentar lagi akan ikut menjadi bukti kata fana

Di pelupuk mata yang sedang terbentang nyata

Ternyata benar adanya, aku hanya butuh kefanaan untuk menikmati ini semua

Karena bila waktu senja dibiarkan terlalu lama

Yang terjadi justeru tak seindah ini rasanya.

 

Aku pun tersenyum pada semesta,

Karena selalu tak pernah sengaja untuk memanggilnya

Namun selalu berdampak nyata

Untuk mengisi ketidak pahamanku tentang segalanya.

(1) Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: