Menelusuri sebuah cara dengan menenggelamkan diri bersama ragam asumsi cahaya

Bersama makna yang berserakan di sudut keheningan yang terbersit saja

Dan bersama tajamnya siku kepayahan yang tak kunjung layu jua.

Aku ingin menikmati alur nyanyian semesta tentang mengalirnya segelas rasa

Tentang tepian senja yang selalu menjadikan dunia hanyalah sebagai peta,

Bukan tujuan utamanya.

Kini sadarku memilih jalan bersama waktu dini hari yang masih kelam

Bersama ransel ketakutan dan ketidakpastian atas kepekatan malam

Sekali lagi, sebenarnya aku ingin seirama dengan air yang mengalir

Namun mengapa yang aku lihat, sungai ini justeru sedang tak berair

Sehingga aku menjadi kesulitan untuk bermuara dengan rasa damai pada yang bernama takdir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: