Sebuah catatan lama, 11 Juli 2014

.

Rasanya akhir-akhir ini sedang kalap banget baca buku dan mendalami banyak hal dalam diam.
Merubah mindset, mikir positif dan belajar memilah mana yang perlu segera dilakukan dan yang masih bisa ditahan.

Perubahan ini tidak serta merta drastis.
Banyak keributan dalam internal pikiran yang buat saya hampir gila untuk hal ini.
Memahami kondisi semua ini lalu menerimanya sebagai sebuah pelajaran berharga dimasa muda yang belum tentu banyak teman di luar bahkan di usia saya yang merasakannya.

Hmmm..
Sepertinya saya perlu sebutkan kembali.
Bahwa kedewasaan bukanlah sekedar faktor usia dan kepantasan berbusana dan bertatakrama. Tapi dewasa adalah upaya penerimaan dan juga penguasaan diri untuk menjadikannya tahan terhadap berbagai tekanan yang mendera. Terlebih adalah penguasaan diri sendiri. Emosi di usia seperti saya tampaknya tak mudah untuk menjadi bagian di titik zero seperti ini. Tapi apalah gunanya memahami jika tidak dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kesadaran akan impian yang besar membuat saya kembali terdiam dan melangkah mundur dalam sebuah keputusan yang sebelumnya sempat terbersit untuk mengacungkan bendera putih terhadap takdir ini.

Tuhan,
Ketika saya sedih dan sendiri, betapa aku ingin memeluk aroma asam kelapa dari tubuh ibuku yang dulu.
yang selalu membisikkan bahwa
yang bukan rejekiku, tidak akan pernah menjadi milikku.
begitu pula sebaliknya. yang sudah ditakdirkan menjadi milikku tidak akan pernah bisa dirampas oleh siapapun dengan cara apapun.

Tuhan..
sisipkan kalimat rinduku pada ibuku yang telah terpisah dari hidupku saat ini.
dan berilah kekuatan hati untuk papaku dalam meneruskan perjuangan ini.
perjuangan yang berat tanpa adanya pendamping hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: