Saat saya berpijak untuk menuliskan tulisan ini, ini murni dikarenakan pengalaman pribadi saya, saat dahulu sempat membenci dengan yang namanya proses. Selain saya sebal dengan ketidak sebentar-an terhadap sesuatu, saya juga enggan untuk menunggu dengan sabar, juga menerima dengan ikhlas akan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak hati saya. Saya tidak suka semua itu. Dahulu saya inginnya semua serba cepat, serba bagus, serba berguna dan serba-serba lainnya. Namun pertanyaan selanjutnya adalah, adakah semua kehendak hati saya tersebut?

Karbitan. Mungkin itulah istilah yang cukup tepat bagi jaman jahiliyah saya terdahulu.

Tepatnya sebelum mengenal siapa dan bagaimana diri saya, Tuhan saya dan juga Rasul pembawa risalah agama yang saya anut dengan baik. Rasanya saya malu untuk membeberkan ini, namun anda harus bisa lebih baik dari saya, dan jangan mengulang kesalahan jaman jahiliyah saya. Saya percaya anda mampu.

Kita contohkan saja mie instant, se-instant-instant-nya mie tersebut, tetap saja ada proses pemasakannya meski dalam waktu yang mungkin lebih sebentar, tapi toh semua proses selalu memerlukan waktu ‘kan?

Mari kita sebutkan lagi yang lain, misalnya rendang padang, semakin lama disimpan, akan semakin meresap bumbunya dan rasanya juga semakin enak. Lalu, emas dan properti, semakin waktu bertambah mahal harganya. Lalu apalagi, wanita, semakin baik akhlak, iman dan perllaku apalagi ditambah dengan ilmu pengetahuannya, akan semakin baik pula lelaki yang berusaha untuk meminangnya. Lalu apalagi, dokter, periset pasar, konsultan, pengusaha dll, semakin paham mereka dengan sesuatu yang mereka selami dalam bingkai proses, akan semakin baik dan tepat pula solusi dan tindakan mereka.

Saya baru sadari semua itu, baru-baru ini. Padahal saya telah mengetahuinya mungkin jauh dari sebelum masa purba dan jahiliyah saya datang. Ya, itu dia, tahu dan kenal memang belum tentu paham.

Dan sebenarnya, kita di dunia ini pun adalah masa proses. Proses mengumpulkan amal kebaikan sebelum nanti dibawa pada dunia setelah mati.

Saya setuju dengan Steve Jobs, yang kurang lebih berkata bahwa kematian adalah satu-satunya cara terbaik untuk bisa membantu anda mengenali antara kebutuhan dan keinginan manusiawi anda yang sebenarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: