Kata kenyataan,

Hidup itu seperti perjalanan

Dimana semua yang terjadi

Hanya mampu untuk sekedar kita lalui

Tanpa pernah bisa kita tinggali.

.

Ada petuah bijak berkata,

Nikmatilah rasa ketika luka menganga,

Pun juga dikala rasa sedang berbunga-bunga.

Karena keduanya, sama-sama adalah rahmat Tuhan untuk setiap ciptaan-Nya.

.

Pada teknisnya, sering kali aku lupa bahwa ketika dalam perjalanan menuju manapun,

Aku hanya mampu menggenggamnya sebentar lalu kemudian harus mengembalikannya lagi pada empunya.

Namun, mengapa yang sering terjadi aku justeru terlalu kuat menggenggamnya

Seolah segala sesuatu itu milikku selamanya 

Bukankah aku sedang dalam perjalanan?

Dan bukankah aku hanya dipinjami sarana untuk sekedar mencicipi aneka rasa 

sebelum akhirnya aku sampai pada tujuan yang telah ditetapkan semesta

Yang menjadi permasalahan lucu kemudian,

Mengapa harus tercipta waduk kekecewaan di gudang perasaan?

Padahal semua yang aku jalani hanyalah pinjaman 

Katanya tak pernah ada yang namanya sedih atau susah selamanya

Juga tak pernah ada yang namanya senang atau bahagia selamanya.

Tak pernah ada.

Lalu, mengapa aku masih saja terjebak dalam gelombangnya? 

Apakah aku sudah melanggar etika dari sebuah perjalanan?

Atau aku justeru masih asik berselimut di dalam kotak impian dan angan

Yang ternyata tak akan pernah bisa mengantarku sampai ke tujuan

Betapa menyedihkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: