25 Maret 2018

Pilihan terakhir yg aku putuskan sesaat sebelum menaiki kereta api menuju perjalanan ke argopuro adalah
Memilih untuk tidak lagi berdaya sebagai manusia.
Aku menyerah dan tenggelam dengan tumpahan kesedihan, kekecewaan, kebencian.
Daya juangku menguap.
Aku tak lagi merasa punya akar tujuan untuk tetap bertahan.
Untuk apa aku tetap ada, tanpa seorangpun dari yg kuinginkan memedulikannya.
.
Aku begitu haus akan kasih dan kelembutan dari inti peninggalan keluarga yg aku punya
Tapi yang kudapat justeru adalah pernyataan berdasar prasangka bahwa aku ingin menguasai segala bentuk peninggalan yang tersisa.

Atas nama Tuhan, dengan apapun nama panggilan yang menyertai-Nya
Aku tidak sedikit pun melakukan yang di prasangkakan
Aku hanya diminta mengelola sementara
Sampai kemampuan dari tiap2 nama dapat diserahkan

Tapi sayangnya kemampuanku terlalu lambat untuk bisa membuktikannya dengan cepat.
Semburan prasangka dan mosi tidak percaya itu jauh lebih kuat
Hingga kemudian, hanya kebencian dan kekecewaanlah yang jauh lebih melekat.

Tiga tahun berselang.
Perlahan tapi pasti, aku mulai melepasnya
Melepas pada tiap-tiap pemilik nama tanpa lagi mengindahkan pertimbangan sudah atau belumkah stabilisasi pemilik itu ada.
Aku kini lebih perlu kembali mengisi daya
Daya untuk memperjuangkan yang lebih layak diperjuangkan saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: