#perpustakaanmoralinibudi yang (tak) mati

Belakangan ini, aku merasa jiwa dan semangat hidupku semakin hari semakin kalang kabut. kadang hangat, kadang panas, kadang dingin bahkan seringkali membeku untuk beberapa waktu. walau sudah ku usahakan untuk menghangatkannya kembali dengan beragam terapi, dan diskusi, tetapi tetap saja api semangat itu hanya bertahan dalam hitungan jam atau paling lama bertahan dalam satu hari, lalu seolah ia bisa otomatis untuk membeku lagi dan lagi.

jangan ditanya sudah seberapa sering aku kumat. jemari tangan dan kakiku saja sudah tak muat untuk menghitungnya.

lalu tiba-tiba saja di beberapa hari yang lalu aku tersadar tentang sesuatu..

yakni walaupun aku sedang dalam mode ‘kumat’ dengan mencuatnya isi memori di kepala tentang masa lalu dari semua sisi tapi ternyata aku tak pernah sehari pun tidak melakukan ini:

membaca

aku tak pernah berhenti melakukannya, lewat beragam cara. aku juga tak pernah berhenti mencari jawaban dari setiap jengkal pertanyaan-pertanyaan yang sejak kecil sudah memenuhi sudut kepalaku. walau tentu saja semua itu membuatku muak, namun entah mengapa aku terus melakukannya. aku pun terkadang bingung mengapa aku merasa perlu untuk tahu apa dan dari mana biang penyebabnya.

sebentar, aku menghela nafas dulu.

aku betul tak menyangka bahwa #perpustakaanmoralinibudi yang sejak tahun 2015 aku resmikan namun tak pernah lagi aku perhatian-lah yang justeru menemani hari-hari berkabutku. meski sehancur dan sepudar itu semangatku bertahan hidup. ia tetap ada menemaniku yang ‘bringas’ karena haus dan kelaparan ini.

sejujurnya akupun kadang tidak mengerti mengapa aku begitu.

dari sini aku jadi limbung, mengapa bisa-bisanya selama ini aku merasa diriku beku, padahal tak ada satu hari pun yang aku lewati tanpa mencari ilmu. aku tetap membaca buku, memilah dan membeli buku, mengutip kalimat-kalimat menarik dari buku dengan menggaris bawahi atau mewarnainya sesukaku, sampai mengomentari penulis dan aestetik sampul buku.

ah, ternyata aku masih ‘hidup’ dan tak sepudar itu.

aku jadi terharu.

setidaknya masih tersisa setitik kehangatan dalam bilik jiwaku tentang sesuatu, yakni melalui ilmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: