Pelan demi pelan
Jiwa ini terhantar pada sebuah daratan yang ditumbuhi padang savana dan ilalang.
Mengulir angin semilir yang membuat siapapun terenyuh dalam buaian.
Pertanyaanku mengudara,
Mengapa pula aku sampai pada daratan yang tak terdapatnya seseorang?

Ku ikat sampanku pada sebuah bongkahan batu yang kurasa kuat.
Lalu kaki pun seolah di setir oleh Dzat yang lebih mengetahui hal terbaik untukku dibanding sang pelakon raga sendiri.
Ku beranikan hatiku untuk tetap tenang.

Ada apa dengan rasa ini?
Seolah aku ingin sekali berada disini..

Aku hentikan diriku untuk lebih jauh melangkah.
Namun batinku menolak, seraya berkata:
“Jika kau tak mencari tahu, lalu sebagaimana caranya kau mendapat?
Jika dengan sebegini saja kau ciut,
Lalu hendak seberapa lagi waktu yang kau punyai untuk meloloskan aneka kesempatan dengan sempurna percuma?”

Aku terdiam.
Logika dan nuraniku lagi-lagi berdebat hebat.
Apa yang hendak ingin Rabb tunjukkan padaku lewat luasnya rasa penasaran ini?

Aku belum bergeming untuk memutuskan,
Lalu setibanya kakiku mendaratkan langkah
Hujan lebat datang menyergap.
Lalu kuyuplah aku dibuat.

Aku terheran dengan sendiri,
Mengapa tak ada sedikitpun datang rasa sebalku pada Rabb yang telah mengundang hujan untuk menemaniku disini, saat ini, yang sendiri?
Hatiku yang lebam pun rasanya sedikit lebih damai usai bersentuhan dengan partikel air kiriman Rabb yang Maha baik ini.

Hendak terjadi apakah yang bersemayam dalam hati?
Aku bertanya-tanya dalam diam yang bermelodi kebimbangan diri.

Aku mendiami tubuhku yang menggigil hebat akibat hujan deras dan angin yang bergerak kencang.
Lagi-lagi kekesalan dan rasa mudah kecewaku tak kunjung menunjukkan batang hidung.
Sepasang sahabat yang biasanya sering bersamaku saat masaku beranjak dewasa.
Kini, Hendak kemanakah mereka?
Tidakkah lagi bersamaku
Sang perendah diri yang ulung?

Saat hujan yang lebat baru saja usai
Aku belum juga membuka kata untuk mengutuki kebodohanku seperti biasanya.
Aku masih terdiam untuk menikmati segalanya.
Ya segalanya, namun mengapa diam yang bersamaku? Sungguh bukan biasanya.

Aku melihat lurus ke dasar landaian perut bumi
Dan ku percayakan tubuhku terbentang lurus pada hamparan padang savana dan ilalang yang bertanah basah akibat hujan yang baru saja datang.
Namun lagi-lagi aku terperangah,
Aku mencari sosok kekhawatiranku yang seperti biasanya berkomplot dengan sang dua sahabat rasa sebelumnya, rasa mudah kesal dan mudah kecewa yang menggelayuti hati dan hariku.
Mengapa Ia pun tak muncul menghampiriku seperti biasanya
Yang mencegahku mempercayai tanah basah karena pasti banyak mengandung cacing tanah di dalamnya.
Tidak, kini ia tidak bersemayam dalam balutan kekhawatiran, ia datang dengan kedamaian rasa bahwa tanah mengandung unsur hara yang manusia butuhkan.
Karena manusia ialah makhluk yang tercipta dari unsur tanah.

Aku termenung durja dalam balutan suara ombak yang bersorak sorai di udara.
Kini aku membiarkan hidupku berjalan dengan hampa.
Tanpa orang-orang ataupun benda yang ku cinta dan ku damba.
Hanya ditemani berbagai ornamen khas pilihan Tuhan saja.
Dan aku sungguh tak ingin lagi terperanjat untuk merubah segalanya.
Sesuai hal yang sebelumnya aku lafalkan sebagai rencana.

Kinilah tiba waktunya peradaban hati..
Peradaban masa pencarian diri menjadi masa pembenahan diri..
Lalu berubah lagi menjadi
masa pengaturan diri yang nantinya akan berganti lagi
menjadi masa penyempurna diri.
Dengan tak siapapun yang diridhai
Untuk menemani hati.
Sehingga sang hati lebih mampu untuk menyeimbangkan keobjekan diri
Demi sebuah kesunyian nurani.

Kornea mataku refleks saja menangkap signal warna pelangi
Padahal kini waktu telah berganti senja hari
Namun tak pernah tidak ada yang tidak mungkin terjadi
Jika Tuhan telah menghendaki.

Tak sadarnya pun tubuhku kini telah kering dari kebasahan yang berlalu
Rasanya sulit mempercayai badai kesulitan yang baru saja usai dengan ditemani pribadi yang baru
Meski sesungguhnya ini sama sekali bukan perkara baru, karena sejatinya pribadiku yang dulu adalah yang kini menggelayuti hatiku..

Ia tak pernah berlalu,
Hanya saja ia diam membisu
Karena fanatisme ambisiku
Dan sebuah penghinaan syahdu
Sehingga kini aku dapat berkenalan dengan rasa malu
Sebagai untaian ladang syukur yang menderu
Ketika menyetir perahu
Sehingga mampu berpulang pada makna menyeru
Karena kehidupan adalah satu.

Yakni dimana langit dan bumi adalah satu
Baik dan buruk adalah satu
Sayang dan benci adalah satu
Suka dan luka adalah satu
Bahagia dan durja dalah satu
Kanan dan kiri adalah satu
Atas dan bawah adalah satu
Utara dan selatan adalah satu
Barat dan timur adalah satu
Hitam dan putih adalah satu
Diam dan bersorak adalah satu

Dan laki-laki perempuan pun adalah satu
Satu..
Satu garis lurus yang meski bertolak belakang, namun sejatinya ia tetap satu.
Tak masalah jika berbeda cara dan tujuan
Namun jika ia diciptakan untuk menjadi satu
Lalu??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: