Sabtu Sore. Pukul 15.15

Hampir sepanjang hari dalam sebulan terakhir ini aku habiskan hanya dengan leptop berserta lembaran-lembaran kertas oret-oretan ide saja. Ku susun kesana-kemari alur cerita, plot, masalah utama, masalah pendukung, salah, coret, hapus, robek, tulis lagi dan begitu saja seterusnya hingga kepalaku pening tak karuan. Hingga usai beberapa belas kalimat yang aku rasa tak cocok juga, akhirnya aku putuskan untuk berhenti saja.

“Ah!! MENTOK!!!” kesalku pada diriku sendiri.

Sesaat kemudian aku baru menyadari ada sebuah notifikasi chat dari Tiwi, yang belum aku buka apalagi aku baca.

“Ca, ada Fajar di luar,” ujar Tiwi, teman SD sekaligus Personal Assistant-ku di kantor.

Saat tersadar ada chat, aku pun segera membalas chatnya, namun saat ku lirik jam, ternyata chat tersebut sudah sejak dua jam yang lalu.

“Masih ada orangnya, Wi?” tanyaku melalui pesawat telepon lokal kantor kami

“Masih, Ca..” Jawabnya singkat.

“Oke. Bentar lagi gue keluar.”

“Sekalian makan siang ya Ca. Elo belum makan ‘kan?” Penekanan nada Tiwi pada pertanyaannya membuatku perlu mengulur waktu sedikit untuk mengingat kejadian aktifitas apa saja yang sudah aku lakukan hari ini.

Aku terdiam sejenak. Mengingat-ingat apakah benar pernyataan Tiwi tersebut. Tak lama kemudian, aku tersadar bahwa sejak pagi aku memang sedang fokus sekali menulis rangkaian cerita untuk buku novelku yang lain. Sampai lapar dan haus pun sering dengan sengaja aku pending.”

“Iya.. siaapp. Makasih ya..” Sahutku

“Sama2 Ca..” jawabnya kemudian.

.

Dua puluh menit pun bergulir.

Usai shalat ashar dan merapikan kembali meja kerjaku. Aku langsung menemui tamu yang sejak tadi telah lama menunggu.

“Hai Ndi.. maaf ya. Gue keasikan nulis. Sampai gak engeh ada chat dari Tiwi kalau elu udah nungguin dari tadi,” kataku ramah pada Andi.

“Oiss, selooow.. gue paham kok, konsekuensi dateng ke kantor penulis yang emang lagi sibuk banget hehe.”

“Ck! Apaan sih, elaah.. hehe.” elakku pada Andi yang mengenakan stelan kemeja biru garis-garis.

Ia tersenyum padaku dengan ramah. Aku tak lupa tatapan matanya. Dari dulu hingga hari ini, sama saja. Tak berubah.

“Kata Tiwi lo belum makan siang, Ca?

“Hehe.. iya lupa. Ini mau makan. Lo mau sekalian makan?”

“Enggak.. enggak” sahutnya lekas “Elu aja. Gue nemenin lo sambil ngeteh aja paling.”

“Oh gitu, yaudah. Sini cangkirnya. Gue bikinin teh lagi”

“Tengkiyu” ucapnya sambil memberikan cangkirnya yang telah kosong padaku.

“Serius nih, lo gak makan?”

“Serius Ca.  Gue tadinya malah mau ngajakin lo makan pempek Palembang yang paling asoy menurut perut gue, eh tapi elonya malah belum makan. Ya jadilah, daripada kenapa-napa.”

Aku tersenyum tipis padanya.

“Makanya makan lo dulu deh, baru nanti abis itu kita kesana,” ujarnya yang sudah paham dengan rambu tanda setuju dariku.

“Aseli ya. Ini kantor paling asik yang pernah gue temuin. Keren Ca!” serunya bersemangat.

“Kalau ngomongin sisi normatifnya, tempat ini bisa dibilang kantor sih buat gue. Tepatnya tempat gue nulis dan koordinasi sama tim. Tapi kalau dari sisi fungsi dan dekorasi yang banyak tanaman hidupnya begini, tempat ini jadinya jauh lebih cocok buat dijadiin kayak tempat ngobrol yang nyaman banget. Karena selain sepi, energinya ngedukung banget buat jadi bikin orang plong buat cerita apalagi tambah ada suara gemericik air. Ya’kan?” terangku.

Ia mengangguk setuju.

“Dan pada akhirnya, karena jualan utama gue adalah konsultasi, ya.. gue satuin aja semua demand yang ada. Toh, jadi gak perlu lagi nyari-nyari tempat yang asik dan sepi buat cerita panjang lebar ‘kan? Disini aja, dikantor gue. Bisa konsultasi dengan tenang sekaligus ngafe. ‘Kan lumayan, sekali dayung, empat pulau terlampaui, haha!”

“Wah, berarti tadi gue disuguhin teh, gue mesti bayar bill juga dong Ca?” tanyanya memastikan.

“Iyalah. Tadi lu dikasih menu yang ada harganya ‘kan? haha”

“Buseeett. Iyee daahh iyee Ca. Otak bisnis lo emang jalan banget deh..” ujarnya dengan mimik agak bete.

“Tapi, khusus teh yang gue bikinin ini, harganya enol. Alias gratis. Karena lu udah nungguin gue lumayan lama dari tadi. Hehe.”

“Bener nih gratis Ca?” tanyanya tak percaya.

“Haha! Takut banget sih. Santai aja kali braayyy” ujarku sambil menyuap makanan siangku ke dalam mulut.

“Makan yang banyak, Ca! Biar semlohay lagi kayak dulu. Jangan kayak sekarang. Gak enak gue ngeliatnya. Udah kayak layangan lo, tipis banget. Bae-bae kebawa angin kalau naik motor, haha!”

Aku tertawa kecil sambil meneruskan mengunyah makanan. Andi pun tersenyum sambil menyeruput teh hijau yang baru saja aku buatkan untuknya.

Lima menit kemudian…

Aku mengelap mulutku dengan tissue makan yang tadi sempat menjadi pembungkus sendok dan garpu sementara Andi sedang melihat-lihat pajangan-pajangan yang ada di tembok ruangan diskusi.

“Ca..” panggil Andi. “Siapa yang ngedekor tempat ini?” tanyanya kemudian.

“Oh, temen gue. Kenapa? Suka juga? Dia designer interior sih emang hehe,” ujarku sambil mencuci piring di pantry. Maklum saja, keuangan perusahaan sederhanaku ini masih belum sanggup untuk membayar OB, jadi segala sesuatu yang menyangkut bersih-bersih masih perlu ditanggung sendiri-sendiri untuk saat ini.

“Termasuk ide pajangan ini? Ini keren banget sih, Ca! Seriusan dah!!” Serunya dengan nada sedikit lebih kencang.

“Ha? Pajangan yang mana sih? Bentar, gue selesain cuci gelas dulu,” sahutku sambil mempercepat tindakanku membilas gelas dan piring yang masih terbaluri busa sabun.

“Lagian udah jadi bos masih aja nyuci piring sih! Heran dah,” protesnya sambil matanya masih menatap dengan lamat isi tulisan dalam pajangan tersebut.

Tak lama kemudian, aku datang menghampirinya yang masih mematung di depan salah satu sisi tembok.

Ia menatap tulisan-tulisan dalam bingkai itu dengan lamat-lamat. Berdiri mematung tanpa menoleh padaku sesaatpun. Padahal ia tahu aku sudah berada disampingnya sejak beberapa menit yang lalu. Jumlah pajangan puisi yang sedang sibuk ditatap Andi itu berjumlah delapan bingkai. Tujuh diantaranya berwarna hitam dengan bingkai putih dan satu sisanya, yang paling ujung berwarna putih dengan bingkai berwarna hitam.

Kami akhirnya sama-sama tertegun sambil memandangi dan membaca tulisan-tulisan itu dalam hati. Tulisan itu nampaknya telah benar-benar menelan dirinya untuk masuk kembali ke ruang waktu masa lalu. Aku tak tahu bagaimana harus bersikap padanya, yang hingga kini masih rela mematung durja, tanpa berkata atau bereaksi sedikitpun padaku, yang menjadi lawan bicaranya saat ini.

Akhirnya, kuputuskan untuk mengikuti arusnya saja. Sambil menunggunya tersadar bahwa tulisan itu kini hanya sekedar bersifat pajangan saja. Pajangan masa lalu kami yang tidak pernah sedikitpun pernah aku buang sejak pertama kali ia membuatkannya untukku, dulu. Saat kami masih dalam masa saling mengagumi satu sama lain.

.

Pajangan puisi 1:

Mulut ini terkunci.

Membisu dengan penuh tanya.

 

Celoteh seorang wanita.

Dengan lantunan khas yang membekas dalam sendi-sendi ingatan.

Nada tinggi rendah disetiap not-not tertentu

Berpadu dendam dan amarah.

Dalam bingkai kesedihan, kepedihan, dan pesakitan.

 

Merintih saat gelap dan terang.

Melawan sebilah pedang dibalik rasa sayang.

Berdiri diantara butiran dosa dan lembaran luka.

Sayatan dari senandung sang telapak kaki yang menggoreskan jejak-jejak setan.

Berjalan disisa kesabaran dengan dan tanpa tujuan.

 

Bukanlah kesempurnaan raga.

Bukanlah limpahan harta.

Hanya inginkan senyum dalam kehangatan kasih sayang sebuah keluarga.

10/20/2008 11:33 am

#A

 

Pajangan puisi 2:

Menutup mata.

Menulusuri sisi gelap dan terang lorong kehidupan..

Berjalan mengikuti aliran zat penghenti api smpai ke hilir..

Lirih suaranya hipnotis saraf pergerak indera dan membawa ke sudut tanpa tepi..

 

Mencoba untuk lari.

Tapi lumpuh dari keramaian.

Berusaha untuk teriak.

Tapi bisu dari kebahagiaan.

 

Dikesunyian alam.

Mengais didepan sebatang pohon.

Berharap satu buah tersntuh efek gravitasi bumi

Dan membuat cacing ini berhenti bernyanyi.

Hingga nafas kmbali berhembus dalam buih ketenangan hati.

10/26/2008 8:34 pm

#A

 

Pajangan puisi 3:

Butuh kejelasan untuk satu kata:

Pengertian.

 

Sambutan sinis pada tindakan tak beralasan,

Mencoba menarik koordinat X dalam bibir ditengah kejenuhan ego.

 

Mereka tak ‘kan pernah mengerti.

Goresan luka dalam inti organ penampung gizi.

Tak kan membuat mereka sadar bahwa manusia tak selamanya bisa..

 

Pemaksaan sunyi.

Bangkitkan hasrat diam.

Apakah mereka mengerti?

 

Pertanyaan ganda tersirat dalam benak.

Berbagai lantunan senandung minor berpantulan di dua gendang telinga..

 

Haruskah mengerti karena mereka tak mengerti?

Seharusnya mengerti dalam hidup yang penuh arti…

11/02/2008 6:21 pm

#A

 

Pajangan puisi 4:

Jauh.

Dengung yang tak membuat dekat.

 

Bisikan hitam mempengaruhi garis besar pemikiran akal sehat.

Menyusuri peredaran darah semu.

Menerobos dinding tanpa ornamen.

 

Tujuan runtuh dengan tanya..

Satu asa yang binasa oleh rasa..

 

Satu helai rambut pencetus jurang pemisah..

Wujud pengkhianat lekatkan dengan sosok pecundang.

 

Aaaaaarrrghh!!

Hey! teriak pun tak ‘kan merubah seekor kodok menjadi pangeran..

 

Menangislah tanpa sedih…

Bangkit dari lubang neraka,,

Dan tersenyum melawan keelokan matahari senja..

11/02/2008 6:46 pm

#A

 

Pajangan puisi 5:

Tak bisa berkata..

Berwacana lewat syair tak bermelodi..

Gagal menemukan keindahan lisan..

Terpaku oleh rintihan semua indera..

 

Dan tak ‘kan lagi ada hinaan damai..

Semuanya kini hilang.

Mungkin ditelan kelamnya malam..

Mungkin menguap bersama air laut dikala terik sang surya.

11/22/2008 10:19 pm

#A

 

Pajangan puisi 6:

Bukalah matamu..

Rumput liar pun kini tak ingin memperbanyak anak cucunya..

Rasanya tak adil memaksa makhluk hijau melakukan fotosintesis namun dia sndiri diizinkan untuk mati..

 

Pemetaan alam yang akan habis oleh tangan tak bertuan..

Oleh pikiran tak berpendidikan..

 

Haruskah aku meminjam kaki seekor kodok

Agar aku bisa melompat menggapai kebutuhan paru-paruku?

 

Haruskah mencuri dua sayap burung gereja

Agar bisa ku kepakan dan ku raih segumpal ruang hampa untuk bekal hari esok??

 

Tragis,,

Bersama-sama kita hirup senyawa karbon..

Dan menunggu…

Menunggu bola berinti api ini terhapus dari daftar planet alam raya…

12/04/2008 8:10 am

#A

 

Pajangan puisi 7:

Sulit mencari serpihan kata yg berserakan di udara..

Menemukan makna dalam keindahan frasa..

 

Seuntai bait menciptakan tanda tanya.

Lontaran huruf bersuku untuk sebuah karya..

 

Hanyalah tulisan tak bernyawa..

Implementasi emosi belaka..

Dan bukanlah bakat nyata..

Ini hanyalah sederet vokal dan konsonan yang begitu sederhana..

12/12/2008 11:32 pm

#A

.

.

Pajangan puisi 8:

Kapan rasa ini berhenti,

Untuk sekedar memikirkan hal yang seharusnya lebih penting untuk didahulukan?

 

Kapan morfin ini bereaksi untuk melumpuhkan dalamnya kekecewaan yang kini kuderita?

 

Aku hanya ingin menghirup udara

Yang saat itu kau hirup juga..

Bukan gas karbon monoksida yang hanya kuhirup seorang diri

Apa ini yang dimaksud proses pendewasaan emosi?

Yang dengan sengaja membuat sang mentari tak sanggup menjalankan tugasnya lagi

Hanya karena baru saja kau tebarkan bubuk kepedihan tanpa rasa peduli.

 

Apa beda kau dengan sang telapak kaki itu?

Yang selalu membuatku letih dengan rintikan embun dalam batin dan ragaku

 

Mengapa aku harus sesulit ini melemparmu dari daftar planet tata surya?

Padahal kau hanya seperti menjentikkan kuku untuk menghempasku ke udara.

 

Dan mengapa aku harus menggunakan bagian kanan dari nafasku untuk mengenalmu?

Juga mengukir kejernihan air yang baru saat ini ku rela alami dengan namamu?

 

Menunggu.. Menunggu.. Dan tetap menunggu

Hingga sang kodok berubah menjadi pangeran

Meskipun bukan untukku takdir itu.

12/12/2008 3.32 am

#C

.

.

“Gue gak nyangka, lo masih nyimpen ini,” ujarnya membuka pembicaraan tanpa menoleh pada lawan bicaranya. Aku.

“Ya masihlah. Jarang-jarang ‘kan ada yang bikinin gue puisi. Hehe,” sahutku santai sambil menoleh padanya.

“Pertama kalinya banget?”

“Hhmm.. kurang lebihnya begitu.”

Ia menoleh padaku dengan tatapan aneh.

“Gak mau dihabisin dulu tehnya? Nanti dingin lho,” ucapku seraya berjalan menjauh meninggalkannya sendiri di depan pajangan tadi.

Aku duduk dikursi diskusi sambil menatap dan sesekali menyentuh duri-duri baby kaktus yang menjadi penghias meja diskusi ini. Tak lama kemudian Fajar kembali datang menghampiri sambil membawa cangkih tehnya lalu mempersilahkan dirinya sendiri untuk duduk di depanku.

Untuk beberapa saat diawal, kami tiba-tiba saling kikuk dan terdiam. Sejujurnya kami sudah memperbaiki hubungan sebagai teman baik bahkan sudah seperti saudara sejak dua tahun lalu. Hanya saja, kami tak pernah sekalipun menyenggol masa lalu, khususnya masalah puisi. Baru kali ini, di tempat ini dan mungkin juga karena ucapannya sendiri dalam puisi tersebut yang membawanya untuk membuka kembali gulungan kertas masa lalu kami.

“Menurut lo, gue egois banget ya Ca?” tanyanya dengan ekspresi agak memelas.

Aku terperanjat. “Elu mau jadi klien gue nih ceritanya?” tanyaku balik sambil tertawa kecil.

“Ebuset, Ca! Semua-muanya diduitin ya sekarang?”

“Haha! Ah elu. Su’udzon aja. ‘Kan gue cuma nanya. Karena jawaban gue udah bisa dipastikan gak akan sama. Antara ngomong sama klien dan sama temen,” terangku sambil tersenyum sok manis.

“Oke. Gue jadi klien lo sekarang. Puas?”

“Haha. Gak ada paksaan kok buat menjadikan itu. Kalau lo serius mau jadi klien gue, nanti tinggal gue minta Tiwi untuk urus agreement-nya. Kalau engga pun gak apa-apa, tetep bakal gue jawab kok..”

“Gue paham lagi maksud lo. Gue saat ini jauh lebih butuh masukan dari orang yang professional sekaliber elo. Ya anggap aja buat perbaikan diri.”

Aku tersenyum. “Pilihan yang bagus. Karena kalau gratisan, gue akan bertindak sebagai teman, bukan konsultan.”

“Iya gue paham. Karena kalau teman, lo jatuhnya bisa semena-mena dan ngeselin. Kalau klien ‘kan, lo punya aturan yang gak bisa lo langgar.”

Kembangan senyumku makin lebar saja usai mendengar ucapannya barusan. “Sebentar, gue ambil air mineral dulu ya. Sekalian minta Tiwi nyiapin agreement-nya.”

Fajar hanya melirikku sejenak. “Ca..” panggilnya kemudian.

“Oit..” sahutku sambil menoleh.

“Teh bikinan lo-nya boleh tambah? Terserah deh mau lo kasih harga berapa? Itung aja. Nanti tinggal kirim invoice-nya ke email gue,” ujarnya pasrah sambil menyodorkan cangkir ke arahku.

Aku tertawa. “Siaappp..” jawabku seadanya sambil mengambil cangkir dari tangan Andi.

.

Sejam berlalu. Andi bercerita panjang lebar mengenai kehidupannya setelah sekian lama kami tak pernah kembali berkomunikasi, sementara aku hanya sibuk mendengar kalimatnya sambil sesekali tertawa geli.

Alisku berkerut. “Apa hubungannya ngasih maaf sama pajangan? Beda konteks kali.”

“Tapi lo pasti masih inget jaman-jaman pas gue masih sok ke-ganteng-nya banget. Ya ‘kan, Ca?”

Aku mendengus karena lucu. “Ya, terus?”

Ia terlihat seperti orang yang sedang tersipu. “Ya.. Hmm.. ya kalau gitu, lo masih…” ia nampaknya sengaja memutus kalimat dan membuatnya menggantung begitu saja. Aku sudah paham itu.

“Ca..”

“Hmm..”

Sorry, karena waktu itu gue selalu maksa lo buat jadi kayak orang yang gue pengenin.”

Tugasku saat ini masih seputar menyimak. Jadi ya kubiarkan saja ia menggalau buana seorang diri. Aku enggan untuk ikut bermelankolis bersamanya.

“Kok lo malah diem aja sih Ca? ‘Kan gue udah bayar lo jadi konsultan pribadi hidup gue Ca. Magabut lo ya.”

“Haha.. Ya terusin aja dulu lo mau ngomong apaan. Biar nantinya gue bisa paham holistically tanpa harus motong-motong informasi dari cerita dan perasaan lo.”

Ia diam. Tak lama ia akhirnya mulai bercerita mengenai kelanjutan kisah hidupnya yang sebelumnya tak pernah aku ketahui. Aku menyimaknya dengan seksama. Ia tak pernah berubah rupanya sejak dulu. Aku mendengus pelan setiap kali aku merasa ada pemahaman aneh yang menempel dibenaknya.

“Mungkin karena keegoisan gue juga kali ya Ca, jadinya gue sering banget diputusin pacar-pacar gue yang udah tinggal dikit lagi mau gue nikahin? Iya gak sih, Ca? Menurut lo gimana?” Tanya Fajar dengan menggebu.

Aku menggaruk kepala bagian belakang. Gatal rasanya. Gatal untuk menjawab dengan menggebu-gebu tapi aku enggan melakukannya. Andi ini bukan tipe manusia yang otaknya bisa diberikan asupan sekali banyak pemahaman untuk perbaikan.

Tiba-tiba saja aku punya ide untuk mengalihkan perhatianku pada kaktus yang ada dihadapanku ini.

“Ck! Konsultan apaan sih begini. Diajak ngobrol diem, giliran ditanya malah mainan kaktus. Ah.. mengecewakan!”

Aku mendelik. Lagi-lagi aku mendengus karena sikapnya.

“Kaktus tuh makanannya apaan sih Ndi?”

“Ya manalah gue peduli sama kaktus. Dia bukan keluarga gue.”

Aku tertawa mendengarnya. “Tapi seenggaknya lo tau ‘kan gimana cara memperlakukan kaktus?”

“Ya taulah. Didiemin aja dibawah matahari, sama jangan sering-sering dikasih air. Busuk yang ada.”

“Nah itu lo tau. Terus kenapa lo selalu nuntut segala macam hal yang sama dari perempuan yang berbeda?”

“Maksud lo?”

“Analogiin aja perempuan itu kayak tanaman deh biar gampang. Ada rumput teki, ada tauge, ada mawar, ada kaktus, ada pohon bambu, dsb. Menurut lo apa semua tanaman yang diperlakukan sama itu bisa menghasilkan reaksi dan hasil yang sama?”

Ia terdiam.

“Sebenarnya yang lo tuntut itu ya emang gak salah sih. Tapi gak semua tanaman itu bisa menghasilkan sesuatu kayak yang lo pengen dan lo paksain itu? Tiap tanaman itu punya ciri kehidupannya sendiri. Dan tiap manusia apalagi perempuan, punya masa lalunya sendiri-sendiri, punya pemahaman dan karakter yang ngebentuk dirinya sampai akhirnya bisa lo liat dari diri mereka masing-masing kayak gini. Lo ‘kan belum tentu paham dengan dalam semua pengalaman hidup mereka sampai akhirnya bisa lo paksakan untuk menghasilkan ‘bunga’ seperti yang selama ini lo pengenin” jelasku serius.

“Gak cuma elo kok yang butuh intensitas cahaya matahari kehangatan hati dan curah hujan pengertian. Semua makhluk yang masih bisa nafas juga butuh itu. Tapi harusnya ya lo sadar juga, lo salah alamat gak, minta semua itu dari tanaman? Bukannya semua itu milik Tuhan ya? Termasuk hati orang tua dan juga perempuan-perempuan yang tadi lo bilang pada ninggalin lo, saat lo udah serius dan mau ngajak nikah?”

“Oke.. Gue nangkep maksud lo.”

Good. Dan untuk pertanyaan lo yang pertama tadi, jawaban gue simple sih. Setiap ada orang yang kurang baik di kehidupan kita, yang patut dibenci itu cukup kelakuannya. Bukan orangnya. Selama Tuhan mengizinkan untuk terjadi, gue selalu percaya ada pelajaran yang baik untuk semuanya. Yaa, setidaknya pengalaman itu sedikit banyak bisa mendewasakanlah. Haha!”

Ia menatapku dalam.

“Lo mau tau apa penyesalan gue yang paling dalam?”

“Ya terserah. Mau lo kasih tau, itu hak lo. Engga pun juga hak lo.”

“Ah!! Gak seru banget sih lo jawabnya.”

Aku diam saja.

“Terus maksud lo pajang semua puisi dari gue itu buat apa?”

“Ya buat diabadikan aja. Menurut gue itu pretty artistic kok untuk jadi pajangan tembok kantor & kafe gue ini,” jawabku polos.

“Bener bukan karena lo masih keingetan gue?”

Aku tertawa sedikit kencang. “Justeru karena udah gak ada rasanya, makanya gue pajang. Kalau masih ada rasanya, gak akan gue biarkan banyak orang yang baca selain diri gue sendiri. Gimana sih lo..”

“Ooh gitu ya.”

“Iyalah. Cukuplah empat taun jadi masa paling bego gue buat nungguin orang justeru lagi sibuk-sibuknya banget gonta-ganti pacar. Hehe. Dan gue yakin banget, selama itu lo pasti gak pernah keingetan gue. Ya ‘kan?”

“Kata siapa? Gue selalu keingetan elo kok tiap ngeliat cewek galak yang gendut dan hobinya merengut melulu kayak dompet keinjek. Haha.”

“Haha. Ya.. ya. It was then, braay. Gue belajar kok dari omongan lo waktu itu. Tentang senyum itu sunnah Nabi.” Ujarku sambil mendeliknya

“Wah! Masih inget aja lo, omongan gue. Gue aja udah lupa pernah ngomong kayak gitu haha!!”

Aku tersenyum.

“Dan semua yang lo pajang di tembok itu, masa lalu lo Ca?” Tanyanya masih dengan ekspresi tak percaya.

“Yapp.. bagi gue, masa lalu itu pelajaran berharga yang gak bisa terlepas dari kehidupan gue. Sekalipun menyakitkan, menohok ataupun memilukan, tanpa masa lalu gue gak akan pernah bisa jadi hari ini. Dan pelajaran gue dihari ini pun Insya Allah akan gue simpan dalam ingatan dan gue abadikan dalam tulisan. Supaya nantinya bisa gue baca-baca lagi saat tua, dan mungkin juga bisa jadi kenang-kenangan buat anak cucu gue nantinya. Hehe.”

“Saaluutt.. Keren banget, Ca. Gue akuin deh lo sekarang jauuuh lebih pinter dan lebih dewasa dari pas pertama kali kita janjian di danau UI sambil baca komik dulu. Haha.”

Kami berdua kemudian saling tertawa dan menertawakan kejadian dan pribadi masa-masa alay dulu. Apalagi saat membahas pertemuan pertama kami yang juga menjadi pertemuan kami yang terakhir sebagai dua orang yang saling mengagumi satu sama lain. Karena setelahnya, kami tak pernah lagi saling bertemu, namun hanya selalu berkomunikasi via telfon ataupun chat messanger.

Karena terlalu lama menunggu dan bersabar pada anak manja yang minim pengertian pada makhluk sosial namun berjiwa preman pasar ini, akhirnya ia pergi menjauh, mendekati tanaman yang lain. Tanaman yang bisa menumbuhkan daun pengertian dan keanggunan yang bisa lekas berbunga lagi rindang seperti yang ia impikan.

“Lha, ini siapa Ca yang foto deketan sama elu? Serem amat.”

“Kok serem sih? Mirip Will Smith ‘kan?”

“Pacar lo, ya Ca? Gak lucu ah becanda lo! Sejak kapan lo demen sama negro?”

“Itu bukan negro. Cuma sawo yang kematengan banget. Derajat oven-nya kayaknya ketinggian tuh pas emaknya lagi ngebikin. Haha.”

“Ah, auk amat ah Ca! Ooh, jadi elo udah mau nikah nih?? Gue jangan lupa lo undang ya!” Ujarnya dengan nada kurang suka yang berusaha ia samarkan.

“HAHAHAHAA..” Aku hanya tertawa dan malas untuk menjelaskan yang sebenarnya. Biar saja ia menelan sendiri asumsinya. Aku tak lagi peduli. Bagiku, masa lalu ya tetap menjadi masa lalu. Dan ketika sudah aku pilih untuk menjadi pajangan kehidupanku, selamanya itu menjadi pembelajaran yang tak pernah ingin aku ulang.

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: