Pada Malam

Di sebuah malam yang penuh dengan berbagai sorotan lampu dan kilatan mesin pengambil gambar berkapasitas canggih memenuhi lokasi acara ajang penganugerahaan tokoh dan film Internasional terbaik. Di lokasi yang semakin waktu bertambah pun semakin padati oleh fans fanatik para selebriti idola mereka. Tak mau kalah dalam segi jumlah, paparazzi, reporter dan juga presenter acara infotainment pun ikut memadati lokasi acara malam ini. Tak lama berselang, mulailah berdatangan para selebriti yang menjadi tamu undangan.

.

“Bukankah lelaki disebrang sana itu adalah Muhammed Tareeq. Idolamu sejak lima tahun lalu?” Ujar Patricia pada Lucia dari sudut kiri lokasi yang merupakan tempat menunggu dari para tamu undangan di luar selebritis.

Lucia tiba-tiba terdiam. Memandang sesuatu dengan tatapan gamang.

“Lucia?” Panggil Patricia sambil menoleh ke arah wajah sahabatnya.

“Ada apa denganmu? Lihatlah. Aku akan ambilkan gambar yang paling bagus untuk kalian berdua nanti dengan kamera terbaruku ini.” Ujar Patricia bahagia sambil sibuk menyiapkan kamera dan mengeluarkan berbagai perlengkapan lensa miliknya.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Patricia heran usai melihat ekspresi wajah Lucia yang tiba-tiba berubah sedemikian rupa.

“Aku rasa aku hanya masih jetlag dari penerbangan kita hari ini. Dan aku rasa aku hanya butuh istirahat sebentar,” jawab Lucia pendek.

“Apa maksudmu dengan istirahat sebentar?”

“Kau bisa tetap melewatinya sendiri jika ingin.”

“Lelucon macam apa ini, Lucia?”

“Aku tak tahu mengapa aku tiba-tiba merasa kembali jetlag yang lebih parah dari sebelumnya.”

Patricia menatap Lucia dalam-dalam. “Kau ingin membohongiku?”

“Tidak Patricia. Percayalah. Aku hanya butuh istirahat. Bukankah kau tahu bahwa aku memang bukan orang yang terbiasa dengan kegaduhan dan banyak orang seperti saat ini.”

“Berapa banyak uang dan rintangan yang kau hadapi untuk datang ke tempat ini, Lucia? Lihatlah. Hanya tinggal selangkah lagi kau bisa menemui dan berbincang dengan idolamu, Mohammed. Mengapa sekarang kau berubah pikiran?”

“Sudah kubilang, aku jetlag Patricia. Sudahlah. Kau boleh tetap disini menikmati fasilitas yang sudah kupesan sebelumnya. Anggap saja ini hadiah liburan untukmu.”

“Ah, apa kau gila. Mohammed itu idolamu. Bukan aku. Jika kau ingin kembali ke penginapan, biar kutemani.”

“Tidak perlu, Patricia. Aku bisa sendiri. Nikmatilah malam panjang ini. Aku bisa kembali sendiri. Bersenang-senanglah..” ujar Lucia di akhir perbincangan.

Lalu ia pun segera meluncur keluar gedung. Memandang langit Norwegia yang tidak terlalu pekat namun menyemburatkan hawa dingin yang cukup menusuk tulang. Ia kembali berjalan pelan-pelan sambil menatapi gaun formal yang dipakainya malam ini. Lucia terlihat begitu anggun dengan gaun polos berwarna hijau kecoklatan yang begitu menyatu dengan kulit pucat dan rambut hitam mengkilapnya.

Rupanya kegamangan hatinya belum usai. Ia kembali mengatur nafas yang sedang bergemuruh didalam dada dan pikirannya. Ia pun mencopot sepatu tingginya dan memilih untuk agak sedikit lebih repot dengan memegangi ujung gaun dengan tangan kirinya dan membawa clutch beserta sepatu tingginya dengan tangan kanannya. Hatinya remuk redam. Namun masih belum dapat dipastikan apa penyebabnya.

**

Keesokan paginya..

Mata Lucia tiba-tiba terbelaklak dengan kehadiaran Patricia disampingnya saat ia baru saja membuka matanya yang masih agak bengkak.

“Selamat pagi Nona, Violetta Andalucia,” sapa Patricia dengan sangat manis.

“Apa kau ingin mati tanpa berpamit pada anak dan ibumu?” Kesal Lucia cepat sambil bergegas bangun dan masuk ke dalam kamar mandi.

“Ha ha ha. Maafkan aku Lucia. Aku hanya ingin menyapamu di pagi hari yang cerah ini. Aku tak mengerti mengapa masih sepagi ini tapi kau sudah begitu menakutkan. Ha ha ha.” Goda Patricia. “Oh iya, bersiaplah segera. Sudah aku jadwalkan satu jam lagi kau akan breakfast dating dengan idolamu, Mohammed.”

“Apa maksudmu, breakfast dating?” Tanya Lucia dari balik kamar mandi.

“Aku berinisiatif untuk me-reschedule perbincanganmu dengan Mohammed di pagi ini, saat kebugaranmu sudah kembali pulih,” jelas Patricia dengan santai sambil meneggak jus jeruk dari pintu kulkas.

“Beruntung Mohammed tidak keberatan dengan alasan pembatalanmu semalam, sehingga mau tak mau pihak managemen acara pun menyetujuinya. Bagaimana kemampuan lobiku? Sudah meningkat bukan? Ha ha,” ujar Patricia membanggakan dirinya.

Lucia masih tetap diam sambil menatap bayangan wajahnya di cermin kamar mandi.

“Kau tak merasa perlu untuk berterimakasih padaku?” Sindir Patricia selanjutnya.

Lucia enggan berkomentar. Ia pun kembali mengatur ekspresi wajah dan nafasnya yang agak sedikit lebih berat dari biasanya.

**

Di tepi pantai.

Lucia tengah memegang erat secangkir kopi kesayangannya yang berwarna biru sambil memandangi sinar mentari dari kejauhan. Berjalan tanpa alas kaki di atas pasir berbatu yang agak kasar sambil sedikit demi sedikit menyadari suara gelombang kehidupan hatinya yang sangat berantakan.

Mohammed telah datang dan duduk di sebuah tempat yang telah diatur dan dihias oleh pihak managemen acara dan juga Patricia. Lucia menatap wujud lelaki itu dari kejauhan. Berpikir sejenak lalu bergegas mengambil sesuatu dari dalam bilik baju panjangnya yang berwarna peach. Ia pun segera berjalan menemui idolanya, Mohammed.

“Maafkan jika membuat orang terkenal harus sampai menunggu,” ujar Lucia saat mendatangi Mohammed yang sedang asik dengan ponsel sentuhnya.

“Oh. Tidak apa-apa. Silahkan duduk,” ujar Mohammed dengan ekspresi agak bingung.

“Mengapa Omar tidak pernah mengatakan sebelumnya jika yang ingin berbincang denganku adalah seorang wanita bercadar.”

“Berdosakah jika wanita bercadar yang menemuimu?”

“Oh, tidak nona. Maksudku tidak begitu,” elak Mohammed cepat. “Baiklah, kalau begitu.. apa kabarmu hari ini Tsu.. hmm.. Tssuu..” ujar Mohammed lagi sambil mengingat-ingat dengan keras.

“Tsurayya..” bantu Lucia dalam melafalkan nama samarannya.

“Mohon maaafkan saya nona. Saya memang agak pelupa.”

“Ya.” Respon Lucia sangat pendek.

Sepuluh menit berlalu..

Tidak ada tanda-tanda perbincangan yang seru diantara mereka berdua. Lucia lebih banyak diam sambil menatap ke arah matahari bekerja. Sementara Mohammed pun akhirnya mengimbangi dengan kembali sibuk berkutat dengan ponsel sentuhnya.

“Kau tidak ikut makan, nona?” Ucap Mohammed membuka pembicaraan.

“Aku masih kenyang. Silahkan saja,” jawab Lucia tanpa memandang ke arah sang penanya.

“Hmm.. omong-omong tadi kau belum menjawab pertanyaanku. Bagaimana keadaanmu hari ini?”

“Sedikit kurang baik,”

“Oh ya? Apakah kau sedang kurang bugar.”

“Aku rasa aku hanya berlebihan dalam menilai seseorang,”

Mohammed mengerutkan alisnya dengan cepat sambil menaik turunkan kepalanya.

“Berlebihan dalam menilai?” Tanya Mohammed mengulangi kalimat terakhir Lucia.

“Betul.”

“Apakah seseorang itu begitu bernilai bagimu?” korek Mohammed sebagai pemanjang perbincangan yang agak aneh ini.

“Apa menurutmu kau itu masuk kategori bernilai?”

“Aku?”

Lucia mengerlingan pandangannya pada Mohammed.

“Kau berlebihan dalam menilaiku?

“Betul.”

“Apa maksudmu?”

Lucia kembali terdiam sambil memalingkan pandangannya pada panorama yang menurutnya lebih menentramkan hati dan pikirannya.

“Menjadi tugasku jugakah untuk menjelaskan?” ujar Lucia.

Kembali Mohammed mengerutkan keningnya. Ia sungguh benar tidak mengerti sejak tadi apa maksud pembicaraan wanita bercadar yang bermata ungu ini.

“Biar kubantu jelaskan sedikit. Aku bukan fansmu. Aku hanya orang yang tertarik pada sikap ketundukkanmu pada aturan Tuhanmu. Tapi sayangnya itu sudah menjadi masa lalu. Sebelum aku melihatmu menggandeng dan menyentuh punggung seorang wanita yang kini dunia kenal sebagai kekasihmu.”

Mohammed tampak cukup serius mendengarkan kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh wanita bercadar yang ada dihadapannya ini.

“Bagaimanapun juga aku terpaksa harus ikut senang dengan kesumringahanmu saat ini. Tapi aku urungkan niatku untuk mengikuti agamamu.”

“Nona, sebelumnya maafkan aku. Tapi apa yang sebenarnya ingin kau ucapkan?”

“Aku hanya ingin menyudahi ketertarikanku pada seseorang yang ternyata ikut menciderai aturan Tuhannya.”

“Apa yang aku ciderai, nona?”

“Bukankah agamamu meminta pengikutnya untuk menjauhi segala perbuatan yang mendekatkan pada adidaya setan?”

Kembali Mohammed tampak sangat bingung.

“Aku memantaumu sejak kau masih ikut ajang pencarian bakat menyanyi di sebuah stasiun televisi swasta, di Kairo Mesir. Aku menyukai caramu yang sangat sopan saat menatap wanita cantik yang berbaju seksi dan terbuka dihadapanmu. Aku suka mendengar jawaban cerdasmu ketika diisukan sedang dekat dengan si cantik A, si seksi B, si luar biasa C dan sebagainya. Aku juga salut dengan hobimu di saat senggang yang tak pernah lepas dari butiran batu untuk terus memuji Tuhanmu. Tapi kini bangunan penilaianku selama ini kandas diterpa rudal. Aku kecewa sekali dengan diriku, karena telah menilaimu dengan sangat berlebihan.”

Mohammed diam sambil terus menyimak untaian kalimat Lucia.

“Awalnya aku datang menemuimu dengan harapan bisa memintamu untuk menemaniku dalam menimba ilmu. Ilmu agamamu. Aku sungguh tertarik dengan keindahan agamamu yang melalui sikapmu dahulu. Yang entah mengapa aku merasa begitu yakin bahwa akan sangat berbanding terbalik dengan yang selama ini aku dengar dari ayah, saudara maupun teman-temanku.”

“Nona.. kau bukan seorang muslimah?”

“Bukan.”

“Tapi pakaianmu..”

“Bahkan bukan hanya pakaian. Hampir semua rekanku berkata bahwa pemahamanku pun jauh lebih muslim dari seorang muslim kebanyakan. Mungkin salah satunya dirimu.” Jawab Lucia tegas. “Aku tidak berhak menghakimimu. Apalagi jika urusannya adalah perasaan. Karena itu adalah hak asasimu. Tapi aku hanya merasa perlu untuk segera membersihkan lalu mengubur semua harapanku yang tidak perlu.”

“Nona..”

“Aku tidak ingin lebih lama lagi berada disini.”

“Nona.. kumohon sebentar saja kau berkenan mendengarkan aku.”

“Tentu saja kau bisa titipkan penjelasanmu pada angin. Permisi.” Lucia pun pergi meninggalkan lokasi tersebut tanpa membawa kembali cangkir biru kesayangannya yang kini masih bertengger manis dihadapan Mohammed.

Di sudut lain…

“Ah ada apa denganmu, Lucia? Mengapa kau harus mengenakan kain yang begitu buruk…” ujar Patricia kecewa dengan semua hasil bidikan kameranya.

**

Siang hari, di kedai es krim.

Lucia masih saja sibuk bungkam seribu bahasa pada Patricia, yang adalah sahabat sekaligus asisten pribadinya.

“Aku pernah mengecewakanmu, Lucia?” tanya Patricia dengan menunjukkan wajah empatinya.

“Aku hanya tidak pernah mengerti dengan lika-liku hidupku. Kepalaku rasanya ingin pecah dan hatiku rasanya seperti ingin meledak.”

“Kau sungguh mencintainya?”

“Aku rasa aku tidak perlu menjawabnya.”

“Ayolah Lucia. Mencintai lawan jenis itu wajar dalam kehidupan. Itu pertanda kita masih menjadi manusia normal. Mengapa kau merasa hal itu begitu menyusahkan, sementara sebagian besar manusia yang lain justeru merasa sangat bahagia.”

“Apa kau amnesia dengan siapa sebenarnya Mohammed? Dia adalah pemuda Palestina yang kepalanya sangat diinginkan oleh ayah. Sejak aku kecil aku sudah sering melihatnya dihinakan bahkan ditikam oleh saudara dan teman-temanku seperti binatang jalang. Dan saat ini, ketika aku sudah bisa terlepas dari bayang-bayang keluarga dan masa laluku, ia…” Lucia mengurungan niatnya untuk melanjutkan.

“Wanita yang kemarin bersama Mohammed itu bernama Salina. Ia adalah presenter cantik yang beberapa kali menjalin kedekatan dengan berbagai selebritis tingkat tinggi dengan penghasilan diatas ribuan dollar dalam satu bulan. Ia wanita asal Palestina berusia dua puluh enam tahun yang saat ini tinggal di New York. Ia juga kini tengah dibidik banyak stasiun televisi, yang salah satunya adalah milik organisasi ayahmu.”

“Apa ayah tahu aku masih hidup?”

“Kurasa tidak. Rekaman film itu kurasa cukup bisa mengelabui ayahmu untuk menyadari bahwa sebenarnya kau yang mati tertembak, bukan Tsurayya,” terang Patricia.

Lucia menelan air ludahnya lumat-lumat. Ia kembali harus berpikir keras, bagaimana cara untuk tetap bertahan hidup dengan status barunya yang kini adalah seorang gelandangan dan juga bernama Tsurayya.

“Berapa dollar hutangku untuk menggajimu?”

“Kau bicara apa Lucia. Sudahlah. Jangan kau risaukan masalah itu. Aku tidak pernah keberatan untuk membantumu mencari siapa sebenarnya Tuhanmu.”

“Aku pun tak masalah jika hanya menyandera perutmu. Tapi aku tidak bisa tinggal diam jika kau lebih memikirkan aku dari pada anak dan ibumu. Sudahlah. Aku sudah miskin. Dan tentu saja aku bukan lagi atasanmu.”

“Lucia.. mengapa kau melakukannya?”

“Jika aku tau jawabannya, sudah barang tentu aku bisa mengatasi kegundahanku selama ini.”

“Kau akan tinggal dimana?”

“Sudahlah. Aku akan baik-baik saja. Kau ambil ini. Harga ini lebih dari cukup untuk menutup nilai gajimu dan pesangonmu selama bekerja untuk proyek pribadiku. Simpanlah. Anggap itu kenang-kenangan dari persahabatan kita selama bekerja sama. Jika kau berani membocorkan tujuanku, ingatlah bahwa aku adalah orang pertama yang akan menginjak kedua mata anakmu dengan sepatu bergerigiku.” Ujar Lucia sambil memberikan sekotak perhiasan berlian dan batu intan kepada Patricia.

“Tentu.” Sahut Patricia sambil memeluk juga menciumi pipi dan kening sahabat dan mantan atasannya.

“Surati aku dengan huruf dan angka terbalik. Percayalah aku sudah lebih pandai dalam membacanya.”

Lucia tersenyum. “Biar nanti kupertimbangkan kembali untuk itu. Pergilah. Aku sedang enggan untuk diganggu.”

“Semoga Tuhan, apapun nama panggilannya bisa melindungi dan menjagamu seutuhnya. Kau sudah aku anggap seperti adikku sendiri, Lucia.”

“Waktumu habis, Patricia. Salamkan cintaku untuk anakmu. Dan semoga kau bisa menjadi ibu yang lebih berguna daripada saat menjadi seorang agen rahasia yang terlalu banyak bicara.” Bisik Lucia. Patricia pun tertawa.

Perpisahan ini sesungguhnya menyakitan, namun entah mengapa hal ini terasa jauh lebih melegakan. Lucia mengulum mulutnya dengan beberapa suapan es krim coklat yang kini sudah terlihat semakin mencair. Bayangan Patricia pun semakin lama semakin mengecil dan kemudian menghilang. Hilang terbawa angin musim panas yang kini tengah menyapu bersih memori masa lalu hidup Lucia.

Sekian.

(1) Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: