Kira-kira, pada siapa sejatinya kita patut bercerita tentang kerinduan pada orang-orang yang tak lagi ada?
Apakah pada mereka yang belum pernah mengalaminya?
Ataukah pada dia dan dia yang kini telah memiliki keluarga?
Sedetik kemudian, sendu senyap pun melanda.
.
Ada yang pernah bertanya,
Mengapa tulisanku lebih banyak mengenai gundah gulana
Bukannya menebar wangi bunga
Seperti kebanyakannya pilihan orang yang memenuhi sosial media.
.
Kau tahu,
Untuk menebar sesuatu yang belum pernah kau paham rasanya itu
Kau harus belajar untuk menipu dirimu terlebih dahulu
Atau paling tidak kau harus setuju
Bahwa kamu tidak lagi ada di saat dan di detik ini yang ternyata berwarna kelabu.
Maaf saja, aku tidak mau.
.
Aku tidak suka menipu diriku
Meski menurut kebanyakan orang yang berpikir sama sepertimu
Menipu untuk kesempurnaan citra diri itu perlu
Namun bagiku hal itu tidak lagi berlaku.

Aku kini lebih suka menghadapi hal yang sebenarnya terjadi apa adanya
Tanpa sembunyi kata
Tanpa membohongi rasa
Karena selama belasan tahun sebelumnya
Aku sudah terlebih dahulu melakukan segala pencitraan, melampaui yang saat ini kalian kira.

Tak apa.
Proses pemahaman orang itu berbeda-beda
Hanya saja tak perlu memaksa
Karena perjalanan hidup orang pun tak ada yang sama.

Paham ‘kan ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: