Ketika aku SMA, aku pernah mencuri dengar pertanyaan mengenai toko bangunan milik papa yang berada di samping garasi rumah. Saat itu, aku tak pernah ada pikiran untuk mempedulikannya. Itu biar jadi urusan papa aja, ‘kan bisnis pilihannya.

Lalu beberapa kali pertanyaan yang sama kembali sampai di telingaku ketika aku kuliah komunikasi bisnis sambil bekerja sebagai konsultan rekrutmen. Saat itu, jawabanku masih sama, aku tak peduli. Aku punya pilihanku sendiri. Aku menjawab begitu karena memang lini bisnis yang aku dan papa tekuni begitu bertolak belakang. Jadi aku bisa dengan begitu santainya mengutarakan pendapat begitu.

Hingga sesuatu pun terjadi. 

Tahun 2014 mama meninggal disaat fisik papa juga mulai melemah akibat stroke dan penyakit jantungnya. Aku yang saat itu tengah bekerja di sebuah kafe pun, harus berpikir cepat dan tepat. Dan pilihanku adalah keluar dari pekerjaan yang sebenarnya begitu aku butuhkan dalam hal pengetahuan dan pengalaman di bidang food & beverage.

Awalnya berat sekali aku menjalaninya. Aku sama sekali tak tahu apa-apa tentang barang-barang material. Jangankan seperti apa bentuk dan harganya, nama barangnya pun masih begitu asing di telinga. Beberapa kali aku pernah melihat sendiri wajah pelanggan yang sebal, saat tahu bahwa aku yang melayani toko seorang diri akibat dua karyawan papa lainnya masih sibuk mengantar dan menyiapkan pesanan.

Kemampuanku di awal hanya bisa mengangkat telepon, mencatat pesanan dan menjadi kasir saat transaksi pembayaran. Hanya itu saja. Bila ada orang bertanya barang apapun, aku selalu memintanya menunggu sebentar sampai karyawan papa datang. Dan bila terlalu lama menunggu ketidakjelasan, ia pergi dengan mengumpat.

Kemudian, tujuh tahun pun berselang. Kemampuanku (nampaknya) berkembang. Dan kembali aku harus membuat keputusan. Aku harus keluar. Masa bakti ku pada papa untuk mengurusi toko, rumah dan aset lainnya nampaknya sudah harus usai.

Aku perlu kembali mempedulikan, membereskan dan menumbuh kembangkan usahaku yang selama tujuh tahun berselang ini aku tinggalkan demi janjiku ke papa sebelum ia meninggal di tahun 2016 silam.

Aku pun harus kembali mengasah mental, strategi dan kemampuan teknis bisnisku yang belakangan ini justeru aku timpa dengan banyak sekali hal. Salah satunya aku timpa dengan sampah orang lain, yang secara tidak sadar aku kumpulkan bahkan aku rawat dengan kepolosan sehingga memenuhi ‘rumah dan ruang’ pribadi dalam diriku sendiri. Untuk lebih detilnya, nanti aku ceritakan dalam judul yang berbeda.

Kembali ke urusan papa.

Aku merasa harus keluar, aku merasa harus selesai bukan karena aku takut dengan omongan tak menyenangkan, dengan ancaman dan aneka kiriman ilmu hitam yang pernah beberapa kali diperuntukkan atas namaku. Bukan. Tapi aku melakukannya, karena bagiku ini sudah waktunya. Waktunya aku mengurusi hidupku, dengan menikah juga memiliki ‘rumah dan ruangan’ pribadi yang baru, yang sesuai seperti apa yang aku mau.

Kebencian itu masih tersisa. Jangan dikira aku lekas melupakannya. Karena aku masih manusia biasa. Hanya saja aku kini lebih berfokus untuk mengubah kebencian itu menjadi pengertian. Otak dan hatiku masih terus bekerja keras untuk mencerna mengapa aku dibicarakan dengan cara dan kalimat tak menyenangkan, mengapa aku harus dilempari ancaman dan dihujani hal-hal yang tak karuan padahal kami hadir dalam guratan tali dan media yang sama.

Dengan kepala tegak, sekali lagi aku katakan aku keluar bukan karena tekanan, tapi karena aku merasa aku sudah selesai menunaikannya, walau tentu saja dengan tidak sempurna. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: