Seringkali kita tak sadar telah berlebihan dalam memberi rasa peduli.

Kemudian apa yang gurat kenyataan suguhi?

Dipertemukannyalah kita dengan sepercik kekecewaan yang ternyata sedang kita perlui.

Yang berguna sebagai lonceng untuk proses evaluasi diri

Bahwa kita telah melampaui zona merah dalam peduli dan mencintai.

 

Salahkah kita bila kecewa pada mereka?

Tidak sama sekali.

Karena jika kita tidak kecewa, kita tak dapat menggetahui apa yang menjadi sumber biang keladi dari rasa kecewa ini

Sehingga kita tidak bisa untuk memperbaiki kekacauan yang sedang bertamu ini

 

Sementara itu, sengajakah mereka yang membuat kita bergundah gulana?

Tidak juga.

Karena sebenarnya mereka hanya bertugas sebagai perpanjangan tangan Tuhan yang sangat mengasihi kita.

Meski memang tak semua kasih Tuhan itu berbentuk dangkal seperti doa maha sok tahu yang biasa kita gaungkan pada semesta setiap harinya.

Sehingga menjadi wajar juga apabila kita mengalami fase sakit dan kecewa yang luar biasa terasa.

Hanya saja, kita jangan mau bila diperdaya terlalu lama.

Oleh ego yang sebenarnya sedang meronta-ronta.

 

Tinjaulah kembali kalimat-kalimatku ini kawan..

Ia / mereka bukan hanya milik kita saja..

Melainkan milik impian dan masa depannya

Milik orang tua yang menjadikannya

Milik saudara dan sahabat karibnya.

Milik lingkungan dan beban tanggung jawab pekerjaannya.

Bahkan ia pun milik rasa bosan, lapar dan kantuk yang ada di dalam dirinya

Yang terkadang juga tidak bisa untuk tidak dipenuhinya dengan segera

Sehingga dengan sengaja atau tidak memang mengalahkan harapan kita.

 

Tidak tepat bila mencari siapa yang salah disini.

Melainkan hanya semua pihaknya perlu lebih pandai dan terbuka dalam memaknai.

Bahwa memang semua harus terjadi seperti ini.

Demi kemampuan mengerti untuk kita sendiri saat ini

Dan tentunya juga, untuk nanti.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: