Ketika aku menulis ini, aku tengah dilanda penghargaan kepada diri di bawah garis wajar sebagai manusia. Entah bagaimana aku juga tidak mengerti mengapa aku begitu sulit untuk menghargai keberadaan diriku sendiri. Ratusan ribu kali aku menghukumnya dengan kalimat tak pantas. Menghardiknya. Meludahinya bahkan sudah belasan kali pula aku mencoba untuk membinasakannya.

Entah berapa puluh buku self-help & self-development yang aku telan sejak 2014, namun yang mampu bertahan di sumsum diri hanya sebesar 0,0000005% saja.

Kadangkala bila aku sudah sangat muak, aku ingin lagi mendatangi tenaga ahli untuk mengetahui klasifikasi penyakit mental macam apa lagi yang mendera diriku selama ini. Namun jika hanya pelabelan atas klasifikasi pesakitan yang hendak aku cari dan aku tanyakan pada mereka yang ahli, lalu apakah itu cukup untuk membuatku puas atas segala kebencian dan kegundahanku selama ini? Apakah semua kegundahan ini bisa dengan instan menghilang dari diriku setelah aku pergi ke tenaga ahli? Tidak juga ‘kan. Ujungnya pun, kembali aku sendiri yang merasakan dan menjalani.

Sesungguhnya aku tahu mengenai apa yang sedang terjadi di dalam diriku, hanya saja aku kesulitan untuk memilah yang mana yang menjadi penyebab atas semakin kacaunya pola pikir ku.

Ada beberapa alasan mendasar mengapa aku tidak (lagi) menghubungi mereka yang ahli..

Pertama, aku sangat enggan bila harus kembali membongkar dan menjelaskan lagi dari awal tentang isi ‘peti sialan’ yang sudah susah payah aku pinggirkan akhir-akhir ini dari hidupku. Apalagi pada orang yang tak tahu menahu tentang diriku. Demi Tuhan aku malas sekali berbohong, betapa menguras energi untuk mengingat dan mengulang semua cerita kurang menyenangkan itu, apalagi dari yang sudah sekian belas tahun aku simpan secara sembarang di dalam gudang pikiran.

Kedua, ketidakleluasaan waktu. Normatif saja alasanku. Aku senang bercerita. Apalagi bila ada masalah yang sedang aku hadapi. Aku sanggup berjam-jam berbicara sendiri tanpa henti. Dan ketika sedang menggebu-gebunya aku dalam bercerita, ternyata waktu konsultasi ku habis. Dan aku harus mengerti karena ada orang lain juga yang membutuhkan bantuan dokter itu selain aku. Aku tak mungkin egois untuk memundurkan jadwal orang lain yang sudah ada hanya demi keegoisan untuk melanjutkan ceritaku yang belum usai. Aku tidak begitu.

Ketiga, tidak ada makan siang gratis. Sebetulnya aku agak sungkan mengatakan ini, tapi marilah kita menyadari bahwa tidak ada tindakan profesional yang patut dibayar hanya dengan ucapan terima kasih saja. Tidak adil juga untuknya, karena untuk meraih pendidikan dan uji kelayakan profesi apapun pasti menghabiskan begitu banyak waktu dan energi yang amat sangat banyak dan besar sehingga tidak mungkin setara dengan ucapan terima kasih saja. Ada memang orang yang mewakafkan dirinya untuk hal itu. Namun itu sudah lain cerita dan kita tidak sedang membicarakan hal itu disini.

Keempat, empati. Tidak semua orang di dunia ini memiliki empati pada setiap situasi/keadaan orang lain. Itu adalah sebuah fakta yang terjadi dan yang harus terlebih dahulu dipahami. Bagiku pribadi, empati itu seperti misteri. Tidak semua orang memiliki empati. Apalagi tak bisa terciri juga tanda-tanda orang yang memilikinya. Bahkan sekalipun pada orang yang memiliki, ia sendiri juga tidak bisa menyetir/mengontrol impuls empatinya pada semua hal yang diketahuinya lewat mata, telinga dan perasaannya. Tidak bisa. Oleh sebabnya aku ragu untuk membuka dan berbagi isi ‘peti sialan’ itu pada sembarang orang walaupun ia memiliki segudang legitimasi profesi tapi aku tak bisa memastikan keberadaan empati itu sendiri.

Bukan aku tidak percaya pada ahli, tapi nampaknya aku lebih memilih untuk menikmati semua rasa ini seorang diri. Syukur-syukur bila Tuhan memberikan teman setia yang mendampingi. Tapi bila tidak pun, aku tetap akan menjalaninya sendiri juga ‘kan. 

Aku memilih membiarkan semuanya berjalan dengan alami saja. Bila waktunya bersedih, ya aku akan bersedih. Bila waktunya masih harus merasakan perih dari luka menganga ya mau tak mau aku harus belajar hidup bersama dengan rasa sakitnya. Menangis dalam diam adalah keahlianku.

Tak mudah memang. Tapi aku justeru lebih muak bila harus mengharapkan atau memaksa orang lain yang sebenarnya tidak ingin melakukannya untukku.

Aku percaya Tuhan mempersiapkan waktu, udara dan sistem semesta raya untuk menemaniku dalam ‘menjahit semuanya’. Dan dalam hidup ini aku pun percaya pada hikayat cerita Nabi Sulaiman tentang kalimat Gam Zeh Ya’avor (semua ini akan berlalu). Seperti terik mentari dan hujan lebat yang pasti memiliki jangka waktunya untuk berlalu, begitu pun dengan kesenangan dan kesedihanku.

Lalu bagaimana caraku ‘menjahit’ lukanya? 

.

bersambung di bagian kedua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: