Mengapa Harus Ke Alam?

Aku tak tahu bagaimana dan kemana lagi aku harus berbicara pada Tuhan, kalau bukan melalui kekuasaan yang Ia ciptakan dengan Maha Cinta-Nya. Aku bukan orang yang senang berlama-lama menangis diatas sajadah. Aku jauh lebih bisa menikmati tangisanku bila sambil merasakan semilir angin pantai atau sambil mendengar kicauan suara binatang di hutan atau juga sambil menatap kosong derau ombak di tengah laut lepas, karena disitu aku betul-betul bisa merasakan kekuasaan Tuhan yang lebih nyata, bukan dengan menerka. 

Lagi pula aku sudah sejak tiga tahun terakhir di rundung rasa takut untuk berdoa dan meminta.

Aku takut salah dalam meminta. Aku takut permintaanku bukan atas dasar kebutuhanku, melainkan hanya sekedar pemaksaan egoku saja. Yang bila Tuhan iya-kan, aku akan merasa seperti dirahmati berlebihan namun bila tidak aku akan merasa seperti diuji berlebihan.

Aku takut untuk berdoa, karena aku tidak tahu apakah doaku betul untuk kebaikanku di masa depan atau justeru malah mengundang ujian kesabaran yang sebetulnya bukan untuk porsi kehidupanku.

Aku kini ingin bersyukur dan lebih mempersilahkan Tuhan saja dalam mengatur segalanya untuk hidupku, karena aku percaya Tuhan jauh lebih mengetahui apa-apa yang terbaik untuk diriku, kemarin, saat ini dan nanti jauh kedepannya. Karena jika apa yang sudah dipilihkan Tuhan tidak pernah mungkin ada kesia-siaan, tapi bila aku yang (kekeh) untuk memilih, biasanya jadinya yaa sia-sia.

Aku hanya sesederhana tidak ingin memberikan lebih banyak porsi untuk egoku lagi saja. Karena dahulu, aku sering sekali sok tahu mengenai doa dan meminta pada Tuhan. Dan kini, aku tak ingin melakukannya lagi. Menerima yang sudah dipilihkan Tuhan saja terkadang aku masih terasa berat dan kesulitan, apalagi bila aku meminta sesuatu yang aku sendiri tak paham mengenai kedepannya dan kebaikannya untuk diriku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: