Entah mengapa saya begitu suka padanan kata ini.

Kata gak & dinyana, yang bermakna sama dengan gak disangka, gak diduga. Sehingga saking sukanya, nama itu sudah dan selalu saya gunakan untuk berbagai nama brand keperluan tugas-tugas bisnis saya sejak tahun 2010, ketika saya masih kuliah tingkat dua, hingga hari ini.

Tahun-tahun kemudian saya menyelaminya lebih jauh, yakni menggunakan nama Ganyana untuk menjadi nama brand project dari usaha pertama saya yang bergerak di bidang event organizer (skala kecil).

Peresmian nama brand dan usaha itu pun sengaja saya pilih tepat saat pergantian usia saya menjadi 22 tahun yang mana saat itu bertepatan di bulan Ramadhan di tahun 2013.

Moment sederhana di peresmian usaha saya saat itu begitu berarti. Bukan karena apa-apa, melainkan karena pada akhirnya saya bisa mewujudkan keinginan terpendam saya selama ini untuk berbagi momen acara pribadi bersama pihak lain yang sama sekali tidak saya ketahui sebelumnya. Yakni bersama dengan teman-teman dari Sekolah Jalanan / Sekolah Kolong Jembatan (informal). Pun seolah dihadiri oleh orang-orang yang dirahmati Tuhan untuk membantu saya mewujudkan hal tersebut. Karena semua pihak yang terlibat tidak ada yang saya bayar satupun, kecuali penyewaan genset.

Nekat karena ilmu, pengetahuan, wawasan bahkan pengalaman dan jaringan saya belum banyak saat itu. Tapi entah mengapa saya berani sekali melakukannya. Mungkin saja karena masih pengaruh bacaan buku bisnis yang “menggelegar” saat itu hingga efeknya jadi ikutan

Bagi saya, kata Ga Dinyana terasa begitu prestisius karena mengandung makna filosofis yang sangat kental dengan Keesaan Tuhan. Hal yang amat saya sukai sejak kecil, yakni yang bertautan dengan ranah sastra klasik, dan filsafat.

Sementara alasan penunjang lainnya adalah karena ada kata Dinyana terdengar begitu senada dengan nama saya, Dyana. Sesederhana itu saja sebenarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: