Sepanjang waktu terakhir, kami disibukkan dengan urusan kebun kehidupan masing-masing.
Sehingga hanya sedikit sekali waktu untuk kami saling berekonsiliasi.

Lalu suatu masa kita tak sengaja dipertemukan oleh waktu di sebuah jurang perbedaan besar dari cara pandangku dan keyakinanmu
Mengenai hal-hal yang dimaknai, dijunjung tinggi dan dirawat selama ini
Kemudian dengan entengnya kau berseloroh bahwa pemikiranku semakin absurd, hanya karena aku kini semakin berbeda dengan caramu.

Sebenarnya aku bisa saja melakukan hal yang sama.
Menentangmu dan menganggap kau sesat karena tak sama seperti yang selama ini aku hidmati

Tapi perlukah aku berujar sama sepertimu?
Yang bahkan sampai saat ini aku masih dan selalu meyakini bahwa kau tidak (akan) sebejad gerakan dan organisasi yang kau cintai akhir-akhir ini.

Tak mudah menjeratmu keluar dari keyakinan besar terhadap gerakan atau organisasi yang selama ini menyemai pikiran dan perasaanmu dalam berlaku.
Begitu juga dengan dirimu terhadapku.
Biarkan aku berbeda asalkan aku masih bersama diriku yang sebenarnya.

Kita sama-sama menyembah Tuhan yang sama,
Hanya saja, cara pandang kita dalam mencintai sesama manusia dan hakikat ciptaan Nya yang ternyata berbeda.

Ketika semakin hari hafalan ayat suci Al-Quran yang kau koleksi
Yang aku hidmati justeru buku-buku filosofi dan cara pandang siapapun tanpa peduli sekat agama, mengenai makna dan tata cara sederhana dalam mencintai sesama.

Aku tak masalah jika (andaikan) aku tak lagi kau anggap teman hanya karena kita tak lagi dalam frekuensi yang sejalan.
Itu hakmu, kawan.
Tapi menjadi hak ku juga jika aku masih dan akan terus bersama pilihan-pilihan yang aku yakini dan sadari benar adanya.

Terima kasih karena pernah menorehkan waktu-waktu bersama tanpa pernah memaksakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: