Di Kedai Ketan Susu Karina, Kota Surabaya, Jawa Timur.

“Sejak kapan elu demen ketan, cu?” Tanya Gendis keheranan saat mendengar sahabatnya memesan satu porsi ketan susu special.

“Ha? Yaa cobain aja sih. Gak suka yaa tinggal bagian elu yang ngabisin ‘kan. Haha.” Jawab Carina enteng sambil cengengesan. Seperti biasa.

“Kebiasaan! Kalau emang gak doyan ketan, kenapa harus maksain sih. Mending kita cari makanan yang lain. Yang bisa lu abisin. Sayang cu, duitnya, bisa buat beli makanan yang lain pas di kereta ‘kan.”

“Yaelah cuk, ribet amat sih lu. Namanya aja nyoba. Biar gak penasaran aja guenya.” Sahut Carina sambil menyeruput minuman hangat yang ada di hadapannya.

“Zzzz!”

“Mbak Carina?” ujar seseorang sambil mengajukan jabat tangan pada Carina.

“Oh, halo Mas Arya.” Sambut Carina lekas dengan aura wajah sumringah dan senyuman hangat.

Lelaki itupun ikut berjabat tangan dengan Gendis, yang persis berada disamping Carina. “Arya”

“Eh iya, Gendis.”

“Silahkan duduk lagi mbak, gak apa-apa, santai saja. Terima kasih yaa, sudah datang ke kedai ketan kami. Terhormat sekali rasanya jauh-jauh disambangi sama mbak-mbak ini.” Ujar lelaki yang bernama Arya ini dengan sangat ramah dan sopan.

“Hehe, gak apa mas. Sekalian jalan-jalan juga kok kitanya. Hehe.” Jawab Carina hangat.

Dan bla bla bla. Setelah sempat beberapa waktu diawal masih berbasa-basi ria, tak lama akhirnya mereka pun segera masuk ke pembicaraan inti, yakni mengenai kerjasama makanan dengan personal travel agent yang diprakarsai oleh Gendis dan Carina, yang bernama Travelife. Pembicaraan pun mulai terlihat serius sampai beberapa kali Arya harus bolak-balik mengantar menu makanan dan minuman ke hadapan Carina dan Gendis.

***

Dua jam berlalu..

“Cu..”

“Hmm..”

“Sumringah amat lu dari tadi, tumbenan.” Goda Gendis sambil melirik sahabatnya.

“Oh ya? Enggak ah kayaknya. Biasa aja.”

Gendis pun mencibir. “Kayak gue kenal elu baru kemarin sore aja.”

Carina tersenyum tipis.

“Enak cu, ketannya?” tanya Gendis sambil menatap lurus wajah sahabatnya lagi.

“Hehehe.”

“Enak gak?”

Carina menggaruk pipinya. “Kan elu tau ya, cuk, gue gak suka manis. Jadi, mendingan elu deh aja yang nilai. Hehe.”

“Ah si benga’. Gue yang ngabisin nih?”

“Yoi-lah.”

“Ck! Gimana gue mau kurus kalau kerjaannya ngabisin makanan lo mulu. Kentut!” Gerutu Gendis sambil menyuap potongan ketan ke dalam mulutnya.

“Hahahhahaa.”

“Sebenarnya dari segi rasa sih lumayan, ya cu. Cuman mungkin tampilannya aja kali ya. Ndeso banget gitu menurut gue.” Jelas Gendis dengan nada lebih pelan.

“He eh. Refleksi dari yang punya ya kayaknya. Hahahaha.” Sahut Carina polos.

“Hanjir, hahaha. Iya juga sih. Mukanya Mas Arya alim banget sih ya. Aseli. Minta digoda gitu bawaannya.”

“Hah? Aahahahahahahaa. Yakali. Menajiskan banget sih bahasa lo. Ngamits deh! Hahaha.”

“Tapi gue bener ‘kan cu? Hahahaa.”

“Hahahahaa. Gak tau juga sih aselinya kayak gimana. Cuma hmm, ya gue tertarik aja pas habis baca beberapa bukunya, terus kepoin facebooknya dan waktu itu gak sengaja ngeliat dia lagi ngucapin happy birthday buat adiknya.” Carina berhenti bercerita sambil tersenyum simpul. “Gue suka banget kalimatnya dia ke adeknya. Hmmm, yang kurang lebihnya dia bilang kalo dia gak mau jadi orang sempurna terutama sempurna sebagai kakak. Karena kalau sudah sempurna berarti tugas dia selesai sebagai kakak. Dia mau jadi orang yang gak sempurna aja karena bisa terus belajar buat memahami orang lain, yang dalam hal ini adalah memahami adiknya. Ck! Ahhh, cuk. Meleleh gue cuk ahhahaha.”

“Dih?”

“Dih kenapa?”

“Kok lu jadi bahas kesitu sih? Waahh, ada maksud lain lu ya, dibalik kerjasama makanan buat travel kita? Wahh, modus lu ternyata. Kampret!”

“HAHAHAHAHA. Ya gue senang aja kalau bisa dapet bonus kenal sama orang baik. Setidaknya, bisa jadi pegangan buat urusan bisnis dan personally kita, kalau dia orang yang baik.”

Kedua alis Gendis pun berkerut.

“Maksudnya gimana?”

“Cuk. Kita ‘kan bermitra. Setidaknya harus saling paham satu sama lainnya. Dan kalau basic-nya dia aja udah paham banget kalau manusia itu gak sempurna, apalagi dia tipe orang yang mau untuk terus memahami hal yang baru, itu berarti ada kecendrungan dia orang yang cukup bijak dalam melihat segala persoalan. Gak banyak orang yang punya keinginan dan pemahaman kayak gitu dalam kehidupan sehari-hari, apalagi dalam bisnis.” Jelas Carina dengan nada serius.

“Ya tapi kan yang tadi lo ceritain itu, antara dia dan adeknya. Ya wajarlah, orang ke adeknya. Lha, kita?”

“Justeru tolak ukurnya ada dari situ. Ya, gue gak tau juga sih dia aselinya orang yang kayak gimana. Toh, gue baru kenal juga. Tapi bahasa ketulusan itu udah pasti berasa cuk. Dan lu sendiri pasti bisa kerasa ‘kan mana orang beneran tulus dan mana yang enggak, meski cuma dalam hitungan percakapan singkat kayak tadi.”

“Iya juga sih. Gue juga tertarik sih sama yang tadi dia bilang tentang ilmu menulis dan memesan makanan.”

Carina tersenyum.

Yang namanya pesen makanan, kita tulis pesanannya di kertas, kemudian menyerahkannya kepada pelayan atau langsung kepada kokinya. Dengan begitu, barulah bisa makanannya diolah. Lah, kalau kertas pesanannya kita pegang terus, tidak dilepas dan diserahkan kepada ahlinya, yang ada perut malah tambah keroncongan. Nulisnya sudah, melepasnya kertasnya yang belum. Ilmu menulis pesanan itu penting, ilmu melepasnya juga tidak kalah pentingnya. Nanti kalo udah sering memesan makanan dan minuman yang sama, mungkin gak perlu lagi nulis pesanan, cukup bilang, “Biasa, Mas”. Koki dan pelayannya langsung ngerti. Tapi kalo gak ngerti, paling cuma dibales, “Biasa, Ndasmu!” – hahahaa, ngakak gue cuk. Sebenarnya gak lucu sih. Tapiii, kocak aja. Mungkin karena bahasa jawanya dia medok banget kali ya, jadi gue ngakak bukan sama isinya tapi sama penyampaiannya. Hahahaha.”

“Hahaha, bisa bisa bisa..”

“Tapi kalau diliat-liat, mukanya sekelebet agak mirip si Mantok ya, cuk. Kulinya bokap lu,”

“AAHAHAHHAA. Kampret. Ya mendingan dialah.”

“Yakan tadi gue bilangnya sekelebet. Hahahaa.”

“Iya juga sih, hahahaa. Parah lu..”

“Ahahaha. Eh, udah jam berapa nih. Cabut yuk. Ketinggalan kereta balik kita nanti.”

“Oh iya ya. Yuk yuk.”

***

.

Di ruang tunggu stasiun kereta menuju Jakarta.

Di layar televisi ruang tunggu stasiun sedang diberitakan kabar berita dalam negeri mengenai liputan sebuah gerakan yang menginginkan khilafah berdiri di Indonesia.

“Cuk. Itu dari kemarin gue denger, tentang khilafah khilafah gitu terus. Itu mau ngapain sih sebenarnya, cuk?”

“Oh.. ya dagelan politik di Indonesia aja sih.”

“Dagelan gimana maksudnya? Terus khilafah khalifah itu, apaan maksudnya?”

“Khalifah itu, hmm, ya kayak sistem dinasti kepemimpinan di jaman setelah nabi Muhammad wafat.”

“Terus mereka mau ngapain?” desak Gendis.

“Hehe, ya makanya tadi gue bilang dagelan. Simpelnya sih mereka nuntut mau mengislamkan semua warga Negara Indonesia dan mau buat aturan ketat menurut kehendak mereka sendiri supaya bisa sesuai dan mencapai tujuan politik mereka.”

“Cuk, bahasa lo jangan ribet-ribet dong. Udah tau ‘kan gue buta politik dan males baca sejarah.” Protes Gendis sambil menyamankan posisi duduknya untuk mendengarkan penjelasan Carina.

Carina tersenyum. “Tapi paling enggak, kita paham tentang letak kebenaran itu sendiri. Biar pemahaman kita gak diobok-obok sama propaganda.”

“Nah iya tuh, setuju gue. Tapi gimana caranya, cuk. ‘Kan semua ngerasa paling benar sendiri?”

“Justeru itu. Elu yang harus cari tau sendiri dimana letak kebenaran yang sebenarnya.”

“Maksudnya gimana? Gue harus dengerin siapa?”

“Dengerin pertimbangan akal dan nurani lu sendirilah. Kita gak bisa Cuma bertumpu sama pemahaman orang lain. Sementara orang lain pun punya kebutuhan yang berbeda sama kita.”

“Cuk, bahasa lo sih. Jangan tinggi-tinggi napa.”

“Ini gak tinggi cuk. Cuman poinnya memang elu harus betul-betul jeli buat deteksi ada dimana kebenaran itu.”

“Hmmm..”

“Misalnya, kalau elu mengandalkan opini gue. Elu gak tau ‘kan kalau misalnya gue sebenarnya salah. Atau misalnya gue sebenarnya dibayar sama satu pihak buat memfitnah pihak yang lain. Sampai akhirnya elu ke-kecoh sama kebenaran yang sebenarnya. Itu yang gue bilang elu harus berdiri sendiri dengan akal dan nurani lu. Manusia bisa aja salah. Dan bisa aja kepepet dengan berbagai urusan dan tujuan pribadi. Banyak kok penulis-penulis sekarang yang dibayar untuk nyebar propaganda.”

“Tapi lo gak kayak gitu ‘kan cuk?”

“Yaa, nauzubillah sih kalau buat nyebar fitnah dan propaganda, tapi kan tetap aja gue bisa salah atau bisa melenceng dari kebenaran itu sendiri. Toh, gue tetap punya keterbatasan dan kekhilafan sebagai manusia biasa. Dan bisa aja, gue bersebrangan dengan kebenaran itu karena misalnya gue punya pengalaman pribadi yang cukup mengganggu.” Jawab Carina tegas.

“Masing-masing dari kita dikasih otak dan nurani sendiri-sendiri yaa gue rasa salah satu tujuannya memang untuk berdiri diatas opini sendiri. Bukan bergantung pada opini dari otak orang lain.”

“Terus kalau nanti gue salah, gimana?” tanya Gendis dengan mimik sedikit khawatir.

“Nah itu dia kenapa kita sebagai penganut agam Islam selalu perlu baca surah Al-Fatihah dalam setiap rakaat shalat. Kita sebagai manusia gak pernah bisa seratus persen benar, makanya disuruh baca ayat yang isinya minta petunjuk kebenaran sama Yang Maha Mengetahui Kebenaran.”

“Hmmm.. ck. Tapi ya, mungkin emang guenya aja kali ya cuk, yang males nyari tau dan males peduli tentang politik.”

“Nah, itu dia juga, yang jadi sasaran tembak paling empuk buat yang jadi korban propaganda dan adu domba politik. Karena masih banyak orang-orang awam yang malas nyari tau seluk beluk kebenaran dan langsung asal share berita padahal cuma baca judulnya doang. Hahaha.”

Gendis menggaruk kepala belakangnya. “Ck, males cuk. Idup gue aja udah rumit, males gue tambahin rumit sama perkara yang gak penting.”

“Hahahaa. Bukan gak penting juga sih. Tapi secara gak langsung, kehidupan pelik itu ya berasal dari rasa masa bodo yang kayak gitu.”

“Yaa yaa yaa. Tapi kan yang kayak lo bilang tadi. Kita sebagai manusia punya batasan, dan berhak atas pilihan kita.”

“Yaap, itu betul.”

“Dan pilihan pilihan gue ya itu tadi, males ngurusin yang bukan urusan gue. Gue ngurusin operasional dan dapur bisnis kita aja udah cepet banget panas otak gue, apalagi harus ditambahin sama yang kayak begitu-begitu.”

“Hahahaha. Iya juga sih, bener juga poin lu tentang bahasan manusia punya kadar batasan dan berhak atas pilihannya.”

“Nah, ‘kan. Bener ‘kan gue.”

Carina tersenyum.

“Jangan pinter-pinter cuk. Entar banyak yang kabur lagi.”

“Hahahahaha. Ah, itu sih dianya aja cemen. Gue ‘kan cuma sotoy doang jadi orang. Merekanya aja kelewat percaya.”

“Yaa yaa yaa, bener juga sih. Udah tau lawannya singa, mentalnya mereka malah masih mental kucing anggora, ya udah pasti mental-lah.”

“Taek.”

“Hahahaha. Eh cuk, lu mau baca buku yak? Entar kalo ada informasi keretanya dikit lagi dateng, lu bangunin gue yak. Gue ngantuk banget aseli.”

“Ah, gembel. Bukannya elu bangun tadi itu siang banget ya??”

“Yaelah cuk, namanya aja ngantuk. Ngantuk is ngantuk. Ngarti ora son?”

Carina menggeleng.

“Yaudeh sih. Minta tolong bangunin aje juga.”

“YAUDAH SIH. Lebay banget lu.”

“Ahahaha. Eh, gue titip henpon ya cuk. Entar kalo ketinggalan, berabe urusannya. Bisa ribut lagi entar lu sama laki gue, hahaha.”

Carina pun hanya tersenyum malas sambil terus menatap huruf demi huruf dari buku strategi perang yang sedang dibacanya.

**

.

.

Salam Tak Terduga,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: