Sebuah Catatan Lama, 30 April 2014

.

Menuntut sebuah penerimaan atas keputusan di dalam perjalanan kehidupan.

Akhir-akhir ini aku banyak mempertimbangkan banyak hal yang menurutku memerlukan keberanian khusus disaat usiaku masih beranjak dewasa.

Seperti misalnya seminggu lebih lalu, aku nekat memutuskan untuk membawa pulang ibuku dari perawatan khusus rumah sakit dikala tubuhnya masih sangat membutuhkan perawatan intensif dan aku meyakinkan papaku untuk mendukung keputusanku. Keputusan berat dan cukup berani dimana aku melarang kakak-kakaku yang ingin bersikeras untuk mempertahankan kondisi ibuku dengan perawatan rumah sakit dengan mengorbankan beberapa hal. Tapi aku mantap untuk membawa pulang. Karena bagiku, bukan masalah pasrah atau tidak mau mendukung perjuangan hidup ibuku yang masih ingin bertahan hidup, namun akan sangat menyiksa dirinya lebih lama jika ia masih dipaksa untuk bertahan sementara media dirinya, yakni jasadnya sudah tidak bisa berfungsi dengan baik sebagaimana orang yang sakit biasa.

Semangat hidup ibuku masih tinggi namun seluruh organ tubuhnya sudah tidak bisa mendukung semangatnya tersebut.

Aku mencintai ibuku bukan dengan memaksakan sesuatu hal untuk menjadi kebaikan secara satu arah, namun aku mempertimbangkan hal kedepan yang Insya Allah menjadi kebaikan untuk banyak pihak, meski berat dan sulit untuk dijalani di awal perjalanan.

Aku memang tidak begitu dekat dengan ibuku, sedekat aku dengan papaku. Sejujurnya pun aku tak dekat dengan keduanya. Namun aku mencintai mereka dengan caraku. Aku mempertahankan tradisi dan juga kebaikan yang membuatku tertarik untuk melakukannya dengan nama Tuhan dan sepenuh hati.

Aku belum bisa memberikan keduanya keberlimpahan materi untuk menyenangkan mereka, namun aku lebih memilih melakukan sesuatu yang bermanfaat dan yang bukan berbentuk materi.

Ibuku wafat. 24 April 2014. Tepat satu hari setelah aku berdebat dengan professor yang menangani ibuku di rumah sakit untuk membawa ibuku pulang.

Aku mencintai ibuku bukan dengan sebuah ucapan ataupun perbuatan yang mampu dengan mudah terdeteksi oleh orang awam.

Tapi aku mencintai ibuku dengan berbagai perbuatan baik dimana aku ingin ia bangga dan tidak menyesal pernah dititipi oleh Tuhan, seorang diriku yang sungguh sering membuat susah dan menyebalkan hati lembutnya.

Keputusan selanjutnya adalah dimana aku memutuskan untuk mundur dari pekerjaanku dimana perusahaan tersebut masih cukup membutuhkan pemikiran dan pertimbanganku.

Aku mencintai timku dan juga beberapa scope pekerjaannya, namun batinku menagis jika meninggalkan ayahku seorang diri dirumah dan menjalankan bisnisnya seorang diri disaat kondisi kesehatan papaku naik turun dan masih kesulitan untuk berbicara karena sakit stroke dan jantung yang ia derita beberapa waktu lalu.

.

Kinipun, Insya Allah aku mantap untuk membuka usaha pribadi dengan brand name dan konsep yang sudah aku matangkan dikala perjalananku kemarin. Aku tak tahu akan menjadi apa diriku, namun aku tahu tujuanku mengarah kemana. Hanya dengan meminta pertolongan Tuhanlah aku bisa sampai dengan selamat dan mencapai puncak.

Aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti. Selama apapun aku mempertimbangkan sesuatu dan sebaik apapun keputusanku itu tetap ada sisi kebaikan dan keburukan di dalamnya. Karena untuk mencapai kebaikan dan keindahan yang hakiki hanya akan ada ketika Tuhan sudah menggelar hari dimana perhitungan amal kebaikan manusia di akhirat nanti.

Dulu aku mempersiapkan diri untuk menjadi seorang anak yatim, dikala papaku sakit dan koma di rumah sakit. Namun kenyataannya saat ini aku adalah seorang piatu. Dimana aku harus merubah rencana hidupku.

.

Tuhan, untuk kesekian kalinya ku titipkan pilihan sementaraku.

Aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi kedepan

Namun, aku yakin rencanamu adalah rencana yang terbaik dan mengandung hikmah yang tersirat bagi semua yang terlibat.

Aku mencintai mamaku, papaku dan aku tak tahu dengan pendampingku.

Mungkinkah ia? Ataukah ada seseorang terbaik lain yang Kau sisipkan dalam hidupku.

Yang ku pahami adalah dalam setiap pertemuan yang Kau izinkan

Selalu ada kebaikan dan pelajaran yang kau sandarkan.

Terima kasih banyak atas sebuah pelajaran kehidupan

Kali ini Insya Allah, aku akan menerimanya dengan keikhlasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: