Kami bertukar rasa di balik punggung jendela

Mengenai rangkaian buku cerita yang dipenuhi oleh duka, kecewa juga air mata

Yang suka tak suka kami harus (selalu) bawa di punuk dada

Lalu kami baca sebagai wujud pengingat takdir yang telah diberikan semesta

.

Mengenai pemahaman rasa yang begitu dalamnya

Mengenai untaian kata yang sulit sekali terukir dalam sunggingan ketulusan jiwa

Biar saja.. kudalami segalanya

Sebagai simbol dari penerimaanku pada Sang Pemberinya

Meski urat nadi berujar dengan lantangnya

Bahwa (hati) kami tidak sedang baik-baik saja

Tapi tak apa

Aku bawa dan akan (selalu) aku rawat semampunya

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: