Ungkap yang melihat, cercah senyuman ini sekubit berlainan.

Nampak bervetsin dari yang biasanya.

Kemudian aku pun jadi tak bisa lekas bersabar untuk menyalahkan pendapatnya.

Namun seolah retina ini berpental rasa apabila ingin berkesimpulan beda.

 

Panggung waktu kehidupan itu memang berundak, teman.

Dan media penyangga jiwa tak pernah tercipta untuk mampu menolak otoritas Tuhan.

Sementara pemahaman mental kita saja yang belum tentu lunak untuk diajak berkawan.

Oleh karenanya urusan kita hanya selalu di area membiaskan salah satu dari dwi semerbak wewangian kehidupan

Yakni wewangian yang menawan atau justeru wewangian kuburan.

 

Oretan rasa ini hanya sesederhana mengimani sifat Tuhan Yang Maha Bijak

Yang selalu mempersilahkan jemari lain untuk menyubstitusi dengan yang lebih pantas lagi bajik

Sehingga rongga ini tidak lagi mampu rela untuk menampik

Bahwa sejatinya, dengan merasa cukuplah, semua jadi terasa amat jauh lebih baik.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: