Ini Akan Berlalu

Harus begini dulu mungkin alur cerita untuk anak manusia.

Dari yang tak dianggap hingga kiriman tinta fitnah yang tak kunjung mereda.

Satu persatu longlongan singa mengudara

Menyemburatkan untaian sajak  yang sudah dimasak dengan sedemikian rasa.

Aku benci bila hanya menggelantungkan nyawa tanpa berbuat

Aku benci jika selalu menutup lubang kepekikan senja atas nama maklumat.

Entahlah.

Dunia nampaknya sedang kembali bergurau demi sebuah penguatan akar.

Demi sebuah pencapaian makna dari tepi paling mendasar

Ah dunia.

Mengapa kami harus mendiami hari dimana banyak bergelimangan rasa iri dan dengki?

Atas rasa tak puas dengan semua yang telah dimiliki diri

Lalu memulai segalanya dengan pembenaran dari asumsi tak yang tak berisi.

Ah dunia.

Betapa lucu isi kandunganmu

Serasa aku ingin kembali tertidur tanpa terganggu

Atas tinta fitnah dari makhluk yang tak lagi perlu dianggap itu..

.

“Terkadang yang membuat hidup ini begitu terasa seperti lelucon adalah ketika kita dihadapkan pada hal-hal yang tidak masuk akal lagi tidak penting namun tetap juga diizinkan Tuhan untuk terjadi dan diambil sebagai pelajaran. Ah betapa ‘lucu’-nya dunia ini.” Ujar batin Carina sambil menyeka air matanya yang sejak tadi telah mengapung bebas di pelupuk mata runcingnya.

Ia perlahan berjalan keluar area kampus dengan senyuman yang perlahan-lahan mulai bisa memegang peranan untuk mereduksi rasa kesal dan lelahnya yang dalam kurun waktu beberapa tahun ini selalu mengelilinginya.

Carina berjalan dengan langkah pasti ke arah dimana ia bisa menemukan angin semilir yang damai untuk bisa membawa kabur rasa gundah gulana dan muaknya pada hal-hal yang membuatnya jadi sering tertawa sendiri sambil menyeka air mata hangatnya.

Carina masih berjalan dan kini telah menyusuri jalanan setapak yang dimana di kanan kirinya terdapat sebuah hamparan rerumputan sehat dan di ujung kanannya terdapat danau kecil yang biasa banyak dijadikan tempat favorit beberapa orang untuk menyendiri sambil membaca buku atau merenung.

Langkah kaki Carina kini semakin mendekati tempat yang sudah sejak tadi pagi ingin ia tuju. Ia segera mencari alat perangnya, yakni pulpen dan buku tulis harian yang kemana pun dan kapanpun selalu ia bawa setiap harinya.

Sinar matahari sore melewati raut wajah hingga kemeja kusamnya yang beraksen kotak-kotak warna kelabu dan hijau tua. Setelah sampai, ia pun segera meluruskan kakinya yang kurus namun tidak terlalu panjang sambil mencari sandaran nyaman pada batang pohon yang kuat.

Ia duduk terdiam sambil memandangi suasana disekelilingnya. Ia berusaha untuk menikmati apa yang kini menghampiri dan telah menjadi bagian dalam perjalanan hidupnya.

Saat ini, jam digital coklatnya telah menunjukkan waktu 16.21 yang artinya ia cukup tepat waktu dalam memilih suasana nyaman untuk menikmati pergantian alam menuju senja dengan baluran sinar mentari manis yang tidak lagi menyengat mata dan kulit.

Sama-samar ia seperti mendengar ada beberapa orang yang sedang berkumpul dan berdiskusi yang berjarak tak begitu jauh dari tempatnya saat ini. Carina pun segera mencari asal muasal suara tersebut. Setelah matanya tertuju pada tiga orang pria yang sedang berbincang sambil memancing, Carina pun tidak lagi terlalu memedulikan apa yang mereka lakukan.

Carina segera membuka tutup pulpen hitamnya dan telah bersiap untuk menumpahkan segala kata dan kalimat sejak tadi telah membanjiri kepalanya. Namun, yang terjadi justeru suara perbincangan tiga pria tersebut terdengar semakin jelas di telinganya.

“Lalu pak Gobind, bagaimana mengatasi hidup yang terasa berat? Rasanya segala sesuatu yang mau dilakukan itu susah sekali. Apa yang bisa mulai saya lakukan ya?” Tanya seorang pria yang berkaos polo merah.

“Seperti dalam kehidupan fisik ini, bila kita susah berjalan atau melangkah, kita memerlukan bantuan, bisa merupakan tongkat atau papahan orang lain. Namun yang penting diingat adalah bahwa tongkat dan papahan adalah bantuan untuk sementara dimana kita selayaknya tidak tergantung olehnya.” Jawab Pak Gobind sambil menoleh dan tersenyum ramah.

“Seperti halnya anak kecil yang ingin berjalan, orangtuanya membelikan Baby Walker, alat ini tentu tidak boleh digunakan selamanya bukan? Kehidupan ini terasa berat bukan karena kehidupan ini yang berat namun kemampuan kitalah yang terbatas.”

“Setiap hari saya melakukan olaraga dan seminggu sekali saya menganggat barbel sebesar 7,5 kg, beban ini adalah capaian maksimum saya saat ini. Beban ini sangat berat saat ini, tapi kalau mau saya bandingkan dengan belasan tahun lalu, pada saat itu saya mampu mengangkat belasan kilo, mengapa? karena pada saat itu saya lebih sering melatihnya. Demikian pula kehidupan ini, tidak ada cara lain, bila kita ingin membuatnya ringan maka latihan dengan disiplin tinggi adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar.”

“Memang tidak gampang selalu disiplin berada di rel kehidupan ideal yang kita inginkan apalagi ketika tawaran belok kanan dan kiri sangat menggiurkan. Dahulu saya meyakini pribahasa, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. Namun sekarang saya menemukan kalimat yang lebih cocok untuk memompa semangat saya..” jelas Pak Gobind sambil memastikan kalimat yang akan disampaikannya tepat.

There are two types of pain you will go through in life, the pain of discipline and the pain of regret. Discipline weighs ounces while regret weighs tonnes.” – Jim rohn

“Ada dua kepedihan atau pesakitan yang harus kita jalani sepanjang kehidupan ini. Sakit karena disiplin dan sakit karena penyesalan. Disiplin beratnya beberapa ons dan penyesalan beratnya berton-ton.”

“Dalam bahasa lebih sederhana, harga disiplin selalu lebih rendah daripada harga penyesalan. Thomas Henry Huxley dengan sangat baik mengatakan, Mungkin hasil paling berharga dari semua pendidikan adalah kemampuan untuk memaksa dirimu melakukan hal yang harus kamu lakukan, saat hal itu harus dilakukan, baik kamu menyukainya ataupun tidak.”

“Tetap disiplin adalah sesuatu yang harus kita usahakan tanpa henti seperti apa yang di ucapkan Konfusius yang Agung, Orang yang baik memperkuat diri mereka sendiri tanpa henti.

“Buku bagaikan tongkat, teman yang baik atau perkumpulan yang positif seperti halnya papahan. Semua ini adalah cara bagaimana kita terus tetap termotivasi dan bersemangat, namun apakah kita MAU melakukan latihan atau tidak sepenuhnya adalah tergantung dari diri sendiri tepatnya kesadaran diri ini. ABC (Awareness Before Change) Kesadaran adalah pembuka pintu untuk perubahan.

“Ketika saya sadar bahwa hidup ini sangat berarti maka disaat keluhan mampir pada perjalanan hidup, ia tidak punya ruang untuk duduk apalagi menginap. Ketika seseorang sadar bahwa tubuh manusia adalah karunia yang tak terhingga (bayangkan bila saat ini Anda tidak mendapat karunia tubuh manusia) maka ia tidak akan mensia-siakan setiap detik yang berlalu, sebaliknya ia akan merawatnya dengan makanan dan aktivitas terbaik.” Jawab Pak Gobind bijak sambil menarik ulur pancingannya dengan tenang.

“Dan apakah Sadar itu pak?” Tanya seseorang pria yang satunya.

“Teringat di India, beberapa tahun yang lalu sewaktu saya dan Istri bertemu Yongey Mingyur Rimpoche. Ia berkata, Kesadaran itu bagaikan lampu. Mirip seperti masuk ke sebuah rumah mewah dengan perabotan lengkap namun tidak ada sedikitpun cahaya, kesadaran adalah lampu atau lilin yang membuat kita melihat bahwa apa saja yang kita perlukan untuk hidup bermakna dan berbahagia semuanya tersedia didalam.”

Carina tiba-tiba tersenyum lebar usai mencuri dengar perbincangan bermakna sore hari ini. Ia kembali menatap genangan air danau sambil mengarahkan wajahnya ke arah angin bertiup.

Betapa ia selalu suka dengan bagaimana cara Tuhan YME memberikan penjelasan atas segala pertanyaan hidup yang membelenggu benaknya akhir-akhir ini.

Tak lama kemudian suara ponselnya bordering.

“Dimana Cu?” Tanya Gendis, sahabat Carina.

“Ngapah?” seloroh Carina asal sambil menggaruk pipinya yang bentol karena semut rangrang.

“Gpp sih. Pengen ngobrol aja. Ngopi yuk.”

“Males.”

“Hah?”

“…” Carina diam namun masih menempelkan ponsel di telinganya dengan sadar.

Gendis pun berpikir sejenak. “Wah, lagi gesrek nih bocah.” Batinnya. “Elu bae, Cu?”

“Mayan.” Jawab Carina singkat.

“Yodah deh. Besok aja gue ke tempat lo ya.”

“Hmm..” Sahut Carina datar sambil menutup sambungan telepon pada ponsel sentuhnya.”

“Ck! Si benga. Pake acara gesrek lagi, mau gue kenalin laki juga..” ujar Gendis sedikit kecewa.

***

.

Beberapa jam kemudian.

Waktu kini sudah menunjukkan pukul 02.45 dini hari. Namun Carina masih juga asik dengan buku bacaan favoritnya, Sejarah tanah Jerussalem, menurut agama Yahudi, Nasrani dan Islam.

Tiba-tiba saja ia tergelitik untuk mengambil ponsel sentuhnya yang sejak tadi tergeletak tak berdaya di dekat jendela kamar kosnya. Nampaknya ia sedang menunggu sesuatu dari seseorang. Namun saat ia mengecek ponselnya dengan seksama, harapan itu kandas. Tak ada satupun pesan singkat maupun panggilan untuk dirinya sejak seharian bahkan satu minggu terakhir ini. Ia pun kembali menghempaskan ponsel sekaligus badan tipisnya ke atas kasur dan bantal tidurnya yang gepeng.

“Ck! Ini henpon gaguk kali ya. Masa gak ada satupun orang yang nyariin gue?” Umpatnya kesal sambil merapatkan matanya lamat-lamat lalu kemudian berusaha untuk tidur dengan menekan saklar lampu yang tidak terlalu jauh dari jangkauannya.

Namun, karena lengan tangannya kurang panjang, ia pun harus kembali berdiri untuk bisa sukses mematikan lampu kamarnya. Dan taatkala tangannya ingin menekan, matanya justeru tertuju pada sebuah tulisan (coret-coretan) dari kapur yang sering ia gunakan untuk menjadi bahan pengingat dirinya sendiri. Tulisan itu berkata dalam sebuah kalimat berbahasa Ibrani yakni Gam Zeh Ya’avor. Yang dalam bahasa Indonesia pun bermakna sama dengan, Ini Juga Akan Berlalu.

Carina terdiam saat itu juga. Lalu ia pun segera menyambangi lemari buku-nya yang berada di balik punggung badannya. Di sudut kanan atas lemari buku tersebut terpasang sebuah banner yang tidak terlalu besar yang bertuliskan Perpustakaan Moral Ini Budi, yang merupakan kumpulan koleksi buku pribadinya yang sudah ia baca, pilih dan sortir untuk kedepannya akan ia jadikan sebuah proyek sosial di sebuah desa yang akan ia datangi.

Carina pun mengambil sebuah kliping yang telah ia print sendiri dari Perpustakaan Pusat milik Universitas NKRI.

Tanpa menunggu lama, Carina pun segera terhanyut dalam isi tulisan kliping tersebut, yang menceritakan tentang kisah di zaman Nabi Sulaiman as.

Gam Zeh Ya’avor (Ini Juga Akan Berlalu)

Suatu pagi, Sulaiman kecil melihat pandai emas yang bekerja untuk Istana Raja Daud as berjalan keluar dari istana dengan wajah yang terlihat sangat putus asa dan sedih. Dengan penasaran Sulaiman bertanya kepada pandai emas tersebut: “Paman, apa gerangan yang telah membuat Paman merasa begitu sedih dan putus asa?” Pandai emas itu menjawab: “Aku harus memberikan solusi bagi Raja dalam waktu tujuh hari. Jika tidak, maka aku akan dipecat dari pekerjaanku. Aku benar-benar bingung karena tidak ada solusi untuk apa yang telah diminta oleh Raja.”

“Solusi apakah gerangan yang sedang dicari Raja?” tanya Sulaiman penasaran. Sang pandai emas menceritakan kepada Sulaiman apa permintaan sang Raja: “Saya harus membuat cincin emas untuk sang Raja dengan sebuah tulisan di atasnya yang harus membantu sang Raja untuk tidak menjadi terlalu bahagia sehingga melupakan kebenaran Ilahi pada saat-saat bahagia tersebut. Pada saat yang sama, tulisan itu harus membantunya untuk tidak terlalu berduka ketika ia menghadapi kegagalan dan keputusasaan.”

Maka, spontan saja Sulaiman mengusulkan kata apa yang harus dituliskan di atas cincin itu: “Paman, tuliskan saja ‘Ini juga akan berlalu’.”

*

Sulaiman as adalah anak putra Daud as dan Raja Yudea. Ketika Tuhan tampil di hadapannya dan bertanya apa yang dia inginkan, Sulaiman as tidak meminta kekayaan atau kekuasaan. Sebaliknya, Sulaiman as meminta kebijaksanaan untuk menilai antara yang baik dan yang buruk, maka Tuhan memberikan apa yang diinginkannya.

Segera setelah menyebar ke seluruh dunia bahwa Sulaiman as adalah yang paling bijaksana dari semua Raja di dunia dan hingga seterusnya, maka Raja Mesir datang untuk mengujinya. Sang Raja mengajukan teka-teki sederhana kepada Sulaiman as, dan jika dia bisa menjawabnya, maka Raja Mesir akan mengganjarnya dengan kekayaan melimpah ruah dan yang paling penting adalah putrinya untuk dinikahi. Teka-teki itu adalah sebagai berikut:

“Apa yang bisa Anda katakan kepada seorang manusia yang tengah berbahagia untuk membuatnya bersedih hati yang juga akan membuat manusia yang tengah bersedih hati menjadi bahagia?”

Sulaiman as berpikir sesaat dan menjawab: “Gam Zeh Ya’avor” (Ini Juga Akan Berlalu).

*

Suatu hari Sulaiman as memutuskan untuk menjahili Benaiah bin Yehoyada, menteri yang paling dipercayainya. Sulaiman as berkata kepadanya, “Benaiah, ada cincin tertentu yang kuingin Anda bawakan untukku. Aku ingin memakainya saat Sukkot, berarti ada waktu bagi Anda sekitar enam bulan untuk menemukannya.”

“Jika cincin itu ada di suatu tempat di bumi ini, Yang Mulia,” jawab Benaiah, “Maka aku akan menemukannya dan membawakannya untuk Anda, tapi apa yang membuat cincin itu begitu istimewa?”

“Cincin ini memiliki kekuatan ajaib,” jawab Raja. “Jika seorang manusia yang tengah berbahagia melihat cincin itu, maka ia akan menjadi sedih, dan jika seorang manusia yang tengah bersedih hati melihat cincin itu, maka ia akan menjadi bahagia.” Sulaiman as tahu bahwa cincin semacam itu tidak ada di dunia ini, tetapi ia ingin memberikan kepada menteri itu sedikit rasa kerendahan hati.

Musim semi berlalu dan berganti musim panas, dan Benaiah masih tidak tahu di mana ia bisa menemukan cincin tersebut. Pada malam sebelum Sukkot, dia memutuskan untuk berjalan-jalan di salah satu pemukiman miskin di Yerusalem. Ia melewati seorang pedagang yang sudah mulai bersiap di hari itu dengan barang-barang dagangannya di atas karpet lusuh. “Apakah Anda kebetulan pernah mendengar sebuah cincin ajaib yang membuat pemakainya akan melupakan suka citanya serta pemakainya yang tengah patah hati akan melupakan kesedihannya?” tanya Benaiah.

Dia melihat kakek tersebut mengambil cincin emas polos dari karpetnya dan mengukir sesuatu di atasnya. Ketika Benaiah membaca kata-kata di atas cincin tersebut, senyum lebar pun mengembang di wajahnya.

Malam itu seluruh kota dalam menyambut liburan Sukkot dengan pesta besar. “Nah, temanku,” kata Sulaiman as, “Apakah Engkau telah menemukan apa yang menjadi alasanku mengutusmu?” Semua menteri tertawa dan Sulaiman as sendiri tersenyum.

Untuk mengejutkan semua orang, Benaiah mengangkat sebuah cincin emas kecil dan berkata, “Ini dia, Yang Mulia!” Begitu Sulaiman as membaca tulisan di atas cincin itu, senyum pun hilang dari wajahnya. Sang pedagang telah menuliskan tiga kata Ibrani pada cincin emas itu: Gimel, zayin, yud, yang membentuk kata Gam Zeh Ya’avor” (Ini Juga Akan Berlalu)

Pada saat itu, Sulaiman as menyadari bahwa semua kebijaksanaan dan kekayaannya yang melimpah ruah serta kekuasaannya yang besar itu hanyalah sementara, karena suatu hari nanti ia sendiri tidak akan menjadi apa-apa selain debu.

‎”Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu,
dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.
Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
(QS Al-Hadid [57]: 23)

Usai membaca kembali kliping tersebut, Carina pun segera tersadar bahwa waktu sudah menujukkan pukul 03.20 sehingga ia harus secepatnya memejamkan matanya. Namun lagi-lagi mata dan alam sadarnya sama sekali belum bersedia untuk beristirahat sehingga ia pun memutuskan diri untuk membuat kopi saja sehingga ia masih memiliki waktu untuk menjalankan kebutuhan paginya, yakni menjalankan ritual agamanya. Shalat Subuh.

love life academy - episode 2

.

.

Seringnya saat kita belum benar-benar paham dengan apa yang sebenarnya terjadi,

Kita lantas sudah langsung berlari kesana kemari,

Menyalahkan pihak si itu dan si ini

Lalu menggerutu tak kunjung henti,

Padahal yang sebenarnya perlu dilakukan hanya sesederhana bercermin diri,

Sebagai bentuk evaluasi tiada henti.

.

Carina Nebula Faroditta.

(1) Comment

  • Anita yulia purnomo June 22, 2017 @ 11:23 am

    Pemakaian kata” yg bagus disetiap sudut kalimat dan selalu meluas ke berbagai bahasa yg udh lo kuasai itu jd kenikmatan tersendiri bagi pembaca. Salutttt sama lo na bisa bikin karya seperti ini. Terus berkarya ya na, selalu jd manusia yg rendah hati supaya bisa terus menuangkan apa saja kemampuan lo dalam berkarya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: