Media rasa yang termangu dalam gurat sapa

Pada inti cerita yang amat jauh dari kolam prasangka

Kemudian situasi genting menyeruak dengan santainya

Dan meluluh lantahkan tembok serta gembok yang selama ini membingkai sudut takdirnya.

Ada keengganan untuk menelan ragam syak wasangka

Dari berbagai sudut gelas yang akhir-akhir ini menjadi media tumpahan gulananya

Ia malas memasukannya pada inti gelas cerita

Karena sudah runcing ia putuskan untuk tak lagi menerka Jalan Tuhan  dengan ketidakpahaman alur yang sengaja Tuhan sediakan untuknya

Medium yang kini lara

Namun terkadang rasa pada inti gelasnya tak menunjukkan vibrasi yang sama

Lantas, apa kemudian hal itu layak disapa kata: menikmati rasa?

Aku tak sepakat terhadapnya.

Karena mangu ini ada dan tetap pada derajat porsinya.

Kata seorang teman, mungkin sudah saatnya inti gelas mencecap aroma rasa yang berimplikasi pada senyum penuntas dahaga

Namun, lagi-lagi berat rasanya untuk menganggukkan kepala atas tindak tanduk asumsi yang belum jelas validasinya

Biarkan saja semua datang dan pergi sesuai porsi dan ketentuan-Nya

Akibat taubat yang sudah bulat, untuk tak lagi pernah mencampuri kehendak Sang Pencipta atas apapun yang menghiasi perjalanan menuju waktu kembalinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Gurat Mangu.
%d bloggers like this: